Kisah Nyata Kesabaran Berbuah Kebahagiaan

KisahTerbaik.Com- Rangkaian cerita nyata ini ditulsiken oleh Irmayani dengan judul "Kesabaran Berbuah Kebahagiaan". Dalam kisah ini ia membagikan sejumlah pengalaman inspiratif untuk segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisahnya...

Aku adalah seorang Siswi SMA N 1 MASBAGIK.Aku berada dikelas X SAINS 2,Aku biasa dipanggil Azira.Sekolahku ini dikenal sebagai sekolah terfavorit di wilayahku.Aku sangat bersyukur bisa sekolah disana,ini semua berkat Ayahku yang selalu berusaha waktu itu,andai saja aku tidak menuruti saran dari Ayah pasti aku tidak bisa bersekolah disana.

Tapi sekarang ini,Beliau sedang sakit-sakitan dan belum diketahui penyebab penyakitnya,walaupun sudah dibawa kesana kemari untuk berobat tapi belum juga ada perubahan bahkan hampir 7 kali bolak-balik ke Rumah Sakit. Dan sekarang ini,hanya Ibu yang harus mencari nafkah untuk kedua adikku juga,yaitu dengan berjualan kerupuk. Disamping itu,Aku beruntung bisa gratis bayar bulan di sekolah karena Aku waktu itu berdaftar lewat jalur prasejahtera,sehingga Mengurangi sedikit beban Ibu.Walaupun Aku berangkat dari keluarga yang sederhana,tapi Aku percaya Allah pasti telah mempersiapkan keajaiban dibalik cobaan.

Suatu hari,jam 05.00 Ayam sudah bersahut-sahutan mengeluarkan suaranya.Dan kini saatnya untuk Aku bergegas ke sekolah,kebetulan hari ini Aku sedang menghadapi Ulangan Harian 1 terjadwal semester 1. Dan seluruh siswa kelas X datang ke sekolah Jam 10.00.

Pada saat Aku mau berangkat ke sekolah,tiba-tiba penyakit Ayahku kumat lagi sehingga harus dibawa ke Rumah Sakit,dan kini Aku jadi serba bingung.

“Aku sekolah atau tidak,yaa”,dengan perasaan sedih dan sambil meneteskan air mata.

Tapi lama-lama aku berpikir,Aku teringat dengan pesan kedua orang tuaku bahwa bagaimanapun keadaan kita,kita harus punya pendidikan.Dari situ Aku berpikir optimis untuk pergi ke sekolah walaupun dengan perasaan khawatir.

Beberapa menit kemudian,Aku sampai di Sekolahku.Tapi kini dengan perasaan yang tidak biasanya,rasanya pelajaran yang ku pelajari semalam sudah hilang begitu saja dengan campuran perasaan cemas.

Pada saat ku berjalan sambil melamun,tiba-tiba ada yang manggil Aku,ternyata itu teman sekelasku yang bernama zaskia.

“Hai,dari tadi kupanggil,kok kamu tidak denger sih?”tanya zaskia dengan perasaan bingung.
“Mmmm,Yaa Aku tidak denger tadi”,kataku dengan suara lemas.
“Kok,suaramu lemas sekali,tidak biasanya loh?”,tanya zaskia.
“Ndak kok,kamu aja mungkin yang tidak biasa.”jawabnya dengan suara lemas.
“Yaaa..ndak sih,kamu itu kayak orang tidak ada gairah hidup gitu”,Kata zaskia saking penasaran.
“Mmm,yaudah cepetan yuk kita ke kelas”,kataku dengan mengalihkan pembicaraan zaskia.
“Yaudah,Ayo”jawabnya dengan merasa aneh.

Dengan beberapa langkah,kemudian Aku sampai di ruanganku.Sekumpulan teman-teman sedang
belajar sambil menunggu bel masuk.

“Teman-temanku sedang belajar tapi aku hanya diam memikirkan suasana di Rumah Sakit disana,seakan-akan aku ingin sekali pulang”,kataku di dalam lubuk hatiku yang paling dalam.

Teet......bel berbunyi dan semuanya bergegas untuk masuk ke ruangan masing-masing.Dan kini Aku hanya bisa berjalan sambil melamun,hingga ada temanku yaitu adira yang menepuk pundakku.

“Azira,kamu kenapa kok jalannya lambat sekali?”tanya adira.
“Eee,tidak apa-apa kok,jalan aja duluan”,jawabku dengan rasa kaget.
“Oke,kalau gitu”jawab adira.

Dan kemudian guru-guru sudah memasuki ruangan dan membagikan soal ulangan.

“Apakah Aku bisa menjawab soal tersebut dengan perasaan tidak keruan”,bertanya didalam hatiku. Sesudah beberapa menit kemudian,Ulangan sudah selesai baik jam ke-1 ataupun jam ke-2.Dan kini semuanya sudah berjalan untuk pulang.Dengan perasaan tidak keruan,Aku tetap jalan dengan cepat bersama temanku yaitu Erisa.

“Azira,kamu kenapa jalannya cepat sekali?”tanya erisa dengan kebingungan.
“Tidak apa-apa kok,yaudah cepetan yuk”,jawabku dengan terburu-buru.
Aku dan erisa melanjutkan perjalanan pulang dengan terburu-buru,walau Erisa kelihatan
kebingungan dengan sikapku.Tak lama kemudian,Kami sampai di rumah Erisa.
“Azira,masuk yuk”,ajakan erisa.
“Ndak usah,ku pulang dulu ya”,jawabku dengan lelah.
“Yaudah,hati-hati ya”,kata erisa sambil melambaikan tangannya.
“Iya”,jawabku.

Sesampainya Aku dirumah,ternyata Rumahku kosong berarti Ayahku belum pulang.Tapi Aku langsung sholat,didalam sholatku Aku selalu berdoa tentang kesembuhan Ayahku.

“Ya Allah,Ya Rahman,berikan kesembuhan untuk Ayahku dan Angkatlah penyakitnya.Kami sudah
berusaha mencari obat buat kesembuhan Ayahku,sudah hampir satu tahun Ayahku sakit-sakitan dan
berikan kesempatan untuk hidup agar beliau melihat Aku berhasil suatu hari nanti.”doaku dengan
meneteskan air mata.

Seiring dengan Aku selesai berdoa,tiba-tiba bibikku memanggil Aku yang pulang dari Rumah Sakit.

“Azira..”kata bibik dengan suara cukup keras.
“Iya”,jawabku sambil mengusap air mata yang bercucuran.
“Besok,Ayah pulang”,kata bibik.
“Alhamdulillah,Ya Allah”,jawabku dengan sedikit lega.

Aku bersyukur kepada sang ilahi yang telah mendengar doaku,tapi aku tetap saja sedih karena pasti Ayahku akan seperti dulu yang masih terahasia penyakitnya.

Waktu terus berjalan hingga tiada rasa akan mulai malam,kini Aku tidur di Rumah Nenek bersama bibikku dan satu adikku sedangkan adikku yang satunya ikut bersama Ibukku di Rumah Sakit. Namun,Aku tidak bisa tidur karena kepikiran keadaan Ayahku seakan-akan Aku terbayang ada
suara ambulans yang akan datang membawa Ayahku.Hingga ku memutuskan untuk sholat malam
dan selalu ku iringi dengan doa untuk kesembuhan Ayahku.

Kini tak lama kemudian,tidak terasa pukul 04.00 dan kini Ayam sudah berkokok,itu tandanya hari sudah mulai pagi.Karena hari ini juga hari terakhir Ulangan Harian dan hari ini juga pulangnya Ayah dari Rumah Sakit,Aku harus bersemangat untuk belajar agar semua soal bisa ku jawab nantinya.Dan kini Aku belajar sementara waktu ku nunggu jam 10.00.

Hingga tidak terasa,mentari sudah besinar dan memantulkan jendela sinarnya,dan jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Sementara Aku berangkat dan menunggu Ayahku pulang,Aku biasanya melaksanakan sholat duha agar semuanya diberi kelancaran.

Waktu kini sudah menunjukkan 09.30,tapi Ayahku belum juga sampai di rumah.Sedangkan Aku harus berangkat ke sekolah karena jarak rumahku dari sekolah cukup jauh,sehingga Aku memutuskan untuk berangkat ke sekolah saja.

“Nanti aja ku lihat Ayah waktu pulang dari sekolah,sekarang ini Aku harus fokus untuk Ulangan Harianku”,jawabku didalam hati.

Seiring waktu berjalan sampai selesainya menyelesaikan soal Ulangan harianku,hingga terdengar pengumuman dari salah satu Guru bahwa besok akan diadakan classmeating dan disebutkanlah lomba-lomba yang akan diadakan.

Namun, tidak ada satu pun lomba yang ku minati,karena Aku sangat suka membaca dam menulis cerita.Sedangkan Aku ingin sekali mengembangkan Potensi ku agar Aku bisa membanggakan Kedua orang tuaku.Sehingga Aku teringat waktu Aku ikut Seminar yang pembicaranya Mr.Syafi’i Efendi yang menyatakan ”Berhentilah hanya sebatas menonton dan mencaci...Mulailah berbuat dan berkreasi...Komentar tidak akan mengantarkan Anda kemana- mana.Tapi Karya yang akan membuat Anda kemana-mana

Dari situ Aku akan bertekad untuk berkarya apapun caranya.Hingga Aku teringat dengan perkembangan teknologi yang sekarang ini semakin pesat khususnya di Indonesia.Aku akan manfaatkan itu untuk mengembangkan potensiku.

Waktu yang semakin berjalan,Aku kini sibuk dengan Aku mencari jadwal lomba yang diadakan tahun ini memakai handphone pemberian dari saudaraku.

Sehingga sampai Aku menemukan salah satu lomba yaitu lomba menulis cerpen,tanpa Aku berpikir lama ,Aku langsung tertarik dengan perlombaan tersebut apalagi lombanya bersifat free walaupun tempatnya jauh.Apapun tantangannya Aku harus bisa melakukannya.

Hari demi hari ku habiskan waktuku untuk membuat cerpen tersebut agar bisa ku kirim tepat waktunya.Sehingga tiada terasa hari itu dan langsung ku kirim lewat email meskipun masih belajar menggunakan socmed.

Hingga lama ku tunggu-tunggu pengumuman juaranya.Sampai waktu ku pulang sekolah,Aku membuka handphoneku,tiba-tiba Aku dapat email dari alamat email yang mengadakan lomba cerpen tersebut.Setelah Aku membaca panjang lebar dari email itu,ternyata Aku dapat juara pertama untuk
lomba tersebut.

“Alhamdulillah,Ya Allah...ternyata waktu yang kutunggu-tunggu dari sejak SD sampai sekarang ini,Akhirnya datang juga,terima kasih Ya Allah engkau mengabulkan doaku”,kataku sambil
menadahkan tangan dengan kegirangan.

Benar kata orang bijak bahwa”Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”,walaupun dari SMP Aku coba mengasah kemampuanku terus-menerus tapi Aku tetap saja tidak dapat apa-apa,semua itu kuanggap sebagai pengalaman yang akan selalu ku ukir untuk menuju kesuksesan,hingga sekarang ini.

Dan benar kata Mr.Syafi’i Efendi dalam seminarnya menyatakan bahwa”Banyak orang yang gagal karena tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan ketika menyerah”.Walaupun Aku dulu pesimis tapi sekarang Aku optimis karena keadaan keluargaku yang sekarang ini. Namun,Ada sedikit masalah dengan pemberian hadiahnya.

“Tapi,bagaimana caranya Aku mengambil hadiahnya sedangkan jaraknya jauh?”,tanyaku di dalam hatiku.

Dibalik itu semua aku dapat balasan email dari alamat email lomba tersebut bahwa mereka akan datang ke sekolah untuk pengantaran hadiahnya.

Hingga Aku sudah berada di dalam sekolahku.Setelah sekian jam ku tunggu-tunggu,hingga terdengar pengumuman yang menyebut namaku yang dimana Aku ditunggu oleh seseorang di Loby bersama Bapak Kepala Sekolah.Ternyata itu panitia lomba cerpen tersebut dan memberiku hadiah tersebut.

Disamping itu,Aku terkejut terhadap penjelasan panitia itu yang menyatakan Aku akan dikirim untuk mengikuti lomba tingkat selanjutnya.Mendengar semua itu,Aku tidak sabar akan memberitahu orang tuaku dirumah.

Beberapa jam kemudian,bel pulang sudah tiba.Aku langsung cepat-cepat untuk pulang,sampai akhirnya Aku tiba dirumah dengan teriak memanggil Ayahku.

“Ayah.....”,teriakku dengan kegirangan.
“Ada apa,kok teriak-teriak”,kata Ayah dengan wajah kebingungan.
“Yah,lihat ni”,sambil menunjukkan hadiahnya.
“Apa itu?”jawab dengan penasaran.
“Ini hadiah,dari lomba yang ku ikuti bahkan Aku akan dikirim lomba lagi untuk tingkat selanjutnya”,kataku dengan terharu.
“Alhamdulillah...”jawab ibu menghampiriku dengan wajah terharu juga.

Akhirnya,dibalik kisahku yang penuh dengan cobaan,tapi Allah menselipkan kebahagiaan di tengah rintangan yang datang.Sehingga Aku bisa membanggakan kedua orang tuaku,walaupun itu mungkin tidak cukup bagi mereka.Kini Ibu tidak lagi susah payah mencari nafkah karena Aku yang akan mencarinya dengan ku kembangkan karyaku yaitu menulis cerita.

Dan setelah Aku mengikuti lomba dimana-mana,sekarang ini Aku dianggap sebaga seorangi penulis termuda di Indonesia. Ini yang namanya”Kesabaran berbuah Kebahagiaan”.Disaat keluargaku ditimpa musibah,disitu saatnya keluargaku harus mengikhlaskan semuanya dengan bersabar.

Dibalik kesabaran itu kita mencari penyelesaian masalahnya.Ditengah kesibukan Aku,Aku juga menerapkan satu motivasi seminar yang waktu itu Aku ikuti yang menyatakan”Berdoalah sampai menangis...Kemudian bergeraklah sampai berdarah...Masa depan yang cerah suka keduanya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata Kesabaran Berbuah Kebahagiaan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel