Kisah Nyata "Bapakku Pesantrenku"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan tentang kisah nyata ini ditulsikan oleh Siti Nurul Wahdatun Nafiah dengan judul "Bapakku Pesantrenku". Dalam stori ini ia membagikan sejumlah pengalaman berharga yang di dapatkan dari orangtuanya.

Begini, Kisahnya...

Awalnya saya tak menyangka, saya akan mengenyam pendidikan di sebuah pesantren di jawa timur. Tepatnya pesantren yang saya tempati sangatlah bagus sistemnya dan di dalamnya saya merasakan apa itu ilmu yang sesungguhnya yang sangatlah penting di kehidupan di masyarakat. Dan itu semua berkat Bapakku.

Saya hanyalah gadis desa yang sangat awam dengan kehidupan yang ada di jawa, begitu juga dengan ilmu pengetahuannya. Saya tinggal di daerah terpencil di pulau sumatra bagian selatan.

Sebelum berangkat ke pesantren tepatnya setelah Ujian Nasional (UN) saya berfikir dan bertanya-tanya dengan diri sendiri "mau kemana setelah ini? mau belajar dimana? Apa mau kerja langsung? tapi bisa kerja apa saya?".

Bingung, galau pusing itu lah kondisi yang saya alami saat itu maklum saja di usia saya yang menginjak remaja belum bisa mengontrol emosi yang menggebu-gebu dalam jiwa dan masih membutuhkan bimbingan dari orang tua.

Tiba-tiba saya mendengarkan percakapan kedua orang tua saya bahwasannya saya akan di masukkan ke sebuah pesantren yang ada di jawa timur, awalnya saya kaget mau di sekolahkan di pesantren yang sangat jauh dari rumah dan dari situ saya bertanya-tanya bagaimana? nanti nindy tidur nya terus kalau kelaperan bagaimana? kalau sakit kepala bagaimana pak bu? Pertanyaan itu yang saya tanyakan kepada orang tua saya.

Tentunya kedua orang tua saya menjelaskan dengan penuh keyakinan bahwasannya di pesantren itu tidak seburuk atau pun sesangsara yang kamu bayangkan nak. Karena bapak di sarankan oleh seorang tokok agama didesa, karena melihat tingkah laku remaja yang didesa semakin tahun semakin tidak berradab.

Itulah bapak kenapa memasukkan saya ke pesantren agar di kemudian hari saya mengetahui apa itu tata karma, adab sopan santun, maupun ilmu yang bermanfaat serta untuk belajar mandiri. Itu lah penjelasan singkat dari bapak dan ibu.

Tepat pada bulan juli 2012 saya dan bapak berangkat pesantren tersebut, sebelumnya saya dan bapak tidak tahu mau tanya kepada siapa bagaimana cara masuk ke pesantren tersebut dan persyaratannya pun saya dan bapak tidak tahu.

Maklum saja kami hanyalah orang desa yang belum mengetahui bagaimana kondisi sekolah pesantren di jawa. Selang berapa hari saya mendaftarkan diri kepesantren tersebut dan ternyata salah satu ustadzah menyatakan bahwa santri baru harus langsung tinggal di pesantren sedangkan nindy belum bawa baju maupun peralatan yang di butuhkan.

Langsung saat itulah bapak yang menemani membelikan semua peralatan dan dari situ saya melihat keseriusan bapak memasukkan nindy ke pesantren ternyata cita-cita bapak sangatlah tinggi agar anak perempuannya terjaga dan dapat mengetahui ilmu agama secara keseluruhannya.

Seminggu telah saya jalani di pesantren tapi saya pun belum merasa betah di pesantren dan bapak masih menunggu di ruang tamu dikarenakan tangisan saya setiap hari yang membuat bapak masih menetap di pesantren.

Setiap istirahat sekolah saya langsung lari menemui bapak di ruang tamu sambil membawa buku pelajaran yang sudah di pelajari di jam pertama dan bapak pasti melihatnya. Dan bapak langsung spontan bilang “Man Jadda Wa Jadda" artinya barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat” ini pelajaran apa nak? Bapak bertanya. Itu pelajaran mahfudzot bapak.

Nah nak, coba resapi baik-baik artinya kalau kamu benar-benar bersungguh-sungguh ingin mengenyam ilmu agama maka dari itu kamu harus bersungguh-sungguh gak boleh nangis lagi gak boleh bilang belum betah nak, namanya juga berjuang gak boleh putus asa jadilah pejuang tangguh dan kalau berjuang jangan sambil bercanda.

Kalau kamu belum betah sehari di pesantren coba satu minggu dan sampai saat ini sudah satu minggu masih belum betah coba satu bulan, dan satu bulan masih belum betah cobalah satu tahun dan seterusnya ya nak. Kasihan juga ibu sama adek-adekmu bapak tinggal dirumah coba difikirkan ya nak, bapak menjelaskan dengan penuh harapan.

Setelah itu setiap hari selalu berfikir panjang kalau mau sukses berati harus bersungguh-sungguh. Dan tepatnya pada awal bulan agustus 2012 saya pun berniat untuk tidak mau dijenguk lagi oleh bapak sampai yudisium pesantren di laksanakan dan saya pun menjadi salah satu peserta yudisium itu.

Mendengar pernyataanku tersebut akhirnya bapak langsung bangga denganku dan langsung bilang “kamu harus jadi contoh yang baik ya nak buat adek-adekmu!” iya bapak insa Allah nindy bakalan jadi kebangaan bapak dan ibu dirumah.

Dari situ saya sudah mulai merasa betah di pesantren akibat kata-kata bapak yang selalu ku ingat dan sampai saat ini saya pun masih tinggal dipesantren kurang lebih 6 tahun sudah saya jalani. Karena saya ingin mendalami ilmu agama agar tidak di labuhi nantinya di kehidupan masyarat tentang agama yang saya yakini.

Itu semua berkat kerja keras orang tua saya masih bisa bertahan di pesantren ini. Terutama Bapak saya karena dari bapak saya pun mengenal apa itu pesantren. Terima kasih bapak untuk semuanya semoga sehat selalu.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Bapakku Pesantrenku""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel