Kisah Nyata: Aku "Pemeran Utama" dalam Hidupku

KisahTerbaik.Com- Rangkaian stori nyata ini ditulsikan dengan judul Aku “Pemeran Utama” dalam Hidupku oleh Upit Ratnasari. Dalam cerita ini ia membagikan segenap pengalaman hidup yang bisa menjadi inspirasi bagi segenap pembaca.

Begini, Kisahnya...

Kita adalah “pemeran utama” dalam kehidupan kita sendiri. Penulis skenarionya adalah Tuhan. Orang lain diberi skenario yang berbeda dengan kita, namun adapula yang sama. Dengan skenario yang berbeda, kisah yang kita alami pun akan berbeda.

Kisah hidupku berbeda dengan kisah hidupmu. Yang aku tahu setiap kisah mengandung hikmahnya
tersendiri. Banyak kisah yang ku alami, bahagia, sedih, terjatuh, sampai aku bangkit dan
semangat kembali.

Ada pepatah mengatakan habis gelap terbitlah terang. Setelah mengalami masa sulit, kita akan merasakan kebahagiaan. Setelah berjuang dengan segala tenaga dan waktu, kita akan meraih kesuksesan.

Saat kelas tiga SMP, aku dan teman-teman sering membicarakan SMA impian masing- masing. Aku sangat berharap bisa melanjutkan sekolah di SMA pilihanku, salah satu SMA favorit di daerahku. Namun, karena alasan ekonomi aku tidak dapat sekolah di SMA tersebut, akupun akhirnya sekolah di SMA pilihan orangtuaku, sesuai kemampuan mereka membiayai sekolahku. Jujur aku sedikit kecewa, namun aku juga tidak mungkin memaksakan keinginanku jika memang orangtuaku merasa tidak mampu.

Duduk di bangku SMA, aku semakin rajin belajar. Aku berharap kelak dapat masuk Universitas impianku, salah satu universitas favorit di Jakarta. Aku tidak ingin kejadian dulu terulang kembali, tidak dapat sekolah di sekolah impian karena alasan ekonomi, aku ingin kuliah dengan mendapat beasiswa.

Semenjak SMA, aku bukan hanya semakin giat belajar, tetapi juga semakin giat beribadah, lebih dekat dengan Allah Swt. Sampai akhirnya, saat aku kelas dua SMA aku mendapat beasiswa dari Yayasan Peradaban. Bukan hanya bantuan ekonomi yang aku dapatkan dari yayasan tersebut, aku juga mendapat banyak ilmu dan motivasi.

Ketika ingin meraih hal yang besar, maka kita harus melakukan hal yang besar pula. Ketika aku ingin mencapai impianku, aku harus bekerja keras untuk mencapainya. Di Yayasan tersebut aku juga diajarkan wirausaha, aku pun mulai berjualan di sekolah, awalnya memang sedikit malu tapi lama kelamaan semakin terbiasa.

Senang rasanya bisa mendapatkan uang dari hasil berjualan, uangnya pun aku gunakan untuk membayar iuran SPP sekolah, sedikit meringankan beban orangtua.

Setelah tiga tahun menuntut ilmu, akhirnya aku dinyatakan lulus dari SMA, aku pun mendaftar di Universitas pilihanku. Pertama, aku daftar melalui jalur undangan atau yang kita kenal dengan SNMPTN. Aku dinyatakan tidak lolos. Selanjutnya, aku daftar melalui jalur SBMPTN dan lagi-lagi aku gagal. Akhirnya aku mengikuti ujian mandiri dan dinyatakan lolos.

Setelah dinyatakan lolos di universitas pilihanku, masih ada tantangan besar yang ku hadapi. Aku memang dinyatakan lolos sebagai salah satu mahasiswa, namun beasiswaku tidak lolos, dan aku harus membayar dengan jumlah yang tidak sedikit. Keluargaku menyarankan untuk tidak kuliah saja mengingat biayanya yang besar, kuliah bukanlah waktu sebentar, butuh waktu 4 tahun untuk lulus.

Dengan kerja keras yang sudah aku lakukan, aku tidak mungkin menyerah begitu saja. Sudah belajar sampai begadang, banyak mengikuti tes, dan akhirnya berhasil, aku harus melepaskannya karena satu alasan. Sungguh tidak rela.

Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi pihak kampus, datang ke kampus untuk meminta keringanan biaya, sampai akhirnya permintaanku diterima. Sangat bersyukur rasanya, walau tidak dengan beasiswa tetapi biaya kuliahku diringankan sesuai kemampuan orangtuaku, sehingga aku bisa kuliah dengan baik.

Benar memang, hasil tidak akan menghianati usaha. Teruslah berjuang dan berdoa, biarkan Allah yang menentukan hasilnya. Terima saja apa yang telah Allah berikan kepadamu dengan ikhlas, yakinlah Allah tau yang terbaik untukmu.

Setelah satu bulan resmi menjadi mahasiswa dan sudah mulai kegiatan perkuliahan, pihak kampus menghubungiku dan menyatakan bahwa beasiswaku diterima, bahkan uang yang sudah aku bayarkan pun dikembalikan oleh pihak kampus.

Sungguh aku sangat bersyukur.

Awalnya dinyatakan tidak lolos namun secara tiba-tiba aku mendapatkan kabar baik bahwa aku dinyatakan lolos. Semangatku untuk belajar semakin besar. Menurutku, kuliah dengan beasiswa memiliki tantangan tersendiri.

Aku harus melakukan hal lebih dari yang dilakukan mahasiswa lain. Membuatku semakin semangat untuk mengukir prestasi. Kisahku mungkin sama dengan kisahmu, kisahku banyak dialami oleh orang banyak.

Banyak orang yang mendapat beasiswa, bahkan lebih dari aku. Disini aku ingin menyampaikan kepada banyak orang, terutama mereka yang tinggal di desa, jauh dari perkotaan. Tidak seperti di kota, di desa sangat sedikit remaja yang melanjutkan kuliah, alasan ekonomi dan larangan orangtua menjadi penyebab utama mereka tidak melanjutkan pendidikannya, dan hal itu disebabkan karena kurangnya informasi.

Alasan orangtua melarang anaknya melanjutkan kuliah adalah karena tidak mampu membiayainya, padahal banyak sekali beasiswa jika mereka mau berusaha untuk mendapatkannya. Sebagian orangtua di desa juga melarang anaknya untuk kuliah karena mereka tidak ingin anaknya pergi jauh dari desa, mereka berpikir lebih baik hidup miskin yang terpenting anak tetap berkumpul di rumah.

Jadi yang harus dilakukan kita adalah belajar dengan sungguh-sungguh, berusaha untuk mendapatkan beasiswa, dan memberikan informasi kepada orangtua bahwa uang bukanlah alasan untuk berhenti mencapai sukses.

Sampaikan pada orangtuamu bahwa kamu ingin mengubah nasib keluargamu, salah satu jalannya adalah dengan melanjutkan pendidikanmu. Yakinkan orangtuamu bahwa kamu akan sukses. Kamu pemeran utama dalam hidupmu, kamulah yang dapat mengubah kisah hidupmu. Itulah sedikit kisahku, semoga menginspirasi dirimu.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata: Aku "Pemeran Utama" dalam Hidupku"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel