Kisah Nyata "Hampir"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah nyata ini dituliskan oleh Ismaya Dwi Safitri dengan judul "Hampir". Dalam cerita ini ia memberikan pesan inspiratif dari segenap pengalaman ia pernah penulis alami.

Begini, Kisahnya...


Aku kemudian mematikan laptopku seraya berkata dalam hati “sampai kapan kayak gini terus, semua perlombaan sepertinya sudah ku ikuti tapi hasilnya nihil”. aku baru saja mengetahui hasil pengumuman peserta lolos lomba yang sedang aku ikuti. Kemudian aku menelefon sahabatku.

“Assalamualaikum Intan”.
“Iya wa’alaikumusalam Ayu”
“Ayu gimana pengumumannya, kamu lolos jadi peserta lomba?”
“Tidak Intan. Rasanya aku sudah lelah ikut lomba-lomba terus tapi nggak menang-menang. Boro-boro menang lolos jadi peserta aja nggak”
“Sudah tidak apa-apa masih banyak lomba lainnya, Kamu emang udah berapa kali gagal?”
“Ya aku sudah daftar lima kali nggak ada yang lolos. Aku sedih banget Intan.”
“Udah nggak apa-apa. Besok coba lomba yang lain ya”
“Iya Intan”       

Intan adalah sahabatku. Aku pertama mengenalnya waktu daftar ulang di kampus. Dia anak yang ramah. Dia orang yang menawari ku minum karena dia melihat ku tidak minum ketika teman yang lain juga minum. Waktu itu memang aku terburu-buru karena aku bangun kesiangan. Dia orang Jakarta. Oh iya Aku juga memiliki seorang kakak. Kakaknya juga kuliah tapi beda kampus. Kakaknya kuliah di jurusan Kimia di salah satu Universitas terbaik di Jakarta Hari ini matahari begitu cerah, anginpun bertiup dengan lembut. Aku menyapa Intan sahabat ku

“Intan, ini ujian hari terakhir ya. Aku senang bisa cepat pulang tapi di sisi lain aku juga sedih harus pulang”
“Iya aku tahu. Setiap akhir semester pasti kamu mengalami masalah yang sama”
“Iya Intan. Makasih ya kamu sudah mau mendengarkan ceritaku yang mungkin sama setiap harinya”
“Iya nggak apa-apa kamu yang sabar aja, pasti kamu bisa kok aku yakin itu”
 “Iya Intan, yuk kita lanjutin belajar lagi”

Aku dan Intan merupakan mahasiswa ekonomi di Universitas swasta di daerah semarang. aku berasal dari Magelang. Magelang kota seribu bunga. Di sana banyak kenangan. Kenangan masa kecilku yang indah. Aku rindu masa kecilku yang tanpa masalah.

“Assalamualaikum Ibu. Ibu aku besok pulang “
“Wa’alaikumusalam, iya nak hati-hati ya kalau naik motor”

Aku mulai menstarter motorku. Sebelum aku mengegasnya, sedikit ku panjatkan do’a agar aku selamat sampai tujuan. Aku sengaja berangkat pagi agar tidak kepanasan. Suhu di semarang jika siang sekitar 35oC.

“Assalamualaikum”
“wa’alaikumusalam. Sudah pulang kamu nak.”
“Iya bu, alhamdulillah”
“ya sudah istirahat dulu ya”.
“Iya bu”

Ibu ku adalah seorang guru SD. Ibu ku sudah PNS. Diangkat jadi PNS sejak 10 tahun yang lalu. Ayahku seorang pedagang. Beliau berjualan baju. Matahari hampir tenggelam, dari dapur ibu memanggil ku.

“Ayu, sini bantu ibu cuci piring”
“Iya bu”

Selesai aku cuci piring aku langsung melaksanakan sholat magrib bersama ibu di rumah dan ayah selalu sholat magrib di mushola dekat rumah kami. Seperti biasa kami pun makan malam selepas sholat magrib.

“Kamu gimana kuliah mu yu?”
“Ini tinggal nunggu nilai keluar yah”
“Vika pulang besok ya buk. Kemarin dia telephon bapak. Katanya Vika kemarin dia ditawari beasiswa di luar negeri di Australia. Hebatkan? Anak ayah itu buk”
“Anak ibu lah”

Lagi-lagi membahas kak Vika. Vika, iya nama kakak ku adalah Vika. Kak Vika dia sangat cantik, kuliah di perguruan tinggi negeri, dia sangat berprestasi, dia merupakan mawapres di kampusnya. Dia sekarang semester 7 dan aku semester 3. Banyak lelaki yang menginginkannya kata kak Vika dia sudah akan tunangan dengan kekasihnya selepas wisuda. Kekasihnya seorang pilot. Aku dan kak Vika bagaikan langit dan bumi.

“Ayu kamu harus mencontoh kakak mu. Kakakmu itu sudah cantik dan berprestasi. Gak ada lelaki yang menolaknya” kata Ayah
“Iya kakak mu juga mendapatkan beasiswa dia juga mendapatkan uang saku tiap bulannya. Ayah dan Ibu tidak pernah memberinya uang.” Ibu menambahi

Aku menahan kekesalan ini. Selalu saja aku dibandingkan dengan kakak ku.

“Aku juga sudah mendaftar berbagai lomba kok yah, hanya saja belum lolos jadi peserta”
“Oh begitu. ya lanjutkan saja usahamu” kata ayah

Lusa kak Vika pulang dan pasti lagi-lagi aku akan dibandingkan dengan kak Vika. Kemudian aku mencoba memejamkan mataku untuk tidur. Sang surya sudah mulai terbit. Burung-burung sedang berkicau. Diantara kicauan burung terdengar suara motor yang berhenti.

“Assalamualaikum”
“Wa’alaikumusalam Nduk”

Nduk adalah sebutan untuk anak perempuan di Jawa.

“Kamu ganti baju cuci kaki, cuci tangan dan makan ya. Ibu telah memasak masakan kesukaan mu.”

Ibu selalu memasakkan makanan kesukaan kak Vika ketika pulang. Berbeda dengan ku, tapi aku tahu kedua orang tua ku juga sangat menyayangiku.

“Buk, Ayu mana?”.
“Oh iya, Ayu sini nak ikut makan sama kakakmu. Kakakmu pulang kok nggak mok sambut. Vika ayahmu sedang mencuci mobil di tempat pak Ali buat nanti kita jalan-jalan” kata ibu dengan logat Jawanya.
“Kita jalan-jalan ke mall saja ya bu” usulku.
“Iya memang kita mau ke sana” jawab Ibu.

Setelah makan kak Vika beristirahat. Kemudian aku dan keluarga pergi jalan-jalan. Kita sudah sampai di salah satu pasar swalayan yang besar di Magelang.

“Ayah kita beli makan nasi goreng di situ yuk.”ajak ku.
“Tapi aku ingin makan ayam goreng yah” kata kak Vika.
“Jadi satu saja makannya ya” kata Ayah.
“Kalau begitu aku mau beli ayam goreng saja yah. Ayah, Ibu dan Ayu makan nasi goreng nggak apa-apa” kata kak Vika
“Kita kan harus sama-sama. Yasudah kita makan ayam goreng saja” kata ayah

Ya semua perkataan kak Vika selalu diaminkan oleh ayah dan ibu. Padahal malam itu aku sangat menginginkan makan nasi goreng. ya seperti itulah ayah dan ibu memuja kak Vika. Aku tidak ingin selalu dipandang sebelah mata aku tetap berusaha mengikuti berbagai kompetisi. Aku pernah mengikuti salah satu ajang pencarian bakat menyanyanyi di salah satu stasiun tv ternama. Sudah antri panjang, kepanasan dan akhirnya ditolak juga. Intan sebenarnya juga sudah menyarankan ku.

“Kan sudah ku bilang to Yu, kalau kamu nggak usah ikut audisi menyanyi itu” kata Intan yang mencoba memakai logat Jawa. Kami ngobrol di depan kampus. Waktu itu liburan sudah usai dan aku sudah kembali kuliah.
“Gimana lagi aku bisa membuktikan ke orang tua ku bahwa aku ini juga bisa.” Jawab ku kesal
“Selama ini kamu sudah ikut banyak lomba. Coba kamu sebutkan lomba apa saja yang pernah kamu ikuti dan lomba mana yang kamu sukai?”
“Kan semua lomba sudah pernah kuceritakan kepada mu in. aku sudah pernah ikut lomba bikin KTI, business plan, essay, review litteratur, bikin puisi dan yang terakhir ini menyanyi” jawabku panjang lebar.
“Dari semua yang kamu sebutkan tadi mana yang paling kamu sukai?” tanya Intan
“Intan sebenarnya aku tidak suka semuanya. Aku suka nyanyi sih, tapi kamu tahu sendiri suara ku jelek.” Jawabku.
“Selain bernyanyi apa yang kamu sukai lagi yu”
“Aku suka menulis cerita di buku harian ku. Tapi mana mungkin cerita begitu bisa dilombakan”
“Kata siapa tidak bisa dilombakan. Ini bisa tahu” kata Intan
“Tapi aku ingin seperti kakak yang bisa juara KTI dimana-mana”
“Kamu sudah besar ayu hidupmu tidak untuk ikut-ikutan. Ayo kembangkan karyamu. Apa yang kamu bisa lakukanlah. Hargai apa yang kamu bisa, nanti insyaallah orang lain juga akan menghargaimu” kata Intan
“Ya sudah aku akan mencoba mencari lomba”

Aku mulai browsing. Browsing adalah kegiatan sehari-hari ku.  Demi apa lagi kalau bukan pembuktian bahwa aku juga anak yang bisa dibanggakan. Setiap hari pula aku berdo’a kepada Allah agar aku bisa memenangkan setiap lomba yang kuikuti. Setiap aku ikut perlombaan juga aku sudah minta izin ayah dan ibu serta aku meminta do’a mereka.

“Ya Allah semoga aku bisa lolos sebagai peserta lomba menulis nasional ini ya Allah. Aamiin.”

Do’a itu kupanjatkan setelah aku sudah mendaftar lomba menulis cerita bertemakan mimpi.  Biaya pendaftarannya cukup terjangkau yaitu dua puluh ribu rupiah saja. Lomba ini diadakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta untuk memperingati hari ulang tahun fakultasnya.
Karya ku berjudul “Mimpi Seorang Anak Bungsu”.

“Intan aku sudah mengirim karyaku. Sekarang aku tinggal bikin proposal kalau misalnya aku juara In”
“Kamu bikin mulai dari sekarang aja yu. Biar nggak mendadak”
“Siap bos”

Proposalku sudah ku buat. Sekarang tinggal konsultasi ke sektreatris himpunan seperti biasa. Aku sudah menghubungi Anita. Anita adalah sekretaris himpunan di jurusanku. Persuratan dan proposal dia ahlinya

“Anita tolong koreksi proposalku ya biar dananya cair”
“Wah proposal lomba ya” tanya anita sambil membaca proposalku
“Iya lomba menulis cerita” jawabku singkat
“Ayu sebelumnya mohon maaf ya.  Setelah ku baca lomba yang kamu ikuti ini tidak terdaftar di lomba yang kami ajukan di pihak birokrasi. Lomba yang kamu ikuti ini juga tidak bisa didanai karena lomba ini tidak mendukung disiplin ilmu kita.” Kata anita dengan jelas.

Deg, jantungku kemudian berdegup kencang. Dalam hati ku kebingungan.

“Lalu bagaimana nit aku sudah terlanjur membuatnya. Apa beneran nggak bisa didanai. Terus kalau misalnya aku juara bagaimana. Soalnya kalau juara harus kesana karena akan menerima hadiah secara langsung. Biaya akomodasinya lumayan nit. Mana cukup uang sakuku buat ke sana dan biaya menginapnya juga”
“Nanti ku tanyain keetua himpunannya dulu ya  yuk. Nanti kalau ada info ku kabari.”

Yah 5 hari lagi akan pengumuman pemenang dan aku tidak tahu bagaimana aku bisa berangkat ke Jakarta. Aku hanya diberi uang Rp. 1.600.000,00 setiap bulannya. Ini sudah tanggal 20  Februari tentunya uangku sudah menipis tepatnya tinggal Rp. 600.000,00 .Aku sudah cerita ini ke sahabatku Intan. Tapi malangnya Intan.

Intan waktu itu sedang sakit dan akhirnya malah aku yang meminjaminya uang 100.000 tinggallah uang ku 400.000 aku masih tinggal di sini 5 hari lagi menunggu pengumuman. Kemudian karena terpaksa aku menceritakan masaah ini ke dosen pembimbing dan dosen wali ku tapi aku malah diberi ceramah tentang uang yang tidak bisa cair karena lomba yang ku ikuti. Sebenarnya aku ingin sekali meminta uang ke orang tua ku tapi tidak mungkin.

Pengumuman juara saja belum kok sudah minta uang ke orang tua. Rasanya kepala ku sudah mau pecah. 5 hari berlalu uangku tinggal Rp. 400.000,00. Aku puasa. Agar bisa beli tiket kalau-kalau aku menaang mejadi juara. Dua hari sebelum pengumuman anita mengabariku kalau aku bisa membuat proposal ke rektorat.

Dalam dua hari aku hanya bisa satu kali konsultasi ke pihat senat mahasiswa bagian banggar sebanyak satu kali. hari pengumuman itu tiba aku kemudian membuka web pengumuman yang ada

“Nominasi Juara Ayu Lestari dengan karya mimpi seorang anak bungsu”

Aku tidak percaya rasanya seperti mimpi juara satu mendapatkan uang 1 juta rupiah. Aku senang tetapi aku bingung. Uang menginap dan fieldtrip Rp. 200.000,00 dan harus di transfer hari itu juga sebagai jaminan aku datang ke acara tersebut.

“Intan sepertinya aku tidak jadi berangkt ke Jakarta”
“Lho kenapa? Masalah proposal?”
“Iya. Lebih tepatnya masalah uang.”
“lha kamu ada uang berapa ?
“Empat ratus ribu dan uang untuk akomodasi dua ratus ribu, terus beli tiket ke Jakarta dua ratus ribu. Aku sudah tidak punya uang. Besok aku harus makan apa? Sedangkan aku harus berangkat lusa.”
“Sudah nggak apa-apa sekarang kamu beli tiketnya yuk masalah makan besok kita pikirkan”

Aku bergegas menuju atm untuk menyelesaikan pembayaran tiket ku. Ntah besok aku makan apa. Tapi aku percaya dengan Allah yang tidak tidur. aku juga percaya dengan sahabat ku dia pasti akan menemani ku dalam senang maupun sedih.

Aku mengendarai sepeda motoku dan kembali ke kos. Aku sama sekali tidak memiliki uang. Malam itu aku sangat lapar. Aku sudah mencoba meminjam uang kesana kesini tapi tidak ada yang bisa meminjami ku. Aku kemudian menelfon ibu ku

“Asslamualaikum ibu”
“Wa’alaikumusalam ayu. Pie kabare nduk?” jawab Ibu  yang berarti “apa kabar nak?”.
“Kabar baik bu. Bu alhamdulillah aku menang lomba menulis.”
“Bagus kalau begitu. akhirnya kamu bisa dibanggakan nak.”
“Buk aku minta uang buat biaya transportasi ke sana, buat akomodasi juga”
“Menang lomba kok bayar. Kakak mu itu lo menang lomba malah dapet duit. Ini keuangan keluarga lagi sulit. Baju-baju lagi nggak laku. Emang kamu butuh berapa?”
“Empat ratus ribu saja buk tolong lah”
“Beneran yo nduk nggak ada uang wong kemarin bapak mu abis beli toko lagi jadi uangnya nipis. Nanti tak transfer serratus ribu saja yo”

Singkatnya ibu ingin mentransfer tapi ATM-nya lagi trouble. Ibuku menyarankan ku untuk meminjam temanku dulu.

“Ya Allah terimakasih Engkau telah mengabulkan do’a-do’aku ya Allah. Ya Allah jika boleh hamba-Mu ini meminta. Berikanlah hamba uang atau pinjaman 100 ribu saja ya Allah. Hamba membutuhkan tubuh yang fit untuk menghadiri acara lomba ya Allah. Aamiin”

Kemudian aku meneguk air minum hingga perut ku terasa penuh. Kemudian aku mencoba tidur untuk menghilangkan rasa laparku jika air dalam lambungku menjadi urine.Sang surya sudah terbit aku bersiap menuju kampus. Aku belum sarapan dan aku sangat lapar.

“Ayu” Intan memanggil ku.
“Ayu aku ada kabar baik untuk mu”
“Iya apa intan” Aku sambil menahan perutku yang pedih
“Jadi gini, aku kemarin meminjam uang ke bendahara kelas. Aku kan hutang kamu seratus ribu. Maaf ya Yu baru bisa ku kembalikan sekarang
“Alhamdulillah, makasih intan. Intan tolong antar aku makan di kantin ya sudah dari semalam aku tidak makan.”
“Apa kamu tidak makan. ya Ampun. Maaf ya ayu. Ok ayo kita ke kantin”

Akhirya pagi itu aku makan meskipun rada mual. Aku tetap makan sedikit-sedikit.

Malamnya aku langsung berangkat ke Jakarta. Jakarta oh Jakarta kamu ramai sekali. hari itu aku langsung dijemput oleh LO ku. Kemudian aku diajak makan malam di Jakarta dan aku menginap di hotel. 

Sangat nyaman, Paginya ada kegiatan fieldtrip aku dan rombongan peserta lomba yang menjadi juara lainnya jalan-jalan ke Ancol. Jakarta memang panas. Tapi aku tetap menikmati kerja keras ku ini.malam fare well pun tiba. Aku diumumkan sebagai pemenangnya. Sebelum ke Jakarta tentunya aku sudah meminta doa restu kepada orang tua ku. Aku pulang membawa piala ini membawa hadiah, relasi dan pengalaman berharga

“Intan, ini oleh-oleh untuk mu”.

Aku membelikannya sebuah kaos dari hadiah hasil lombaku

“Intan aku juara satu”

Reflek kita langsung berpelukan. Aku tidak sabar membawa piala ini pulang.

“Ayu dana yang kamu usulkan akan cair bulan depan. Jangan lupa bikin laporan pertanggung jawabannya ya”
“Intan kan aku belum minta tanda tangan ke bagian rektorat untuk persetujuan proposalku.” Tanya ku heran.
“Jadi, waktu kamu nninggalin proposal di meja itu. Kemudian aku olah dan aku mintakan tanda tangan ke bagian rektorat dan sekarang tinggal laporan pertanggung jawabannya ya”

Intan dia sahabat ku tapi ku merasa dia lebih dari sahabat dia seperti saudara ku.Ku bawa piala kebanggaan ini pulang ke rumah. Ayah daan ibu tersenyum lebar pasalnya anaknya ini tidak pernah membawakan piala untuknya. Kak vika pun merasa bangga dengan ku. Aku bahagia

Hampir
Hampir saja ku menyerah pada keadaan
Hampir saja ku merasa tiada pertolongan
Ketika kita mmerasa sudah tidak ada manusia yang dapat menolong kita maka itu adalah saat yang tepat untuk kamu meminta dengan sangat kepada Raabb-mu
Kerja keras, kreatif dan ulet.
Nikmati prosesmu
Tidak perlu menjadi sama seperti orang lain
Kembangkan bakat mu tunjukkan bahwa kamu hebat dan kamu bisa dibanggakan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Hampir""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel