Kisah Nyata "The Best Father"

KisahTerbaik.Com- Tulisan mengenai kisah nyata ini hasil karya dari Ananda Ladya Sabilla dengan judul "The Best Father". Dalam rangkuman ceritanya ia menggambarkan tentang sosok ayah terbaik yang pernah ada di hidupnya.

Begini, Kisah Nyatanya...

Pagi ini aku bangun tepat pada pukul 6 pagi, setelah salat subuh aku membantu ibuku memasak sebelum aku mandi dan berangkat sekolah. Perkenalkan namaku Salsa, anak sulung dari dua bersaudara.

Aku lahir dan besar di keluarga sederhana. Saat ini aku duduk di bangku sekolah menengah pertama dan adikku masih duduk di bangku sekolah dasar. Ibuku hanya penjahit, ia menjahit disela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Ayahku? Dia tidak bekerja, sudah 9 tahun ia menderita tumor otak yang menyebabkan sarafnya terjepit dan ia buta.

Aku menyalami tangan ayahku setelah ia menyelesaikan sarapannya dengan nasi goreng yang kubuat bersama ibuku, setelah itu aku berangkat bersama adikku.

Sa, udah siap pr?” tanya Amel, salah satu teman dekatku.
Udah,” jawabku lalu memberikan bukuku yang baru saja ku kerjakan tadi saat aku tiba di sekolah.
Makasih hehe. Ohiya nanti aku gak bisa ikut kerja kelompok deh,” ucapnya sembari menyalin jawaban dari bukuku.
Kenapa?
Nanti aku sama papa mau nyari kado buat ulang tahun mama,” jawabnya singkat.

Aku hanya mengangguk dan mengiyakan permintaannya. Sejujurnya aku iri padanya karena ia memiliki ayah yang sehat serta harta yang melimpah. Terkadang aku malu pada ayahku yang tidak bisa apa-apa itu, tidak ada yang bisa kubanggakan darinya, padahal aku sangat ingin bercerita tentang kehebatannya di saat teman-temanku membanggakan ayahnya.

***
Setelah pulang sekolah aku lansung pulang ke rumah karena perutku sangat lapar setelah mengerjakan 3 ujian fisik di pelajaran olahraga. Setelah makan siang aku menonton tv, namun aku merasa ada hal yang ganjal hari itu.

Aku belum melihat wajah ayahku sejak pulang sekolah tadi, aku bangun lalu masuk ke kamar untuk melihat keadaannya. Kulihat ia sedang tertidur pulas, aku sedikit lega karena ia baik-baik saja.

Lalu kulanjutkan aktivitasku hingga jarum jam menunjukkan pukul 4 sore. Aku mematikan televisi lalu membantu ayahku berjalan menuju kamar mandi, karena kata ibuku ia sedang sakit. Tubuhnya memang sedikit demam tapi tak perlu ku ambil pusing, toh itu kan hanya demam biasa saja.

Malamnya suhunya sudah turun, sudah ku bilang bukan kalau dia akan baik-baik saja. Bahkan nafsu makannya sudah muncul kembali, sekarang ini ia sedang memakan nasi yang kusiapkan dengan lahap. Melihatnya yang sudah sehat kembali aku merasa bahagia, jadi kuputuskan untuk mengurung diri di kamar sembari memainkan ponselku.

Gak mau, pokoknya Kiki gak mau pergi ngaji,” pekik adikku dari ruang tamu.
Ayo ngaji Kiki, ini gak ada hujan gak ada apa-apa, besok juga tanggal merah jadi sekolah libur,” paksa ibuku.
Gak mau, sekali aja Kiki bolos besok-besok gak bolos lagi, janji,” pinta adikku lagi.

Sejujurnya aku heran melihat dia yang bersikeras bolos padahal ia suka pergi mengaji karna akan bertemu dengan teman-temannya. Untunglah ibuku lebih keras darinya sehingga pada akhirnya ia pergi mengaji walaupun dengan berat hati.

Aku kembali memainkan ponselku, lalu membuka beberapa sosial media dan saling berbalas pesan dengan teman-temanku. Malam itu aku merasa sangat tenang sebelum ibuku tiba-tiba berteriak memangilku, sontak aku segera keluar dari kamarku dan melihat ayahku sudah terbaring di pangkuan ibuku.

Air mataku jatuh begitu saja, matanya tertutup rapat telapak kakinya putih pucat seperti tak berdarah lagi, wajahnya dan seluruh tubuhnya pucat. Apa ia meninggal? Tidak tidak dia tidak boleh meninggal begitu saja, dia belum sembuh, dia belum bisa melihatku dan adikku besar, dia belum bahagia, aku belum membahagiaakannya. Tangisku benar-benar pecah melihat tubuhnya diangkat lalu ditutupi dengan kain oleh tetangga-tetanggaku yang berdatangan ke rumahku.

Aku duduh di sudut kamarku sambil terisak-isak. Ku dengar lantunan yasin dari kamarku, hal itu membuat tangisku semakin kuat. Aku masih tidak dapat menerima fakta bahwa ayahku telah meninggalkanku selamanya.

Memori masa kecilku terputar di kepalaku, aku masih ingat jelas bagaimana senyum ayahku dulu setelah mengantarku ke taman kanak-kanak sebelum ia jatuh sakit. Bagaimana bahagianya wajahnya saat mengucapkan selamat ulang tahun padaku dulu, saat ia mengatakan aku semakin cantik padahal saat itu ia sudah tidak bisa melihat lagi.

Seketika juga aku merasa menjadi anak yang durhaka padanya. Aku malu pada diriku yang sempat malu padanya, aku malu pada diriku yang mengatakan tidak ada yang bisa dibanggakan darinya padahal dia adalah ayah terhebat yang pernah ku temui. Aku marah pada diriku yang tidak bisa memberi warna-warni kehidupan pada dirinya yang sudah lebih dari 9 tahun hidup di dalam kegelapan dan penderitaan.

Aku menyesal tapi ku yakin saat ini ia sudah bahagia dan sedang melihatku dari atas sana. Selamat jalan ayah, aku mencintaimu.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "The Best Father""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel