Kisah Misteri "Mengungkap Dibalik Kejernihan Empang"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah misterius ini dituliskan oleh Gian Permana dengan judul "mengungkap misteri di balik kejernihan empang". Dalam kisah mistis ini ia seolah membuktikan tentang pengungkapan tradisi yang kurang baik.

Begini, Kisahnya...

Kampung nan damai, tak sepadan bila disuguhi kisah menggemparkan di balik selingkar empang. Tradisi nenek moyang terdahulu masih melekat di mata para warga, dimana setiap hari harus ada minimal 1000 umpan ikan yang merajai empang.

Sudah menjadi kebiasaan warga setempat bilamana setiap hari mereka harus mengobarkan segumpal keringat untuk mengumpulkan umpan ikan. Tatkala ada warga yang ingin meninggalkan kampung, mereka harus merelakan salah seorang anggota keluarganya untuk dijadikan tumbal. Belum pernah terjadi cerita menyeramkan di kampung nan damai itu, karena semua warganya patuh menjalankan tradisi.

Tak satupun warga yang berani mencoba menyelaraskan penderitaannya dengan kehidupan yang selayaknya, kehidupan yang semestinya mereka terima. Mereka rela bergotong – royong mengumpulkan 1000 umpan ikan setiap hari demi terselenggaranya kehidupan berbasis tradisi.

Pagi ini, para warga mulai melangkahkan kaki, membuka lembaran baru dalam rangka mengumpulkan 1000 umpan ikan. Ada yang mencangkul lahan untuk mendapatkan cacing, ada yang mencari ulat di sebalik gulungan daun pisang, ada yang mencari keong di sawah, dan ada yang menyatukan umpan - umpan itu di sekitar empang.

”Coba saja kalau ada pasar, kita tidak akan kerepotan seperti ini,” gumam salah seorang warga. 

Meski keluhan menyelimuti aktivitas mereka, semangat pantang mundur mereka gelorakan sebelum 1000 umpan ikan terkumpul menjadi satu. Bila umpan – umpan ikan telah terkumpul menjadi satu sejumlah 1000, maka ada salah seorang warga yang memberi instruksi.

Siang hari, tatkala terik memanaskan jiwa dan raga, ada sosok pemuda tak dikenal berbondong – bondong membawa barang bawaannya.

“Sepertinya dia pendatang baru,” ujar salah seorang warga.
“Dari arah mana dia masuk? Padahal, kampung ini sangat jauh dari perkotaan...” ucap warga lain.
Keheranan muncul dalam benak pemuda itu. Kemudian, ia bertanya, “Maaf, pak. Maaf, bu. Saya David. Kalau boleh tahu, ini daerah mana, ya?”
“Ini kampung kami, kampung bernuansa tradisi. Bila kamu sudah menginjakkan kaki di sini, kamu tidak akan bisa kembali,” jawab warga tadi.
“Bagaimana bisa?” tanya David.
“Sudah jangan banyak tanya, nanti saya jelaskan. Kamu ikut saya ke rumah, setelah itu bantu kami bekerja!” ucap orang itu lagi sembari menyeret David.

David pun terpaksa mengikuti pak Ali, orang yang menyeretnya tadi. Kebetulan, rumah pak Ali melewati empang yang dianggap keramat oleh warga setempat. Kesan baik melapisi otak David tatkala melihat empang keramat itu.

“Empang ini jernih sekali...” ujar David.
“Kenapa banyak sekali hewan menjijikkan di sekitar empang? Dan kenapa hewan–hewan itu dihitung dan ditata dengan sebaik–baiknya?” tanya David penuh keheranan.

Pak Ali yang mendengar ucapan David pun menanggapi dan menjelaskan semuanya mengenai kampung itu. Rasa tidak percaya mucul dari seorang David, tetapi ia menyembunyikan rasa ketidakpercayaannya itu.

Sesampainya di rumah pak Ali, David meletakkan barang bawaannya, kemudian mengikuti pak Ali mengumpulkan umpan ikan. Dipegangnya sebuah cangkul yang siap untuk diperkerjakan. Ia mencangkul lahan untuk mengumpulkan cacing. Meskipun ia tengah mencangkul, dalam benaknya tersimpan bermacam–macam rasa yang tidak wajar.

“Apa manfaat memberi umpan pada makhluk mati?” ucapnya dalam hati sembari mencangkul lahan.
Tiba–tiba, terlintas secarik pemikiran dalam otak David. Ia meletakkan cangkul dan bergegas pergi meninggalkan lahan, hingga akhirnya sampai di suatu tempat, empang keramat.

“Wahai, empang keramat!” seru David menghadap ke arah empang.
“WuuzzZZz!!”

Hembusan angin mewarnai keheningan sejenak, tak ada balasan dari empang yang dianggap keramat itu. Warga yang tengah menghitung jumlah umpan ikan di sekitar empang terkejut dan heran melihat tingkah David.

“Hei! Jangan bodoh, nanti kamu ditelan empang keramat!” ujar salah seorang warga yang tengah menghitung umpan ikan.

David melongo, tak kuasa menjadi raja di kampung itu. Ia meminta maaf kepada warga yang ada di sekitar empang, kemudian pergi.

“Saya sempat melihat plang di dekat empang, tetapi saya lupa isinya apa...” ucap David dalam perjalanannya yang entah ke arah mana.

Sembari berjalan, ia terus mengingat–ingat apa bunyi tulisan pada plang itu. Tanpa disadari, David menabrak pak Ali.

“Aduuhhh!” teriaknya.
“David, dari mana kamu?” tanya pak Ali.

David menjelaskan apa yang ia lakukan dan bertanya mengenai tulisan pada plang di dekat empang itu. Ternyata, bunyi plang itu “DILARANG MANDI DI EMPANG, BERBAHAYA!!”

“Terima kasih, pak.” Ucap David sembari berlari meninggalkan pak Ali.

Ia memutuskan untuk kembali ke rumah pak Ali dan beristirahat. Ia merencanakan sebuah strategi untuk mengungkap misteri empang keramat esok hari.

Sementara itu, para warga tengah bersiap–siap meleburkan umpan ikan ke dalam empang keramat. Sebelum membuang umpan–umpan tiu, para warga mengucapkan sandi empang secara bersamaan, sandi yang diyakini sebagai kunci keselamatan warga setempat.

“Wong e sopo wong e iko, wong wong iko jaluko upo. Wes e wes e wes, Bless!”

Setelah sandi empang terucap, umpan–umpan ikan siap dileburkan ke dalam empang keramat. Berakhirlah ritual empang hari ini. Para warga kampung bergegas pulang mempersiapkan ritual empang esok hari.

Keesokan harinya, tatkala sang fajar belum menebarkan kehangatannya, David terbangun dan kemudian mendatangi empang keramat. Pak Ali mengintip aktivitas David, memantaunya, dan mengikuti jejaknya secara diam – diam.

“Pagi sekali anak itu bangun,” ujar pak Ali lirih.

Sesampainya di empang, David menoleh ke kanan, kiri, depan, dan belakangnya, siapa tahu ada makhluk yang membuntutinya. Pak Ali yang sergap berhasil bersembunyi di balik semak, sehingga tak terlihat oleh David. Tiba – tiba...

“Byuurrr!”

David melompat ke dalam empang. Pak Ali setengah terkejut melihat kejadian itu. Mendekatlah pak Ali ke arah empang.

“Kemana anak itu? Apakah empang ini menelannya?” tanya pak Ali penuh keheranan.

Beliau merasa cukup iba melihat kepergian David, karena David sudah beliau anggap sebagai bagian dari keluarganya. Beliau memutuskan untuk duduk sejenak di dekat empang.

Selang beberapa lama, terdengar teriakan di dalam air. Pak Ali pun bergegas melihat ke arah empang. Tak disangka, David berhasil lolos menaklukan empang. David tersenyum, kemudian mengentaskan diri dari empang.

“David?’ seru pak Ali bahagia.
“Betul, pak. Tolong panggilkan warga sekampun untuk berkumpul di sekitar empang!” ucap David sembari mengembalikan napasnya yang cukup terkuras.

Tanpa pikir panjang, pak Ali langsung mengumpulkan seluruh warga di sekitar empang. Para warga merasa heran akan panggilan pak Ali. Begitu melihat David basah kuyup, para warga tercengang.

“Ada apa dengan anak itu?” tanya salah seorang warga.
“Bapak–ibu sekalian, ada yang perlu saya sampaikan,” seru David.
“Saya telah memasuki wilayah empang ini. Airnya sangat jernih dan bila dipandang dari atas terlihat dangkal. Namun, perkiraan itu tidak sesuai dengan yang senyatanya. Empang ini sangatlah dalam. Pada empang bagian bawah, terdapat tumpukan umpan–umpan ikan yang cukup tinggi. Mungkin karena tak ada ikan di sini dan sudah lama sekali para warga sekalian menjalankan tradisi itu. Perlu kita semua ketahui, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dari empang ini,” jelas David panjang lebar.

“Lantas, apa yang membuat empang ini selalu jernih? Padahal, setiap hari kita membuang kotoran di sini,” tanya salah seorang warga.
“Itu karena kotoran yang dibuang jatuh ke dalam empang bagian bawah. Sehingga, empang bagian atas terlihat jernih. Mungkin saat proses pembuangan terlihat kotor beberapa saat, tetapi setelah itu air akan jernih kembali,” jawab David.

Mendengar hal itu, para warga menyongsong kebahagiaan di sekitar empang.

Tahukah kamu? Dalam cerita tersebut, kampung menggambarkan struktur mata. Empang keramat itu menggambarkan bola mata, sedangkan para warga dan pendatang baru merupakan penggambaran dari debu/kototan yang masuk ke mata. Kita belajar bagaimana debu/kotoran yang masuk ke mata memang sulit sekali keluar dari mata. Debu/kotoran itu akan semakin banyak bila tidak segera dibersihkan.

Tradisi yang baik, harus kita pertahankan. Bila terdapat tradisi yang dianggap kurang baik, untuk apa kita pertahankan?.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Misteri "Mengungkap Dibalik Kejernihan Empang""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel