Kisah Nyata "Kisruh Juragan Contekan"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah nyata ini berjudul "Kisruh Juragan Contekan" yang dituliskan oleh anonim. Dalam ceritanya ia membagikan sejumlah pengalaman di waktu Sekolah Menengah Atas (SMA). Semoga bisa menjadi sumber bacaan.

Begini, Kisahnya...

Banyak orang bilang masa SMA itu paling menyenangkan. Tidak sedikit film, novel, cerpen yang mengabadikan kisah kasih di SMA atau solidaritas persahabatan di SMA. Buatku sendiri sih, masa SMA itu memang paling beda..

Tenang saja, kalian akan mengerti maksudku setelah ini. Salam kenal semua, panggil saja aku Dewi.

Awal tahun ajaran baru selalu terasa panas.
Panas udaranya karena lagi musim panas.
Panas hatinya karena berpisah dengan teman sekelas.
Panas otaknya karena minggu depan harus mulai belajar lagi.
Panas juga matanya karena suka ada anak baru… Ups.

Karena memilih masuk jurusan IPS, aku terpisah dengan teman-teman dekatku yang sebagian besar mengambil jurusan IPA. Teman dekatku yang memilih jurusan IPS pun tidak sekelas denganku. Jadi, bisa dibilang aku sendirian.

Banyak rumor di angkatanku tentang kerasnya mencari teman di jurusan ini. Saat itu, murid- murid yang memilih jurusan IPS terkenal kalau bukan karena gosipnya, ya kasusnya. Sebagai makhluk sosial, insting pertamaku adalah langsung usaha cari teman baru.

Ada beberapa hal yang aku lakukan untuk menemukan teman yang cocok, salah satunya dengan melihat daftar nama. Kalian pasti ingat, biasanya daftar nama kita ditempel di depan pintu kelas waktu tahun ajaran baru dimulai. Aku mencari nama yang kira-kira bisa didekati.

Kesimpulannya, aku ada di kelas yang… Kacau.

Ketika menulis bagian ini, aku bahkan masih ingat rasa mualnya saat membaca daftar nama itu. Bau pintu yang baru dicat turut menambah pusingnya kepalaku. Kelasku ada di paling pojok, dekat kantin, dengan ubin yang entah kenapa lebih rendah dari tanah di sekitarnya.

Aku ingat kelas ini sering tergenang air saat hujan deras. Jadi, kalau kelas ini sudah kebanjiran, kemungkinan besar satu sekolah akan dipulangkan. Murid-murid kelas ini punya reputasi yang sudah tak diragukan lagi. Jelek, maksudnya.

Aku duduk di baris kedua paling depan karena di belakang biasanya berisik.

Toleh kiri, senyum, canggung.
Toleh kanan, senyum, canggung.
Lalu terdengar bunyi jangkrik…

Begitu terus sampai 2 minggu berikutnya. Ada sih, orang yang ajak bicara tapi cuman nanya hal yang benar-benar penting saja.

“Tenang, saat ujian pasti kamu dapat teman,” batinku.

Sejak dulu, aku selalu juara. Jadi, bukan cuma satu kali ada individu tak dikenal yang menghampiriku. Tentu saja untuk minta jawaban, apa lagi memangnya?

Aku bukan pemalu, tapi aku tak berani menolak.

Dari kelas 6 SD, aku terbiasa menjaga pertemanan dengan memberi contekan pilihan ganda. Pakai kode, seperti film Bad Genius (kalian harus tonton kalau belum!). Bedanya, aku tidak dibayar. Dibayar sih, pakai pertemanan sebatas jalan ke kantin bersama.

Bodohnya, cara yang sama masih ku pertahankan sampai SMA.

Tak terasa, 2 bulan pun berlalu entah bagaimana caranya. Kami pun memasuki minggu UTS alias Ujian Tengah Semester, yang lebih sering disalahartikan jadi Ujian Tidak Serius. Saat itu UTS Ekonomi. UTS Ekonomi terkenal cukup susah.

Jadi, sebelum ujian dimulai, sekelompok anak laki-laki sudah berjaga di depan pintu. Mereka ingin memastikan siapa guru pengawasnya. Tiba-tiba, Yudi teriak dengan raut wajah bahagia. “Yesss!! Abdul yang jaga! Kita aman!” Kelas pun ribut seketika.

Berbeda denganku yang langsung duduk diam. Aku sudah tahu yang akan terjadi selanjutnya, dan benar saja.

“Wi, biasa, ya!”, kata Yudi dengan suara lantang seperti memesan nasi goreng langganannya di gerobak depan sekolah. Ia mengedipkan sebelah mata ke arahku. Aku bergidik, karena takut dan enggan.

Individu lainnya ikut menoleh padaku sambil nyengir. Aku cuma bisa memasang senyum sambil mengacungkan jempol.

Aku sudah tahu. Juragan contekan sepertiku pasti dilirik di saat-saat seperti ini. Orang asing tiba-tiba jadi teman. Teman biasa seketika jadi teman dekat. Itu semua pun hanya untuk sesaat. Pengawas hari itu, Pak Abdul, selalu tertidur nyenyak sambil membaca koran. Jadi, semua kelas menantikan kehadirannya.

Dari 30 murid, hanya 7 orang yang hari itu tidak dapat kertas contekan dariku. Kalkulator, rautan pensil, hingga tisu jadi perantara transaksi kami. Tanganku sibuk menyalin jawaban sesuai nomor yang diminta.

“Wi, pasti kamu capek,” kata Susi yang duduk di sebelahku. Aku cuma mengangguk. Kukira dia punya solusi.
“Gimana kalau kamu kasih kertas ujianmu ke aku jadi gak usah nyalin,” lanjutnya. Aku diam saja dan langsung memberikan kertasku. Menatapnya pun tidak. Singkat cerita, semua transaksi berjalan dengan baik.

Kalau dipikir lagi sekarang, aku sendiri bingung bagaimana waktu 90 menit cukup untuk menjawab soal esai sambil menulis jawaban untuk nomor berbeda, dan memikirkan cara membagikannya tanpa membangunkan Pak Abdul.

Bahkan, Yudi yang duduk di depan Pak Abdul pun bisa dapat jawabannya. Dua minggu kemudian, aku seperti kena durian runtuh, tapi cuma durinya. Sakit hati, kepala, dan batin. Guru ekonomiku, Ibu Ningsih, terkenal sangat cerdik.

Nilaiku tidak lolos KKM alias standar minimal. Dekat saja tidak. Oh, tapi bukan di situ bagian terbaiknya. Bu Ningsih membandingkan kertas jawabanku dengan milik Susi, yang waktu itu duduk di sampingku. Ternyata dia lupa menghindari fotokopi. Jawabanku disalin sama persis. Bu Ningsih lalu berbisik padaku di tengah kelas yang sedang heboh karena nilai yang bagus.

“Wi, kalau mau nilaimu saya kembalikan ke aslinya, tolong tulis nama semua orang yang dapat jawaban dari kamu...”
Deg. “...dengan konsekuensi nilai mereka jadi nol.” Gila, 23 orang dapat nol? Bisa sampai ke kepala sekolah ini. Nanti panjang urusannya.

Kepalaku seperti tertimpa kasur. Aku kembali ke tempat duduk dengan kesal. Aku menghiraukan orang-orang yang berterima kasih sambil memamerkan nilai mereka. Seperti tidak terkontrol, aku langsung kabur ke toilet.

Aku memandangi kaca dengan geram, sampai air mata mengalir saking kesalnya. Kesal yang cuma bisa ditahan. Aku tertunduk. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundakku.

“Wi, ibu minta maaf, tapi tidak ada cara lain..”, kata Ibu Ningsih. Dia menyusulku ternyata. Aku tidak menanggapinya karena masih sangat kesal.
“Jika kamu mencari teman yang tulus, coba perbaiki cara kamu memulai pertemanan. Teman yang tulus itu tanpa contekan, Wi.” Aku terdiam.
“Ibu sengaja lakukan ini karena ibu tahu kesulitanmu mencari teman di sini. Ibu ingin bantu biar kamu dihormati, bukan dimanfaatkan,” lanjutnya.
“Saran ibu, kamu gak usah kasih tahu nama murid yang nyontek. Biarkan nilaimu begitu.

Dengan begini, mereka mengerti kalau tindakan mereka merugikan orang lain., dan akan
berhenti minta contekan terutama sama kamu.”
Aku mengangguk. Pikiranku mulai bersih. “Terima kasih, saya belajar sesuatu yang berharga
dari ibu hari ini,” kataku.
“Sama-sama. Ibu yakin kamu akan dapat teman yang tulus. Kalau sudah tenang kamu bisa
kembali ke kelas, ibu tinggal dulu,” jawabnya.

Aku melihat wajahku di cermin. Kali ini dengan perasaan yang berbeda. Ada orang seperti Ibu Ningsih yang peduli padaku. Aku tidak mau kejadian ini berujung sia-sia. Dengan mantap, aku membasuh wajah, dan melangkah kembali ke kelas dengan pandangan berbeda.

Kini 5 tahun sudah berlalu, tapi Gita dan Disa masih menjadi temanku sejak kejadian di SMA waktu itu. Mereka yang pertama kali mengulurkan tangannya meski aku berhenti memberi contekan. Ya, mereka memang termasuk 7 orang yang saat UTS Ekonomi itu bertindak jujur.

Sama sepertiku, percayalah kamu pasti akan menemukan teman yang tulus. Kamu bisa mulai dengan berhenti memberikan contekan, dan sogokan lainnya, karena tidak semua orang melihatmu hanya dari apa yang kamu bisa berikan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Kisruh Juragan Contekan""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel