Kisah Nyata "Harian Pejuang Cakrawala"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian stori nyata ini dituliskan oleh Ruhil Anadiah Sabrina dengan judul "Harian Pejuang Cakrawala". Dalam kisah ini ia membagikan berbagai pengalaman hidup yang bisa menjadi inspirasi bagi pembaca.

Begini, Kisahnya...

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat” (Winston Chucill)

Ini ceritaku, cerita yang sudah sering di dengar tentang kehidupan setelah lulus SMA. Secuplik kisah yang tidak ada apa-apanya dibandingkan kisah-kisah hebat diluar sana, tapi tidak apa aku akan tetap menceritakannya.

Apa yang terpikirkan dari kalian setelah lulus SMA ? kerja, kuliah, apa menikah ? semua tergantung dari pribadi masing-masing bukan, tapi disini aku memilih untuk memperjuangkan dulu salah satu pilihan tersebut yaitu untuk kuliah. Memang, kuliah belum menjamin kita akan sukses tapi dengan mengenyam pendidikan tinggi kita akan tahu apa hakikatnya menjadi manusia yang berpendidikan itu.

Ini bukan kisahku saja tapi juga kisah perjuangan bersama ke tujuh sahabatku yang lain. Perjuangan kami untuk bisa masuk PTN tidaklah mudah, perjuangan itu tanpa sengaja bermula ketika kita baru saja menginjakkan kaki di kelas 10 dan 11 yang terjebak dalam satu ekstrakulikuler yang kami tidak tahu seluk beluk di dalamnya yaitu ekstra KIR (Kelompok Ilmiah Remaja).

Aku kira ekstra tersebut menyenangkan, ekstra yang dapat membuat kita segar setelah sepekan berkutat dalam mata pelajaran tapi jauh dari kata itu ternyata ekstra tersebut berkecimpung di dalam dunia kepenulisan, KTI (Karya Tulis Ilmiah), Jurnalistik, dan Penelitian dimana hal tersebut asing dalam duniaku sebelumnya, ekstra tersebut berbeda dengan ekstra lain yang lebih seru seperti Pramuka, PMR, teater, maupun kesenian.

Bagiku sewaktu ekstra tersebut berlangsung waktu berputar terasa lambat, bagaimana tidak aku merasa jenuh, bosan, dan ingin cepat saja pulang ke rumah. Sempat aku berpikir untuk keluar saja dalam ekstra ini, semula anggota ekstra sekitar 80 anak semakin hari semakin waktu berkurang hingga hanya menyisakan belas anak yang setia didalamnya.

Namun, hal yang aku ingat dari guru pembimbing KIR kami, beliau tidak pernah bosan-bosannya memberikan kata semangat. Aku ingat sekali beliau pernah berkata

"Pumpung, sek kelas 10 lan kelas 11 okeh-okeh melu lomba, mengko sertifikate juarane iso ngewangi ngge mlebu perguruan tinggi negeri" (kalian masih kelas 10 dan kelas 11 banyak- banyak ikutan lomba, nanti sertifikat juaranya bisa bantu kalian masuk perguruan tinggi negeri).

Namun apa semudah itu, jawabannya tidak, tidak semudah itu ketika aku masih kelas 10 berkecimpung di dunia KIR rasanya tidak ada yang berkembang dalam diriku, sekali ikut lomba kepenulisan gagal, ikut lagi gagal, hampir saja menyerah tapi aku ingat lagi kata-kata beliau, kata penyemangat yang membuat aku terus termotivasi untuk mengikuti evet lomba lebih banyak lagi. 

Tibalah pada saat kelas 11 aku mencoba lagi ikut lomba menulis, awalnya aku ikut lomba cerpen tingkat kabupaten namun hanya masuk 10 besar, aku coba lagi untuk mengikuti lomba esai di salah satu kampus di Solo tapi aku hanya bisa tembus sampai finalis, coba lagi ikut lomba artikel dalam waktu bulan bahasa sekolah akhirnya aku dapat juara 1, aku mulai terbiasa dengan mengikuti lomba-lomba dan mulai jatuh cinta dalam duniaku, selain dapat sertifikat juara walaupun lebih banyak sertifikat peserta sama finalis aku juga dapat uang pembinaan lumayan banget buat tambah jajan, dan puncaknya aku dan kedua sahabatku mendapat juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Quran di UGM (Universitas Gadjah Mada). this is my first experience.

Singkat cerita lomba tersebut dilaksanakan pada bulan puasa tepatnya hari pertama puasa tahun 2017 kemarin yang akhirnya kami menyabet juara 1, selain senang karena menyabet juara kami juga senang bisa jalan-jalan ke Jogja sekaligus bisa mengeskplore kampus sekelas UGM.

Tidak terasa itu adalah lomba terakhir yang kami ikuti, sebab kami memutuskan untuk berhenti sementara mengingat kami sudah memasuki kelas 12. Hingga ahirnya awal masuk kelas 12 aku dan ke 7 sahabatku memutuskan untuk les SBMPTN bareng.

Kami les bukan di tempat bimbingan belajar yang elit, bukan juga di bimbel ternama, kami les sbmptn di tempat rumahan biasa, itu pun kebetulan sama istrinya guru pembimbing KIR aku yang bisa mengajar kami.

Awalnya, aku ragu kenapa masih awal masuk kelas 12 sudah les sbmptn, tapi aku dibilangi lagi sama guru pembimbing aku.

"Kamu jangan terlalu memfokuskan pada SNMPTN, mulai sekarang kamu les SBMPTN buat
jaga-jaga kedepannya".

Awal kelas 12 sampai habis UN kami masih les SBMPTN, banyak yang bertanya

"Memang kamu besok mau ikut tes SBMPTN ?"
"Masih awal kelas 12 kok sudah les SBMPTN aja, harusnya fokus UN"

Banyak bilang seperti itu tapi kami masa bodoh, sebab kami tahu perjuangan untuk masuk PTN tidaklah mudah banyak mereka yang sudah mempersiapkan jauh hari tapi gagal, ada juga yang persiapan mepet justru berhasil.

Tapi aku yakin usaha kami tidak akan pernah menghianati hasil. Awal les sbmptn kami harus menguasai topik TPA (Tes Potensi Akademik), sebab TPA merupakan gudangnya nilai. Setiap minggu kami les, dari ke 8 temenku ternyata yang bertahan sampai akhir hanya 7 anak, temenku yg satu berhenti ditengah jalan diantara kita ber-7 yang dapat ikut snmptn hanya 3 anak diantaranya aku. 

Berbekal keyakinan kami bertiga akhirnya mendaftar SNMPTN dengan melampirkan piagam sertifikat lomba yang pernah kami ikuti sewaktu kelas 10 dan 11 dahulu dan betul ternyata, kedua temanku lolos snmptn di Universitas Negeri Malang (UM) jurusan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan yang satu ketrima di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan Pendidikan Matematika dan aku satunya yang tidak lolos SNMPTN.

Dilain sisi hari itu juga pengumuman PMDK Diploma UNS aku dan temanku coba untuk daftar dengan berbekal nilai rapot dan piagam Jura lomba LKTIA UGM kemarin dan ternyata aku dan temanku lolos di UNS (Universitas Sebelas Maret). Temanku ketrima di D-3 Agribisnis minat Peternakan sedangkan aku lolos di salah satu prodi D- 4 nya.

Kalian tahu tidak hari itu aku terasa mimpi, mimpi yang sangat membahagiakan sekali ketrima di UNS (Universitas Sebelas Maret), yaitu kampus impianku, kampus yang ingin aku tembus sejak pernah lomba kesana (walaupun tidak menang).

Padahal aku sempat tidak yakin, soalnya dari sekolahku alumninya masih sedikit yang ketrima di UNS. aku juga sudah dibilangin "kamu jangan terlalu mengharap ketrima di UNS pengalaman dari tahun sebelumnya banyak yang tidak ketrima", tapi aku percaya pada diriku sendiri, meyakinkan dengan harap, serta keteguhan dalam berdoa sebab tidak ada yang tidak mungkin, ada kemauan pasti ada jalan.

Selain itu salah satu temenku juga sudah diterima di Poltekkes Semarang jurusan Keperawatan Gigi. aku seneng sekali 5 diantara kami sudah ketrima di kampus impian masing-masing dengan mudah.

Namun, tidak semua orang puas apa yang sudah didapatkan sebelumnya. Ternyata temanku yang sudah di terima di UNS ingin mecoba untuk ikut tes ujian tulis di UGM. Dari awal dia memang ingin sekali bisa masuk disana, maka ia memperjuangkan kembali impiannya itu.

Namun, perjuangan belum selesai sebab kedua sahabatku yang lain masih berjuang melalui jalur SBMPTN, dan tibalah pengumuman SBMPTN dan ternyata temanku ketrima di Unej (Universitas Negeri Jember) jurusan ilmu sejarah tapi sayang temanku yang satu kembali gagal.

Terkadang aku berpikir rasanya Allah memudahkan jalanku dan sahabatku untuk masuk perguruan tinggi negeri, tanpa kami sadari kami berjuang untuk masuk PTN sudah dari awal kelas 11 atau 10 dengan megikuti lomba-lomba dan mendapat piagam sertifikat.

Seandainya dulu aku tidak setia dalam ekstra tersebut, aku sekarang pasti menyesal namun aku tidak pernah menyesali sudah belajar SBMPTN walaupun diluar dugaan Allah memudahkan segala urusanku.

Ternyata berjuang lebih awal itu sangat melelahkan, tetapi soal hasil tidak perlu diragukan. Untuk kalian sahabat seperjuangan, teman yang belum lolos di SBMPTN 2018 aku yakin kalian semua adalah pejuang yang hebat, pejuang pilihan yang akan memenangkan pertarungan di banyak lain kesempatan. Bangkit, sebab almamatermu sedang menunggumu.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al-Baqarah : 216)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Harian Pejuang Cakrawala""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel