Kisah Nyata "Ayah Pergi dan Ayam Goreng Kesukaanku"

KisahTerbaik.Com- Stori nyata ini dituliskan oleh Faridah Nur Azizah dengan judul "Ayah Pergi dan Ayam Goreng Kesukaanku". Dalam kisahnya ia membagikan berbagai kenangan dalam hidup yang bisa menjadi inspirasi segenap pembaca.

Begini, Kisahnya...

Sejak kecil aku sudah yatim. Adikku bahkan dilahirkan sebagai yatim. Hari itu adalah awal dari perubahan kehidupan keluargaku. Dulu aku hidup serba berkecukupan. Apapun yang kami butuhkan selalu terpenuhi.

Saat kecil kupikir yang paling kubutuhkan hanyalah makan dengan ayam goreng. Aku sangat menyukai ayam goreng dan hampir setiap hari aku memakannya. Aku menjadi anak yang egois dan kurang menghargai sesuatu yang kumiliki. Aku sempat membenci ibuku sendiri karena di mataku ibu hanya selalu marah-marah dan hanya menyayangi kakakku.

Sejak ayahku meninggal, kehidupan kami berubah. Tidak ada yang bersedia memenuhi seluruh kebutuhan kami, termasuk kebutuhanku yang penikmat ayam goreng ini. Ibuku yang asalnya hanya sebagai ibu rumah tangga, sekarang juga tetap sebagai ibu rumah tangga dengan pekerjaan tambahan yaitu bekerja serabutan.

Apapun yang ia pikir akan menghasilkan uang, itulah yang ia kerjakan. Aku merasa kepergian ayah seperti membuka mataku yang selama ini tertutup. Aku sebelumnya hanya melihat ayah, ayah, ayah karena hanya ayah yang selalu memenuhi permintaanku.

Sekarang aku tidak bisa melihat ayah dan hanya bisa melihat ibu di hadapanku. Ternyata yang hanya bisa kulihat pada diri ibu hanyalah: pengorbanan, pengorbanan, pengorbanan, perjuangan, perjuangan, perjuangan!

Mungkin ibu menjadi orang yang suka marah-marah karena ia tidak ingin aku menjadi anak yang lemah. Hidup ibuku dari dulu penuh dengan perjuangan dan aku baru bisa jelas melihatnya sekarang ketika ayah pergi dan ibu harus merangkap peran menjadi seorang ibu sekaligus seorang ayah bagi 4 anaknya.

Aku mendadak tahu diri untuk tidak selalu meminta makan dengan ayam goreng. Bahkan seiring berjalannya waktu, kami hanya makan ayam goreng setahun sekali ketika lebaran. Ah, tidak setahun sekali juga sih.

Seringkali ada sebuah nasi kotak dengan ayam goreng yang diberikan tetangga yang mengadakan hajatan dan kami memakannya bersama. Ya, semenjak ayah pergi, kami terbiasa makan bersama (berlima) dalam satu piring.

Tidak hanya piringnya saja yang satu bersama, tapi ayam goreng yang memang hanya satu juga kami bagi untuk lima orang anggota keluarga kami. Hal itu membuat aku dan keluarga menjadi semakin dekat.

Dulu makan ayam goreng adalah hal biasa, tapi semenjak ayah pergi ayam goreng menjadi hal yang sangat luar biasa. Sampai suatu hari saudaraku datang dari jauh dan membawakan ayam goreng untuk keluargaku.

Ia membagikan ayam goreng itu kepada kami dan kami memiliki jatah masing-masing satu! Aku merasa sangat bahagia. Rasanya ingin sujud syukur ketika bisa menikmati ayam goreng sendirian saja. Kalau ayah masih ada, mungkin aku tidak pernah mengenal rasa syukur sekadar dari sebuah ayam goreng.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "Kisah Nyata "Ayah Pergi dan Ayam Goreng Kesukaanku""

  1. Sama kayak upin ipin suka makan ayam goreng. Mereka juga sama yatim hmm. Bersyukurlah kalian yg papah mamah nya masih ada dan setiap hari makan ayam goreng:)

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel