Kisah Nyata "Hidup Memang Pilihan"

KisahTerbaik.Com- Rangkain stori tentang hidup ini dituliskan oleh Afif Nur Fauzan dengan judul "Hidup Memang Pilihan". Dalam kisah ini ia menuliskan serangkaian pengalaman temannya yang berharga untuk segenap pembaca.

Begini, Kisahnya...

Sepulang dari kampus seperti hari kemarin, aku pergi ke kantin untuk mendengarkan lanjutan kisah dari temanku, sebut saja namanya Dian (bukan nama sebenarnya). Teman yang baru saja aku kenal. Latar belakang hidupnya yang jauh dari rasa nyaman membuatku tertarik untuk mendengarkan kisah hidupnya.

Jika dilihat secara sekilas dia memang terlihat seperti manusia pada umumnya. Akan tetapi, perbedaannya terlihat di saat dia berbicara. Hal itu membuatnya ditertawakan oleh teman-temannya ketika berbicara ataupun berinteraksi dengan sesama.

Kisahnya dimulai di saat dia bersekolah di sebuah Sekolah Dasar (SD) di Yogyakarta. Ketika menginjak kelas 5 SD dan teman-temannya mulai lancar berbicara, temanku itu mulai dihina dan atau dihujat karena bicaranya yang belum lancar, terutama ketika diminta gurunya untuk berbicara atau presentasi di depan kelas.

Bukan hanya ketika di sekolahan saja, akan tetapi di saat dia berinteraksi sosial, dia pun juga mendapat perlakuan yang sama. Di situlah kehidupannya mulai diselimuti rasa marah, rasa kesal, rasa sedih yang bercampur aduk menghiasi kehidupan sehari-harinya.

Hal itu juga berdampak pada prestasinya di sekolah yang mulai mengalami penurunan. Kondisi tersebut berlanjut sampai sahabatku itu memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Seperti ada petir yang sedang menghampiriku di saat aku teringat bahwa 4 hari yang lalu dia baru saja menjuarai lomba penelitian tingkat nasional. Bagaimana bisa dengan keterbatasan yang dia miliki dia bisa menjuarai lomba penelitian tingkat nasional? Bagaimana dia melewati masa lalunya yang penuh dengan hambatan, rintangan, dan celaan? Hmm..

Mengetahui hal itu, aku mulai malu dengan diriku sendiri yang sampai sejauh ini belum bisa menjuarai kompetisi apapun dan juga semakin penasarannya diriku untuk mendengarkan kisah selanjutnya.

“Hai Afif, kenapa lama banget? Ayo sini kita lanjutkan yang kemarin,” sapa Dian sambil meletakkan segelas kopinya yang masih panas.

Setelah berbincang-bincang sesaat, akhirnya saat-saat yang paling aku tunggu akan dimulai.

“Baik kita lanjutkan kisahku. Jadi begini…..” ucap Dian

Setelah lulus jenjang pendidikan SD, Dian melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP. Awal masuk SMP, keadaannya masih sama seperti keadaan waktu di SD, dia selalu mendapat celaan dari teman-temannya. Bahkan, kehidupannya lebih buruk di saat dia bergaul dengan teman-teman yang mengajak dia kepada perbuatan yang salah.

Alhasil, prestasinya di sekolah semakin mengalami penurunan. Dia menjadi seseorang yang suka marah sama orang tua, bergaul bebas, dan menjadi perokok aktif. Hal itulah yang menyebabkan teman-teman lamanya dan masyarakat sekitar memusuhinya.

Mereka menjauhinya dari segala penjuru bagaikan air dengan minyak yang tidak bisa bercampur walaupun ditempatkan ke dalam satu wadah. Sehingga, tidak ada yang mau berempati dengan dia kecuali hanya orang tuanya.

Dian mulai menyadari semua kesalahan yang telah dia perbuat di saat dia mengalami kecelakaan pada waktu harus mempersiapkan Ujian Nasional (UN) SMP yang hanya tinggal menyisakan 2 bulan lagi. Kecelakaan itu membuatnya harus dirawat di rumah sakit selama 2 minggu lamanya dan akan membuatnya semakin sulit dalam persiapan untuk menghadapi UN SMP.

Hingga dia merasa lelah untuk melanjutkan hidup, merasa lelah dengan semuanya ini.

Akan tetapi, kondisinya berbanding terbalik di saat ibunya menemui dirinya di rumah sakit. Sambil menangis, ibunya mengatakan sesuatu kepada anaknya dan kata-kata yang terlontarkan dari ibunya itu akan terus dia ingat seumur hidupnya.

"Anakku, aku sangat bahagia melihatmu dari kecil, sampai dewasa dan semoga kamu akan sukses dunia dan akhirat. Aku tahu kamu pasti terbebani dengan kelemahanmu yang terlihat jelas ketika kamu berbicara. Akan tetapi, perlu kamu ketahui bahwa setiap manusia mempunyai kelemahan yang berbeda-beda, itu sudah menjadi kodrat dari Tuhan. Semua orang mempunyai hak untuk sukses dengan setiap kelemahan dan kelebihan yang dimiliki. Jadi, kamu jangan pernah berpikir bahwa kamu tidak bisa sukses, Kamu bisa! Pasti bisa! Harus bisa! Ibu yakin kamu bakal sukses, InsyaAllah sukses dunia dan akhirat. Ibu akan selalu mendampingi, mengawasi, dan memperhatikan dirimu sampai akhir hayat ibu,” ucap ibunya sambil memegangi tangan Dian.

Perasaan Dian menjadi bercampur aduk, entah harus bahagia karena mengetahui ibunya masih sangat menyayanginya, ataupun harus menangis karena mengingat semua kesalahan yang telah dia perbuat selama ini.

Seperti hujan yang semakin lama semakin deras begitu juga tangisannya yang semakin membuat tubuhnya basah karena rintihan air matanya.

Di dalam lubuk hatinya, sahabatku itu kemudian berjanji akan membahagiakan ibunya dan menjadi orang sukses sesuai keinginan ibunya. Dia mulai tertarik untuk melanjutkan diskusi dengan ibunya, keinginan untuk menjadi orang sukses mulai membumbung tinggi di hatinya.

Temanku itu kemudian bertanya kepada ibunya sambil mengusap air matanya, “Ibu, bagaimana seseorang bisa meraih kesuksesan?”

“Jadi, begini kamu harus mengetahui dulu bahwa satu-satunya racun yang pernah ada ialah di dalam pikiran dan sikapmu terhadap kelemahanmu, ibu harapkan semuanya akan lenyap oleh kasih yang engkau berikan padanya. Untuk meraih kesuksesan, pertama yang wajib kamu lakukan yaitu berusaha, supaya setiap impian dapat terwujud. Impian adalah sumber kekuatan, hanya jika impian itu diwujudkan dalam penelitian, pembelajaran, dan usaha yang tidak kenal menyerah. Hal yang kedua adalah lakukan segala hal yang harus dikerjakan dan tujuan kamu akan bisa diraih. Jika tujuan hidupmu sudah bisa diraih, maka itulah kesuksesan bagi dirimu. Percayalah bahwa Tuhan menghargai usaha kita. Keberhasilan tidak datang pada orang yang malas berjuang dan gampang menyerah. Tunjukan kualitas iman melalui ketekunan dalam berjuang! Tetap semangat!”

Seperti daun yang tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Begitu juga Dian yang setelah kejadian itu mulai meniti masa depannya, dia mulai hormat kepada orang tuanya, mulai menjaga pergaulannya, dan tidak menjadi perokok aktif lagi.

Dia juga mulai berusaha keras mengejar ketertinggalannya dalam persiapan menghadapi UN SMP dan meminta maaf kepada semua saudara dekatnya atas semua perilaku buruknya selama ini. Kemudian, sesudah melakukan semuanya semaksimal mungkin, hanya tinggal menunggu, berdoa, dan bertawakal menunggu hasil dari kerja kerasnya.

***

“Jadi begitu kisah masa kecilku, apakah amanat atau hikmah dari kisahku tadi?” tanya Dian sambil menatapku dengan serius.

“Menurut aku begini, lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga yang seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita, tanpa pernah berpikir benarkah kita separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri. Tidakkah kamu pernah mempertanyakan kepada nuranimu, bahwa kamu bisa ‘melompat lebih tinggi dan lebih jauh’ kalau kamu mau menyingkirkan ‘kotak’ itu?

Tidakkah kamu ingin membebaskan diri agar bisa mencapai sesuatu yang selama ini kamu anggap di luar batas kemampuanmu? Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami.

Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang kamu ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tapi bila kamu sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Kehidupanmu akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihanmu sendiri. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk dirimu,” terangku panjang lebar.

Hidup memang pilihan dan pilihan dalam hidup akan menentukan masa depan kita. Itulah kalimat yang aku dapatkan selama berbincang-bincang dengan sahabatku itu, kalimat yang dapat memotivasi diriku untuk selalu berusaha mewujudkan tujuan hidup yang sudah aku rencanakan. Kalimat itu akan selalu aku ingat sampai kapanpun dan di manapun aku berada.

Setelah kami berdiskusi sebentar, aku meninggalkan kantin dengan perasaan puas setelah mendengarkan cerita yang sangat menginspirasi diriku dari sahabatku, Dian.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Hidup Memang Pilihan""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel