Kisah Nyata "Kehidupan"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerita nyata ini dituliskan oleh Aisyah Putri dengan judul "Kehidupan" dalam stori ini ia mengisahkan kepada segenap pembaca tentang beberapa pengalaman menarik yang dialaminya.

Begini, Kisahnya...

Angin berhembus, menerbangkan sebagian jilbab yang kukenakan. Sang senja memperlihatkan semburat cahayanya. Aku sedang menunggu bus kota yang akan mengantarkanku pulang setelah keruwetan rumus-rumus fisika yang tadi aku pelajari. “Neng, Caheum neng.” Ujar kenek bus. “iya mang.” Balasku.

Sesampainya di rumah aku langsung mandi dan menunggu maghrib datang. Setelah adzan selesai berkumandang, aku langsung mengambil air wudhu dan langsung menunaikan kewajibanku, entah mengapa hatiku sangat kacau saat ini.

Sehingga saat inilah dimana aku bisa mengadukan semua keluh kesah. Ada kekesalan yang kutahan, ada tangis yang memberontak keluar. Aku tak mengerti dengan diriku sendiri, aku tak tahu apa yang aku rasakan.

Entahlah, mungkin ini hanya kekecewaanku saja. Mungkin juga aku hanya lelah karena ada kelas fisika tambahan bagi anak yang ikutan olimpiade seperti diriku. Aku ingin bercerita kepada seseorang, mengeluarkan semua apa yang aku rasa. Namun, saat ini aku hanya bisa menangisi hal tersebut. Entahlah, aku bukanlah seorang yang tegar seperti kelihatannya, bayangkan saja, setiap harinya aku harus mendengarkan jeritan-jeritan amarah orang tuaku, belum lagi sepulang sekolah aku harus mengikuti kelas tambahan untuk persiapan olimpiadenya.

Besok adalah hari olimpiade itu. Namun, aku tak yakin dengan keadaan diriku. Aku seperti ingin tumbang malam ini, pikiran dan hatiku kacau balau. Bukannya aku tak yakin jika bercerita kepada sahabat-sahabatku.

Hanya saja, aku ingin seseorang yang lain saat ini. Tak terasa kumandang adzan isya terdengar, dan aku lekas melaksanakan sholat isya, dan membaringkan tubuhku di kasur. Entah apa yang akan terjadi esok hari, aku berharap keadaanku akan membaik.

Paginya aku merasa baikan setelah melaksanakan sholat subuh, aku langsung bersiap mandi dan sarapan. Sebenarnya olimpiade itu masih besok, bukan hari ini. Namun, karena perjalanannya antar kota, jadi harus berangkat dari sekarang. Aku berangkat ke sekolah untuk berkumpul dengan teman-temanku yang lain sesama peserta olimpiade.

Melihat wajah-wajahnya sih aku tidak terlalu kenal dengan mereka. Kami beda mata pelajaran yang di olimpiadekan otomatis kami berbeda kelas juga. Bermodal Al-qur’an untuk menemani perjalananku selama kurang lebih enam jam kedepan.

Sesampainya di hotel, aku sekamar dengan teman-temanku yang perempuan. Aku mulai berkenalan satu sama lain. Namun tetap pikiranku tak bisa fokus, aku berdo’a saja semoga dilancarkan segala sesuatunya.

Malamnya, aku mencoba mencari angin keluar kamar sendiri. Aku mengajak mereka, namun mereka memutuskan untuk berlatih di kamar. Kau tahu, berlatih rumus fisika berkali-kali apalagi di dalam ruangan sangatlah tidak menyenangkan bagiku.

Aku memilih duduk di taman hotel yang bersebelah dengan cafe hotel tersebut. Aku memesan satu
machalatte tadi sebelum ke taman.

Baru saja menikmati selama 10 menit, aku merasakan seperti ada yang duduk tak jauh dariku. Aku melirik ke sebelahku, memang benar ada seseorang yang sedang menyesap vietnam drip ditangan kanannya, dan memegang buku kimia ditangan kirinya. Aku kembali memfokuskan diriku kepada buku fisika yang kupegang. Setelah merasa cukup malam, aku melangkahkan kakiku untuk kembali ke kamar dan beristirahat untuk esok hari.

Matahari mengeluarkan cahayanya dengan malu-malu, saat aku sedang mengasyikkan diriku dengan novel yang kubawa. Pesan masuk melalui ponselku dari pembimbing sekolah untuk kami segera bersiap.

Aku yang sudah mandi dari tadi segera merapihkan diri dan membereskan barang-barangku sekalian check out. Sepuluh menit kemudian aku keluar terakhir dari kamarku, dan bertemu laki-laki yang semalam ada di taman saat di lift. Kami hanya saling terdiam.

Sesampainya di tempat berkumpul, kami semua sarapan terlebih dahulu dan langsung berangkat ke tempat olimpiade yang tak jauh dari hotel. Pembimbingku memberi arahan singkat dan menyemangati kami semua. Setelah itu kami semua masuk ke ruangan masing-masing yang telah ditentukan.

Dua jam kemudian, aku keluar dari ruanganku dan berkumpul dengan yang lainnya. Pengumuman akan diumumkan sore harinya. Jadilah kami harus menunggu sampai sore, sebentar lagi adzan dzuhur terdengar.

Pembimbingku mengarahkan kami ke mushola untuk beristirahat sekaligus sholat dzuhur disana. Setelah sholat dzuhur, aku memutuskan duduk di teras mushola, memisahkan diri dari rombongan sekolahku untuk sekedar menikmati kota yang berbeda dari tempat kelahiranku.

Jujur, aku takut. Aku takut dengan hasilnya akan seperti apa. Pikiranku kembali kacau, aku berkecamuk dengan pikiranku sendiri, entah apa yang membuatku begini. Selang berapa menit, ada orang yang menyodorkan nasi kotak dan teh botol ke arahku. “Eh,” ujarku terkaget.

“Sorry buat lo kaget, abis dipanggil kaga nyaut-nyaut.” Ujar seseorang yang semalam ada di taman dan se-lift denganku tadi pagi.
“Eh iya, gua tadi ngelamun.” Jawabku sembari mengambil nasi kotak yang ia sodorkan.
“Dari pembimbing?” tanyaku, ia mengangguk.
“Kenapa ga gabung sama yang lain?” tanyanya.
“Pengen aja di luar.” Balasku. “Lagi banyak pikiran ya.” Aku terdiam, dan menyuap setiap nasi ke mulutku dengan cepat agar tidak ada alasan untukku berbicara. Dia mengalihkan pandangannya ke langit yang cerah saat itu.
“Coba deh lo deketin lagi Allah, kalau masih kacau, berarti lo belum bener-bener nyerahin semuanya ke Alloh. in sya Alloh bakal dikasih ketenangan.” Ujarnya seolah tau apa yang kurasakan.

Lumayan lama kita mengobrol hingga akhirnya adzan ashar terdengar, dan kami pun melangkah masuk ke mushola untuk melaksanakan sholat ashar. Setelah selesai menunaikan sholat ashar kami langsung menuju aula, untuk menunggu pengumuman hasil olimpiade.

Sekarang aku lebih tenang, tidak peduli hasilnya akan seperti apa, karena sekarang aku merasa punya teman. Aku merasa ada seseorang yang akan membantuku, tak peduli sekacau apa aku. Karena dalam suatu kehidupan ada kalanya kita perlu untuk bangkit karena seseorang yang tidak terduga sama sekali. Percayalah, skenario tuhan tetaplah yang terbaik.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Kehidupan""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel