Kisah Nyata "Berbeda"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerita nyata ini adalah hasil tulisan dari Akmal dengan judul "berbeda". Dalam kisah ini ia seolah menggambaran suara hatinya tentang cerdas dan bodoh dalam dunia pendidikan. Semoga bisa memberikan kesen inspiratif kepada pembaca sekalian.

Begini, Kisahnya...

Aku suka bermimpi. Dan aku sudah memiliki banyak mimpi. Beberapa sudah terwujud, beberapa pun belum. Entah kapan akan terwujud. Karena aku sangat menyukai cara instan, mimpi – mimpiku pun sering aku wujudkan dengan cara tersebut.

Aku orang yang simpel, tapi sangat suka detail, dan kadang terlalu kritis. Sehingga terkadang semua hal yang ingin aku lakukan, sudah diproses sangat dalam di otakku. Berbagai sudut pandang kugunakan agar mendapatkan hasil yang bagus.

Mimpi–mimpiku tidak dalam hal akademik. Jujur, aku sangat membenci hal tentang itu. Mengapa orang tidak mempelajari hal yang mampu ia kerjakan dan menyenangkannya saja. Bukankah hal tersebut lebih mudah untuk dipahami? Karena setiap orang berbeda.

Aku kurang setuju dengan kata–kata, “tidak ada orang bodoh di dunia ini, yang ada hanya orang malas”. Padahal kemampuan orang berbeda. Contohnya aku, sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai akademik yang bagus, tetapi otakku yang tidak mampu menyerap banyak tentang itu.

Akibatnya, beberapa orang mencapku sebagai anak yang bodoh atau pun malas. Termasuk orang tuaku. Mereka selalu hanya melihat sisi ketidakmampuanku. Bayangkan saja, mereka memintaku untuk masuk ranking 5 besar di kelas.

Jika di luar itu, maka mereka mengatakan aku tidak memahami pelajaran dengan baik. Satu kelas berisi 31 murid. Sungguh tidak mungkin semua murid mendapatkan ranking hanya 1 sampai 5. Mengapa sistemnya tidak begini, melihat nilai mata pelajaran apa yang paling tinggi, karena bisa jadi itu yang dikuasai oleh seorang murid. Menyamakan semuanya sungguh hal yang kejam. Hanya membuatku tertekan.

Sistem yang buruk menghasilkan generasi yang buruk. Karena dari sebuah sistem, kita dituntut untuk patuh, sehingga menghasilkan pola pikir yang sama pada setiap orangnya, masih untung jika itu pola pikir yang bagus, tapi jika itu sesuatu yang buruk? Bisa dibayangkan. Karena aku tidak menyukai hal itu, maka aku putuskan untuk mengikuti pola pikirku sendiri dengan beberapa perubahan yang kurasa menunjang diriku.

Itulah aku. Namaku Doni. Hanya cukup hal itu saja yang biasanya aku ceritakan. Karena aku tidak suka berbicara banyak. Apalagi jika ditanya tentang keluarga. Sungguh aku tidak menyukainya. Jika orang–orang tidak melihat nilai sekolahku, mereka akan beranggapan aku orang yang cerdas. 

Terkadang aku senang dibilang begitu, tapi lebih sering sedihnya. Karena dibalik pertanyaan itu, mereka banyak juga yang mengatakan, “senang ya orang tuamu punya  anak cerdas sepertimu”. Aku sangat membenci hal itu. Ingin rasanya aku katakan, “harus anda ketahui, kecerdasan ini tidak pernah dilihat orang tuaku, dan yang terpenting kecerdasan ini bukan karena orang tuaku, tapi karena kegigihanku untuk berpegang teguh pada pola pikirku”.

Tapi hal itu tidak pernah terucap. Entah kenapa. Sebenarnya aku pun bingung. Bisa jadi aku takut dipukul atau yang lebih parah ditelantarkan. Rasanya ingin diri ini bertanya kepada orang–orang, bagaimana bisa kita belajar terus–menerus dan jika ditanya apa motivasinya belajar, dan mereka menjawab karena orang tua.

Terlalu berat untukku mengatakan hal itu. Karena bukan itulah yang sebenarnya terjadi. Jika mendapat nilai yang sudah bagus menurutku, mereka akan bilang, “harusnya kamu belajar lagi, nilai segitu kurang”. Jika aku mendapat nilai jelek, maka mereka akan marah sambil berkata, “mau jadi apa kalau nilainya segitu? Tukang bangunan aja lebih pintar dari kamu, padahal kemarin nilaimu sudah bagus – bagus, tapi kenapa sekarang tambah jelek”. Aku simpulkan, mereka orang yang tidak tahu bersyukur.

Semua yang aku dapatkan dan lakukan selalu salah menurut mereka. Padahal aku hidup untuk diriku, masa depanku, keinginanku, mengapa mereka yang mengatur? Apa karena uang yang mereka keluarkan untuk biaya pendidikanku terlalu membebani? Kalau iya, berarti ia sendiri belum siap untuk punya anak, masih tidak bisa menerima kenyataan.

Sekarang usiaku 17 tahun. Dan aku putuskan untuk merancang masa depanku dengan lebih detail. Tujuan utama agar semua itu terwujud ialah untuk membungkam mulut orang yang mencapku jelek, termasuk orang tuaku. Ingin rasanya aku mengembalikan kata – kata mereka.

Aku sadar, karena itu aku jadi seorang pendendam. Selalu ingin membalas yang lebih. Aku membencinya. Tapi aku juga berhak bahagia. Selama ini hidupku hanya takut dimarahi oleh mereka. Emosiku bermain setiap harinya. Aku selalu menahan rasa tertekan.

Seperti kata orang–orang, “hal terbaik untuk membungkam orang lain adalah dengan menjadi lebih dari orang itu”. Setiap orang harus punya ambisi yang kuat agar bisa mewujudkan keinginannya. Termasuk aku.

Hingga terkadang aku berpikir takut menikah karena aku tidak mau anakku mengalami hal yang sama denganku. Ya, aku takut berbuat tidak adil pada anakku. Hanya menjelekkannya saja. Aku yang berpikiran seperti ini ialah hasil dari pola asuh yang tidak baik. Tolong dijadikan pembelajaran. Semoga tokoh aku tidak ada di dunia nyata.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Berbeda""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel