Kisah Nyata "Jalan yang Sempurna"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerita nyata yang inspiratif ini ditulis oleh Nadia Akmala Zamila dengan judul "Jalan yang Sempurna". Dalam kisah ini ia menceritakan tentang perjalanan hidupnya yang sangat berharga untuk dibaca.

Begini, Kisah Nyatanya...

Jika seseorang memberiku harta-benda untuk ditukarkan dengan keluarga yang kumiliki saat ini. Tanpa perlu berpikir aku akan mengatakan,“Tidak.” Makan sehari sekali, berlauk sambal uleg dan ikan asin goreng pun aku rela.

Berpakaian itu-itu terus hingga bagian bokong celana yang menipis pun tak apa. Tas, sepatu, perhiasan, gadget yang kian berkembang menambah hasrat diri ini tuk memiliki, kuhalau pikiran itu tanpa ragu-ragu.

Sejak kecil. Orang tuaku sudah mengajarkanku agar tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu. Hingga saat ini, di umurku yang ke-22 tahun, aku masih tidak bisa makan banyak. Kadang satu porsi makanan kubagi dua dengan adikku.

Bukan karena pelit atau tak punya uang untuk membelinya, namun karena kebiasaan. Makanan di rumah memang selalu disediakan pas-pasan, agar tidak ada yang terbuang. Tak heran jika teman-teman kerap menjulukiku, “Lambung seperempat.”

Keluargaku adalah keluarga yang sederhana, namun sangat menjunjung tinggi nilai agama, moral dan pendidikan. Hidup sederhana itu menyenangkan. Tak perlu berdo’a meminta kekayaan dan harta yang melimpah ruah, cukup dengan diberi kelancaran dalam segala hal adalah do’a yang selalu kami panjatkan. Karena Dia memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Ayah yang kami panggil dengan sebutan “Abi” dan ibu yang kami panggil “Umi” adalah dua insan yang menurutku sangat sukses dalam mendidik anak-anaknya. Bukan hanya diriku, tetapi keluarga besar, tetangga dan teman-teman juga turut mengatakan itu.

Berlatar belakang pendidikan SMA mereka mampu menyekolahkan kami sampai ke jenjang yang tinggi. Gaji dari hasil mengajar ngaji dan mengurus anak yang dititipkan, nyatanya mampu membuahkan hasil dan membuat semua orang terpana tak percaya.

Alhamdulillah. Aku dan kakakku mendapat beasiswa dari pemerintah yaitu Bidikmisi yang sangat membantu membiayai kehidupan perkuliahan kami. Bebas dari SPP per semester dan setiap bulannya mendapat tunjangan hidup adalah hal yang membuatku bersyukur di setiap harinya.

Setelah lulus pun kakakku langsung diterima di perusahaan konsultan dan sekarang ia sudah bekerja di Pertamina. Perusahaan pertambangan minyak dan gas ternama yang gajinya kan bertambah seiring dengan berjalannya waktu dan usia.

Banyak belajar dari kakakku, kadang miris mendengar perjalanan hidupnya. Namun anehnya, itu lah yang memotivasiku untuk terus berpacu meraih prestasi. Ia mengajarkanku cara bertahan hidup di era serba gadget dan teknologi yang kian maju ini. Rumput tetangga lebih hijau. Hal ini yang sering mengacaukan mood-ku secara dadakan.

Kalau ngikutin orang mah nggak akan ada habis-habisnya. Bertindak dan bergayalah sesuai dengan kemampuan.” Masih ingat pesan yang ia kirimkan saat diriku sedang dilanda kesedihan karena terjangkit virus iri akan kemewahan teman.

Bagaimana mungkin sebegitu banyak rezeki yang diberikan Tuhan padaku masih membuatku iri pada rezeki orang lain. Iman yang terjaga, keluarga yang baik, masa depan cerah yang tinggal di depan mata adalah hal-hal yang patut kusyukuri dan belum tentu orang lain miliki.

Saat ini aku berada di penghujung dunia perkuliahan. Masa-masa yang paling banyak diuji. Seperti telur yang berada di ujung tanduk, salah kaprah sedikit, berimbas pada masa depan. Ujiannya macam-macam, tak hanya dari sisi akademik, namun menyangkut juga pada sisi materiil.

Ujianku bermula dari tidak terpilihnya diriku dalam seleksi KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang sebenarnya mampu mempercepat masa studiku sehingga dapat lulus tepat waktu nanti. Ini adalah jalur tercepat karena memanfaatkan waktu liburan untuk menyelesaikan beberapa SKS.

Berulang kali pengumuman KKN dibuka, berulang kali pula aku ditolak. Jerit tangis suara hati mengutuk diri yang tidak kunjung diterima. Padahal aku memiliki IPK yang cukup tinggi dan beberapa orang yang bernilai lebih rendah dariku justru diterima. Entah apa maksud Tuhan memilih jalan ini untukku.

Hari-hari setelah itu aku menjadi tidak semangat, nafsu makan dan kehadiran kuliah menjadi hantaman kekecewaanku. Teman dekatku yang juga ikut mendaftar KKN berhasil lulus. Makin terpuruk lah diri ini dipenuhi dengan ketakutan akan masa depan. “Tuhan, ikhlas-kan diri hamba tuk menjalani semua ini,” begitulah rintihan do’a yang selalu kututurkan usai sholat. Satu bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa posko KKN temanku dibobol pencuri.

Beberapa hp, laptop dan charger hilang dibawa kabur, termasuk milik temanku. Mendengar kabar itu jantungku tersentak, tampak terkejut dengan bibir yang terus melafalkan “astaghfirullah,” berulang kali. Namun hati kecilku berbisik, “inilah maksud dari semuanya, terima kasih, Tuhan.”

Beberapa hari kemudian. Aku dan temanku menghadap dosen untuk membicarakan masalah penelitian. Alhamdulillah. Allahu akbar. Kerja keras kami terbayarkan. Penelitian kami akan didanai oleh dua orang dosen terbaik selama masa kuliah.

Mereka mendukung penelitian- penelitian kami dan memiliki empati besar pada mahasiswa. Sangat sedikit sekali mahasiswa yang penelitiannya didanai dosen. Oleh karena itu, aku amatlah bersyukur mendapatkan kesempatan ini. Lagi-lagi hati kecilku berbisik, “inilah maksud dari semuanya, terima kasih, Tuhan.”

Masa-masa penelitian ternyata tak seindah yang kubayangkan. Menanam dan merawat padi seluas 600 m 2 nyatanya kerap membuat pinggang encok, warna tubuh eksotis dan keletihan yang teramat sangat. “Begini rasanya ikut projek dosen, capek bukan main!!” teriakku geram. Mulai menyesali ini-itu, mengapa tidak begini-begitu.

Oh tidak, waktu tidur, bermain dan foya-foya di- skip hingga 6 bulan ke depan. Diri ini fokus pada lahan dan laboratorium. Kegiatan rutin tiap hari, pagi hingga sore di lahan, malam hingga pagi di laboratorium.

Sangat menyita waktu sekali. Rasanya sudah ingin pingsan saja dan berhenti dari kegiatan ini. Beruntung, teman satu projekku selalu menyemangati. Lebih tepatnya kami saling menyemangati satu sama lain.

Di tengah penelitian berlangsung. Aku memberanikan diri tuk mengirimkan sebuah email pada seorang profesor di Korea Selatan. Berisikan tentang penelitianku dan skripsi yang akan aku bahas nanti, sembari bertanya perihal beasiswa untuk program master. Alhamdulillah.

Profesor tersebut tertarik dengan penelitianku dan sangat welcome sekali. Ia adalah salah satu tim
seleksi beasiswa yang akan aku kejar nantinya. Kembali hatiku berbisik, “inilah maksud dari semuanya, terima kasih, Tuhan.”

Kini aku tengah menjalani detik-detik terakhirku mendapatkan gelar serjana. Do’a-kan semuanya dipermudah dan tentunya do’akan aku agar bisa menempuh jenjang pendidikan lebih tinggi lagi, karena dalam lubuk hati aku masih sangat ingin kuliah. Namun, aku tidak tahu seperti apa nantinya. Kita hanya bisa berencana, Allah SWT yang menetapkan, karena itu jalan terbaik.

Sekian kisah singkat hidupku. Kuharap dapat memberikan inspirasi bagi sesiapa pun yang membutuhkan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Jalan yang Sempurna""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel