Kisah Nyata "Jembatan Kayu"

KisahTerbaik.Com- Rangkalai cerita ini dituliskan oleh Darin Afifah dengan judul "Jembatan Kayu". Dalam kisah ini ia membagikan tentang pengalaman berarti bagi segenap pembaca yang sedang mencari kisah inspiratif masa kecil.

Begini, Kisahnya....



Waktu kecil adalah hal yang dimana kita manfaatkan waktu bahagia sebaik-baiknya, belajar untuk ingin cepat dewasa, belajar bagaimana caranya berteman, belajar mengenal berbagai permainan non elektrik, belajar menjelajah alam. Sekarang aku sadar, semakin kita tumbuh besar, semakin banyak beban kita, semakin sedikit waktu bebas.

Waktu kecil, kadang kita selalu membuat harapan, harapan untuk cepat-cepat dewasa, harapan memiliki cita-cita sesuai keinginan, harapan untuk terus bersama-sama hingga besar. Dan mungkin akan menjadi sesuai harapan atau tidak, hanya Tuhan yang tahu.

Kalau kalian disuruh memilih hal apa yang membuat waktu kecil kalian berasa berharga? Kalau aku, melihat sungai diatas jembatan kayu. Disana aku membuat sejarah, sejarah yang takkan kulupakan untuk selama-lamanya. Bersama temanku, Rama.
🌉🌉🌉

13 tahun yang lalu....

"Talitha ayo kejar aku! Kamu cemen, ah!" teriak Rama, dia mengejekku sambil mengacungkan jari jempol terbalik dari jauh sana. Dia usil, dia suka mengambil bonekaku.
"Rama kembalikan! Kalau tidak, akan aku adukan kamu ke Ibuku!" balasku. Ini sudah kesepuluh atau lebih dia mengambil boneka kesayanganku.

Rama tidak mendengarkanku, dia berlari semakin jauh. Aku kejar dia, aku seharusnya paham kalau dia laki-laki, tenaganya lebih kuat dariku. Dimana dia? Aku sudah tidak menemukan batang hindungnya, dia lari cepat sekali. Aku terus mencarinya, meski lelah, tapi itu boneka yang sangat kusayangi.

Aku menelusuri hutan-hutan yang rindang (saat itu masih ada pepohonan, bukan hutan, tapi warga setempat memanggilnya hutan), masih belum aku temukan juga. Hingga aku menemukan sebuah jembatan kayu, ada sesosok anak laki-laki seumuran denganku diam disana. Aku menduga bahwa dia itu Rama.

Aku mendekatinya. "Rama!" teriakku.
Dia menoleh ke arahku, dan mengatakan dengan santainya tanpa ada wajah dosa sedikitpun," nih, punyamu." Dia mengembalikan boneka milikku.

Aku menerimanya. Hari ini dia terlihat aneh, biasanya kalau sudah ketahuan dia akan kabur lagi atau sembunyi di rumah, tapi sekarang dia tidak melakukan itu. Tunggu, kini aku berada di hutan, aku sudah ada di hutan. Kata Ibu, aku tidak boleh bermain disini, Ibu takut aku tersesat, begitu juga yang dikatakan Ibunya Rama.

"Rama ayo pulang!" ajakku. "Kita sudah bermain cukup jauh."
"Tidak apa-apa Talitha. Sebenarnya aku mengambil bonekamu untuk mengajak kamu kesini, karena kalau tidak, kamu tidak akan mau," jelas Rama. "Thalita, liat! Air di sungai ini bersih ya?"
"Iya," balasku. "Ayo pulang Rama! Kalau kita tersesat pasti ibu kita khawatir."
"Tidak akan tersesat Talitha. Aku sudah ke sini selama tiga kali, dan aku hafal jalan pulangnya." Rama berusaha menenangkan.
"Benarkah?" tanyaku.
"Iya," jawab Rama. "Ayo Talitha, kita turun!"
"Jangan! Nanti kau terbawa arus sungai," ucapku.
"Tidak, arus airnya tenang kok."

Aku ke bawah, ke pinggir sungai bersama Rama. Aku kira kita mencebur ke dalam sungai, tapi ternyata Rama hanya mengajakku di tepi sungai.

"Sekarang kita akan ambil batu-batu sungai ini untuk kita taruh di jembatan kayu itu," ucap Rama.
"Untuk apa?" tanyaku."
"Sudah, turuti aku saja," ucap Rama lagi.

Aku menuruti perintah Rama. Aku dan Rama mengambil batu sebanyak-banyaknya, dan diletakkan di pinggir jembatan. Aku segera ke jembatan kayu itu karena Rama sudah ada disana.

"Sekarang batu-batu ini untuk apa?" tanyaku yang masih bingung untuk apa batu-batu ini.
Rama menjawab, "aku mau buat permainan, siapa yang bisa jauh melempar batu ini ke sungai, dia yang menang."
"Oke, siapa takut."

Aku dan Rama melempar batu-batu itu bersamaan ke sungai. Dan sialnya, aku selalu kalah, lemparan Rama sangat jauh dariku.

"Sudahlah, aku capek. Aku selalu kalah. Ini sudah sore Rama, ayo.kita pulang!" ajakku.
"Oke, tapi besok kita ke sini lagi ya!" tawar Rama.
"Iya, tapi jangan bilang-bilang siapa-siapa," ucapku.
Rama menunjukkan jari jempolnya, kini tidak terbalik."Sip...."

Sekarang, jembatan kayu itu menjadi tempat bermain kami. Kami sering bermain di sungai, memancing atau menangkap ikan, bermain perang-perangan, dan lain-lain.

"Talitha! Kita harus selalu bersama ya, sampai kita dewasa," ucap Rama.
"Iya," balasku.
"Temanku satu-satunya kamu, aku tidak mau pisah denganmu," ucap Rama.
"Kalau kita akan berpisah bagaimana?" tanyaku.
"Entahlah. Tetapi kalau kita pisah, kita sudah dewasa, katanya, orang dewasa selalu memiliki jalan keluar," jawab Rama.

Aku hanya membalas dengan tersenyum dan berdoa agar aku tidak pisah dengan sahabat terbaikku. Tapi kenyataannya, Tuhan tidak mengabulkan doaku. Rama pindah rumah karena pekerjaan Ayahnya di kota. Itu terjadi saat aku dan Rama masih duduk di bangku kelas empat SD. Dia bilang itu saat dia mengajakku ke jembatan itu, tempat kami sering berkumpul.

"Talitha, aku mau bilang," ucap Rama, nada bicaranya tidak sesuai seperti yang kemarin-kemarin, terdengar lesu. "Aku mau pindah rumah di kota yang jauh."

Aku kaget, tentu saja. Aku kira dia akan ada selama-lamanya sampai aku dewasa, karena dia pernah bilang begitu. Ini terlalu cepat Rama, jangan pergi.
Aku tidak tahu harus bicara apa lagi.

"Tidak usah khawatir, Talitha. Aku janji, kapan-kapan aku ke sini, temui aku di jembatan ini." Mungkin Rama tahu bahwa aku akan merindukannya, makanya dia bilang begitu.
"Kapan kamu pindah?" tanyaku berusaha menahan tangisan yang ingin keluar dari mataku.
"Nanti sore, pukul 17.00."

Aku pulang bersama Rama ke rumah. Disana, aku melihat Keluarga Rama sedang sibuk membukus barang-barang yang akan dibawa. Satu per satu barang-barang di rumah Ryan dikeluarkan. Aku melihat Rama dari depan rumahku (rumahku dan rumah Rama bersebelahan) yang juga sibuk memilih mainan yang akan dibawa nanti. Kedua orang tuaku juga ikut membantu Keluarga Rama.

Malamnya aku mengurung diri di kamar, semenjak Keluarga Rama pergi bersama barang-barangnya.
Ibu mengetuk pintu kamarku. "Talitha." Sepertinya Ibu khawatir dengan keadaanku karena ini sudah yang beberapa kalinya ibu mengetuk pintu kamarku.

"Tidak dikunci, Bu!" teriakku dari dalam kamar.
Terdengar suara Ibu membuka pintu kamarku. Ibu datang ke arahku.
"Ibu tahu, kamu sedih karena Rama pergi kan? Ibu bisa menebaknya," ucap Ibu.
"Bagaimana Ibu bisa tau?" tanyaku.
"Jangan remehkan perasaan Ibu tentang anaknya." Ibu memegang kedua pipiku dan mengarahkan ke arahnya. "Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, Nak."
"Kenapa Rama pergi Bu?" tanyaku. Sepertinya aku tidak dapat membendung Air mataku, aku menangis dihadapan Ibu.
"Nangislah, Nak." Ibu memelukku. "Rama pergi karena pekerjaan Ayahnya. Kita tidak tahu apa takdir Tuhan kepada kita, kita harus menerima takdir apapun itu."

Hari itu, aku menangis merindukan Rama yang jahil dan menyebalkan, merindukan Rama yang membuatku bahagia, merindukan Rama yang sudah menjadi satu-satunya sahabatku.
🌉🌉🌉

Aku Talitha, umurku 17 tahun. Setiap hari, sepulang sekolah aku selalu melewati jembatan ini karena aku ingat dengan janji sahabatku yang sudah terpisah selama 8 tahun. Aku berharap, suatu saat aku akan bertemu dengan dia disana. Tapi nyatanya, dia selalu tidak datang.

Perasaan cemas selalu menghantuiku. Apakah dia lupa denganku? Apa dia lupa dengan janjiku? Apa dia sedang sibuk disana? Atau Tuhan sudah membuat takdir kalau aku tidak akan bisa bertemu dengannya, agar aku tidak terus menunggunya di sini, di jembatan ini. Kalau ini mau Tuhan, ini adalah terakhir kalinya aku ke sini, dan aku tidak akan ke sini lagi.

"Talitha!" Suara laki-laki yang tidak aku kenali memanggil namaku. Aku menoleh, ada sesosok laki-laki tinggi mengarah kepadaku. Kuharap dia Rama, seseorang yang selalu aku rindu.
"Apa kau Rama?" tanyaku saat laki-laki itu sudah disampingku.
"Iya, aku Rama," balasanya.
"Rama!" Aku memeluk Rama. "Rama kenapa kamu datangnya lama sekali, aku rindu kamu. Setiap hari aku selalu melewati jembatan ini agar aku bisa bertemu denganmu."
"Maaf Talitha, tapi aku tidak akan melanggar janjiku," ucap Rama. "Dan mungkin, kamu tidak akan merindukanku lagi sampai separah ini."
"kenapa?" tanyaku.
"Aku akan pindah ke sini, kita akan menjadi tetangga lagi. Itu karena Ibuku tidak betah tinggal di kota, walau sudah beberapa tahun." jelas Rama.
"Aku senang mendengarnya," ucapku. "Tapi maaf, aku tidak bisa merawat sungainya. Sungainya jadi banyak sampah karena warga sering membuang sampahnya kesini."
"Iya, tidak apa-apa. Kapan-kapan kita bersihkan sungai ini dari sampah." Rama tersenyum. "Yang terpenting kau sama seperti Talitha yang dulu, dan sampai sekarang kamu masih menjadi Talitha yang aku sukai," kata Rama lagi.
- END -

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Jembatan Kayu""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel