Kisah Nyata "Izinkanlah Aku Mencintaimu karena-Nya"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerita yang dihasilkan dari kisah nyata dalam mendidik anak ini dituliskan oleh Purwati Anisa Dewi dengan judul "Izinkanlah Aku Mencintaimu karena-Nya". Dalam stori ini ia memberikan pengulasan secara baik tentang sebuah pengalaman.

Begini, Kisah Nyatanya...

Kebiasaan rutin setiap pagi sebelum perwalian adalah menyiapkan catatan kecil tentang akhlak murid-muridku selama di asrama ataupun di luar pembelajaran dari guru, wali asrama ataupun dari orangtua.

Aku pun tak lupa mengingatkan kembali tata tertib serta poin pelanggaran yang telah diputuskan sekolah boarding ini. Hal ini aku lakukan agar mereka tidak melanggar tata tertib di sekolah untuk kesekian kalinya karena harapanku sebagai wali kelas adalah mereka tidak mendapatkan poin yang begitu tinggi untuk menjerumuskan mereka mendapat surat peringatan

“Bu, ini baca …” Seorang wali asrama pun mengangsurkan secarik kertas kepadaku dengan wajah sendunya.
“Gimana, ya…Bu. Anak-anak ini…” Sepertinya aku sudah tahu arah keluhan wali asrama sebelum membaca kertas tersebut.
“Ya…Bu..nanti saya urus…” Balasku dengan dengan suara yang berat.

Satu hal, aku telah berjanji kepada diriku sendiri. Aku tidak boleh menangis di depan mereka. Seburuk apapun yang telah mereka lakukan. “Kau harus kuat, Anisa!” Kau bukan anak kemarin sore dan bukan dan bukan anak kecil lagi….!” teriakku dalam hati.

Perwalian kami adalah perwalian yang begitu spesial. Aku yakin perwalian model seperti ini pasti akan diingat anak-anak seumur hidup mereka. Setiap pagi aku berhitung dengan suara lantang hampir mirip toa untuk meminta mereka berbaris untuk mengecek perlengkapan mereka sebelum masuk ke kelas.

Mereka sudah sangat paham kalau hitungan hingga sepuluh mereka tidak langsung membuat barisan pasti mereka akan mendapat sebuah ‘hadiah istimewa’ lari lapangan sejumlah keterlambatan mereka. 

Kalau menit keterlamabatan mereka banyak. Mereka dapat mencicil hukuman lari ini ketika istirahat, pulang sekolah ataupun sore hari.

Tidak sampai lima menit mereka sudah berkumpul di depanku tanpa ada yang terlambat sedikit pun. Mungkin bagi sebagian yang lain. Aku termasuk wali kelas yang begitu repot, galak, dan berlebihan karena pernah suatu ketika perwalian kami diisi menyanyikan Lagu Indonesia Raya karena mereka menyanyikannya dengan tidak penuh hikmat dan bercanda. Lagu Indonesia Raya pun dinyanyikan hampir lima kali sampai mereka khidmat menyanyikannya

***

Hingga tibalah waktunya, aku pun bertanya apakah diantara mereka ada yang tidak hapalan Qur’An dan terlambat sholat ataupun tidak ikut berjamaah. Aku berusaha tidak menyebut nama mereka satu per satu . Aku ingin tahu seberapa jujurnya mereka.

Hening tidak ada yang mengacungkan tangannya. Pupilku hampir berair kutundukkan wajahku. Aku pun berusaha mengeja satu persatu nama anak-anak yang tertulis.

“Beneran tidak ada? Bu Anisa bertanya sekali lagi. Tidak ada…?”

Mereka pun saling menatap antara teman yang satu dengan yang lainnya. Perlahan-lahan ada yang mengacungkan tangannya. Hanya dua anak! Sudah tidak ada lagi . Padahal yang tercatat masih bnayk lagi.

“Beneran hanya dua …?” tanyaku dengan lantang. Hening! Tidak ada yang angkat tangan.

Aku tahu mungkin karena mental mereka yang masih kecil, malu untuk mengakui kesalahan mereka sendiri.

“Baiklah kalian berdiri di sini sampai pukul 09.00!” Aku pun mulai menutup perwalian hari itu dengan rasa cemas dan kecewa.

Tetapi …

“Bu…sebentar..”

Fantastis hampir seluruh anak menyatakan terlambat sholat dan tidak berjamaah kecuali yang haid. Adapun anak yang tidak ikut hapalan Qur’an lebih dari satu sekitar lima anak. Semuanya diluar dugaanku. Aku pun bertanya kepada anak-anak yang sebetulnya namanya tidak tercatat pada kertas
tersebut.

“Kok kamu ngaku… kan tidak tertulis di dalam kertas laporan ini?”
“Aku pernah telat sholat dan tidak ikut berjamaah, Bu. Mungkin wali asrama lupa menuliskannya…”

Dalam hati kecil, aku merasa bangga kepada mereka. Ternyata mereka masih mempunyai kejujuran di hati mereka walaupun terkadang malu dan takut. Itulah mental! Singkat cerita, mereka pun menulis kan pelanggaran yang telah mereka lakukan berikut poin pelanggarannya dan mereka sudah paham apa hukuman mereka; Sholat Dhuha di tengah lapangan bagi yang terlambat dan yang tidak berjamaah sholat wajib sedangkan bagi yang tidak hapalan Qur’an.

Mereka pun hapalan bersamaku dengan cara mereka berbaris di tengah lapangan dan sambil berdiri mereka menghapal menghapalkan surah yang telah menjadi tagihan mereka selama ini. Tidak tanggung-tanggung ada yang 5-7 ayat.

Bisa aku bayangkan ayat-ayat ini begitu panjang karena mereka memasuki juz 28. Fantastis tidak ada 30 menit mereka sudah mulai maju menyetorkan hapalan Qur’annya. Aku tahu mereka sesungguhnya hebat dan luar biasa.

Hari itu, setelah sebagian anak-anak menyetorkan hapalannya kepadaku. Aku merasa optimis dan semangat. Setidaknya, mulai hari ini mereka akan berusaha untuk mengubah akhlak mereka yang tidak baik.

Tetapi…

Ya Allah, maafkanlah aku. Anak-anak mengulang kembali kesalahannya. Mereka terlambat untuk mengikuti sholat jamaah Dhuhur karena waktu itu banyak guru tidak ada di sekolah. Hari itu, aku memang tidak mengingatkannya.

Aku berpikir mereka telah paham. Setelah itu, mereka yang terlambat dan tidak berjamaah aku kumpulkan di tengah lapangan. Aku terdiam. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk mereka. Semuanya seperti stuk.

Ya Allah, kabar gembira apa yang akan kusampaikan untuk kedua orangtua mereka ketika mereka akan bertanya. Aku pun tertunduk. Hampir putus asa. Akhirnya, kami pun membuat lingkaran di tengah lapangan. Kami pun mulai pembagian surah. Masing-masing anak termasuk diriku pun mulai membaca. Hingga, pada akhirnya kami bisa menutup dengan khataman bersama di tengah terik cahaya matahari pada siang hari. Setelah itu, kami pun berjabat tangan. Kubisikkan ke dalam telinga dan hati mereka.

“Shalihah, ya, Nak..”

Aku tahu mungkin, ketika aku tak mampu berbuat apapun kepada mereka dan aku tidak mampu menundukkan hatiku. Maka aku pun berusaha menundukkan semuanya dengan khalam-Nya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Izinkanlah Aku Mencintaimu karena-Nya""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel