Kisah Nyata "Arti Suatu Larangan"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah nyata ini dituliskan oleh Mutiara Syaharani Hapsari dengan judul "Arti Suatu Larangan". Dalam ceritanya ia menuliskan sejumlah pengalaman hidup yang inspiratif bagi pembaca.

Begini, Kisahnya...

Terkadang aku berpikir, aku adalah anak yang paling sedih dan paling terkekang. Aku sudah dibatasi sejak kecil, bahkan dalam beberapa hal yang temanku bebas melakukannya. Contoh kecil saja, sejak dahulu aku selalu dibatasi saat menonton kartun di televisi.

Beranjak SMP aku hampir tidak boleh keluar rumah ketika tidak kegiatan sekolah. Aku merasa bosan karena harus di rumah dan belajar. Menonton televisi dan memandang handphone terus-terusan tidak menjamin aku betah di rumah.

Disaat temanku bermain dan berkumpul, aku selalu absen karena tidak diberi ijin. Temanku mengunggah foto bersama, aku tidak berada di dalam frame itu. Aku pernah dikucilkan karena tidak pernah ikut ketika sedang berkumpul.

Seringkali, aku malu dan menghindar ketika melihat gerombolan. Sampai aku merasa kehilangan semua kebahagiaan dan memilih berkutat dengan pelajaran yang membosankan.

Waktu berlalu begitu saja. Satu tahun yang lalu aku beranjak SMA. Kata orang, SMA adalah masa yang paling indah. Namun bagiku tidak, sebelum keadaan itu perlahan berubah. Aku bahkan tidak diperbolehkan naik sepedah motor sendiri. Padahal aku tidak ingin merepotkan.

Karena nyatanya aku terus-terusan diantar-jemput ketika berangkat dan pulang. Aku merasa dikekang dan tak diperbolehkan melakukan apa yang aku inginkan. Kala itu, aku selalu nebeng teman ketika berangkat sekolah dan ketika pulang, menunggu lama karena harus menunggu adik sekalian berangkat les.

Atau kalau tidak begitu, harus nebeng ke teman lain yang terkadang jam pulangnya berbeda. Sebenarnya, aku hanya ingin berangkat dan pulang tepat waktu, karena jam sekolah juga padat dan terkadang tak menentu.

Membuat lelah saja, tapi memang wajarnya begitu. Kegiatan dadakan, pulang pagi, kerja kelompok, ekstra dan lainnya. Lama-lama aku memberontak. Menginginkan kebebasan.

Setelah beradu argumen, akhirnya aku mendapatkan izin mereka. Aku ingat sekali, janjiku waktu itu. Aku tidak akan keterlaluan karena aku merasa bisa mengatur dan memikirkan segalanya. Bebas bagiku adalah ketika menikmati masa remaja dengan berkumpul bersama teman-teman.

Hal yang tidak aku dapatkan dari dulu. Tapi kini, aku sadar dan menyesal. Aku adalah anak yang tanpa aturan. Pulang pergi kerumah teman tanpa ada batasan. Membeli banyak barang hingga nongki, itu semua menghabiskan uang. Jika tak ada tambahan atau les, pulang sekolah aku mampir ke rumah teman.

Berbincang hingga menjelang senja,aku merasa bahagia. Libur sekolah, aku sering tak dirumah. Aku mencari kesibukan diluar. Terkadang aku memang membutuhkan teman untuk bersenang-senang, tapi ini keterlaluan.

Aku jadi merasa mengecewakan. Aku merasa begitu, walau tugas sekolah masih bisa kukerjakan dan peringkat sekolah juga lumayan. Semakin kemari, aku mulai berpikir terkadang hal ini itu tak ada gunanya.

Seharusnya bisa kupergunakan untuk hal bermanfaat, malah kubuang dengan cuma-cuma. Aku mengerti, semua yang dilakukan orang tua tidak mungkin jika tidak ada tujuan. Mereka tidak ingin anak perempuannya melewatkan masa mudanya dengan hal yang begitu tidak menjamin masa depan. Aku beruntung, masih bisa sadar.

Aku akan berusaha membatasi dan memperbaiki sifatku lagi, sehingga aku menjadi manusia yang bermanfaat yang dikenal dengan kebaikan hati.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

16 Responses to "Kisah Nyata "Arti Suatu Larangan""

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel