Kisah Nyata "Kos Pinggir Kali"

KisahTerbaik.Com- Rangkain kisah nyata ini dituliskan oleh Amiroh Mujahidah dengan judul "Kos Pinggir Kali". Dalam storinya ia membagikan sejumlah pengalaman berharga yang pernah dialaminya. Semoga cerita ini bisa menjadi sumber bacaan yang menarik.

Begini, Kisahnya..

Kisah ini bukanlah murni aku yang mengalami, tetapi kisah ini aku dapatkan dari hasil mendengarkan cerita dari kedua orang tuaku. Dimana saat itu mereka dengan segala tekad dan nekadnya berhasil sampai ke tempat yang dituju, Kota Magelang.

Hanya dengan bermodalkan sepeda motor pinjaman, baju ganti yang ujung-ujungnya tidak bisa terpakai karena basah kuyup terkena hujan, dan beberapa lembar uang yang hanya cukup untuk membayar sewa kamar kos selama sebulan, dan juga ongkos pulang pergi. Ditambah tanpa istirahat yang cukup karena mengejar waktu, tanpa menginap alias pulang pergi, dan dengan menerjang hujan yang turun terus menerus tanpa berhenti sepanjang jalan.

Saat aku mendengar kisah ini, hatiku merasa sangat tersentuh. Bagaimana tidak?

Mereka melakukan ini untukku, semua pengorbanan yang mereka lakukan itu ditujukan untukku, anak bungsu mereka yang manja dan belum bisa mandiri ini. Aku benar-benar merasa seperti anak kurang ajar yang tidak tahu diri.

Namun, Mamah dengan sifat keibuannya selalu menyangkal hal itu, “Husss.. ngomong apa sih. Udah yang penting kamu belajar yang bener. Biar pinter, jadi orang sukses.” Ujar Mamah yang aku amini di dalam hati.

Setiap kali aku merasa berkecil hati dan berpikir kalau aku belum bisa memberikan apa-apa di umurku yang sudah bukan anak-anak lagi. Akan tetapi, sebelum melanjutkan kisah ini izinkan aku untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Perkenalkan namaku Indah atau panggil saja aku dengan nama itu. karena aku punya sedikit trauma untuk memperkenalkan jati diri yang sebenarnya kepada orang asing terlebih di dunia maya.

Aku anak kedua dari dua bersaudara a.k.a anak bungsu. Kakakku seorang laki-laki yang usianya berbeda 4 tahun di atasku. Saat ini statusku adalah seorang mahasiswi di salah satu Universitas negeri di Magelang.

Aku lahir di Bekasi, tetapi besar di salah satu Kabupatennya, Cikarang. Aku lahir di tahun Naga Emas menurut penanggalan china dan berbintang pisces. Kedua orang tuaku bisa dibilang merupakan penduduk urbanisasi alias perantau.

Mamah lahir dan besar di Cirebon, tetapi setelah lulus kuliah Mamah memutuskan untuk merantau ke kota. Dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Sedangkan Abah merupakan orang asli Semarang, jadi melakukan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi dan mengendarainya sendiri bukanlah hal yang baru lagi buat Abah.

Mulai dari jalan tol sampai jalan mudik biasa yang melewati hutan-hutan, sudah pernah Abah lewati setiap akan pulang kampung. Namun, kali ini berbeda. Tidak ada mobil sport mewah yang memiliki kekuatan berlari yang optimal, mobil keluarga yang nyaman dipakai ataupun sepeda motor baru yang masih baik segala macam komponennya.

Kali ini berbeda. Kali ini hanya berupa sepeda motor matic tua keluaran lama, hasil meminjam dari seorang petani Kecamatan sebelah kenalannya Abah, yang bahkan sudah sering digunakan untuk mengangkat hasil panen menuju tempat penggilingan sepanjang tahunnya.

Jadi, motor itu pun sebenarnya bisa dibilang kurang layak dipakai untuk melakukan perjalanan jauh lebih dari 200 km, tapi ya entahlah. Buktinya kedua orang tuaku bisa saja sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Alhamdulillah.

Tapi, alasan kenapa kenalan abah terima saja meminjamkan motor maticnya itu karena Mamah dan Abah tidak mengatakan hal yang sebenarnya, “Mau ke cirebon sebentar, Pak, pulang kampung. Sekalian mau nyekar ke makam orang tua.” Kata Mamah memberikan alasan. Pak tani itu bukan berarti langsung mengiyakan begitu saja.

Mamah dan Abah bahkan sampai memberikan motor legend Abah beserta surat-suratnya yang sudah mati sebagai jaminannya. Ya, kalau saja surat-surat motor itu masih berlaku Abah sama Mamah lebih
memilih untuk memakai motor legend itu daripada meminjam orang lain.

Setelah melakukan negosiasi kecil-kecilan, akhirnya motor pun boleh dipinjam dengan pembayaran sekian dan dalam waktu tiga hari saja. Perlu diingat meminjam motor ini lebih seperti menyewa, kalian membayar lalu boleh dipinjam.

Akhirnya berangkatlah Mamah dan Abah di hari yang telah ditentukan, sekitar dua minggu sebelum aku mulai masuk masa kuliah pertama. Dengan peralatan yang sudah disembutkan sebelumnya, tidak lupa membawa bekal nasi beserta lauk berupa daging serundeng kering agar bisa tahan lama dan bisa lebih menghemat ongkos diperjalanan juga.

Diawali dengan bismillah kedua orang tuaku pun bersiap untuk berangkat, “Jaga rumah baik-baik, kunci pintunya kalau mau keluar. Jangan lupa sholat,” kata Mamah sambil menutup tas ransel hitam yang berisi segala kebutuhan selama perjalanan.

Aku yang berada di sebelah Mamah sambil menata barang yang tidak jadi dimasukkan ke dalam tas hanya menggangguk, mengiyakan nasihat Mamah dengan bahasa isyarat. “Sekalian bantuin doa biar semuanya lancar.” Lanjut Mamah yang sekali lagi aku amini di dalam hati.

Mamah memakai jaket hitam tebal kesukaannya yang tergantung di belakang pintu, kemudian menggendong tas ransel hitam itu dipunggungnya. Tidak banyak yang bisa aku lakukan. Aku hanya memperhatikan Mamah yang masih sibuk membetulkan tali tasnya yang panjang sebelah.

Tidak lama setelah itu Abah datang. Membawa si matic putih yang baru saja keluar dari bengkel, mengganti oli dan memperbaiki beberapa komponennya yang telah usang, bahasa kerennya mendandani motor.

Meski hanya berupa motor pinjaman bukan berarti motor akan bisa langsung dipakai begitu saja. Perlu ada sedikit ‘perubahan’ terhadap motor ini. Abah yang sudah tidak asing lagi dengan dunia otomotif dan ilmu dasar tentang permotoran, berprinsip lebih baik keluar modal lebih banyak yang penting selamat daripada bahaya di jalan, seperti itu.

Intinya, Abah dan Mamah mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki si matic ini.

Abah turun dari motor, lalu memakai jaket kain abu-abu yang diberikan Mamah.

Tidak lupa memakai helm hitam yang berada di kursi, di samping beliau. Abah bertanya pada Mamah, memastikan kalau sudah tidak ada lagi barang yang tertinggal atau yang perlu dibawa dan Mamah meyakinkan kalau semua sudah siap.

Selanjutnya Abah berucap singkat sebagai kalimat pamitan padaku dan Aa, kakakku, yang sudah berada di sampingku entah sejak kapan. Aku menyalami mereka, mencium punggung tangan Mamah dan Abah secara bergantian, begitu juga dengan Aa.

Tidak banyak percakapan yang terjadi setelah itu, karena selanjutnya Abah sudah lebih dulu berjalan menuju motor dan siap untuk mengendarai si kuda besi. Tidak lama setelah Abah menyalakan mesinnya, Mamah menyusul di belakang.

“Mamah sama Abah berangkat dulu ya,” Mamah sedikit mengencangkan suaranya karena saingan dengan si matic. “Assalammu’alaikum.” Ucap Mamah dan Abah bersamaan.
“Wa’alaikumsalam.” Jawabku dan Aa. Tidak lama setelah itu gas dipacu dengan semestinya. Motor matic berwarna putih, kini sudah melaju semakin cepat.

Semakin menjauh dan akhirnya lenyap ditikungan. Tikungan melenyapkan bentuknya yang semula berada persis di depan mataku. Mamah dan Abah sudah berangkat, kini giliranku yang berjuang. Tidak banyak yang bisa aku ceritakan selama perjalanan itu karena aku tidak mengalaminya secara langsung, tapi mendengar cerita dari mereka aku bisa sedikit menggambarkannya. Kedua orang tuaku berangkat dari rumah sekitar pukur 19.30 WIB.

Selesai sholat isya, dan sampai di Cirebon sekitar 3 jam kemudian. Jika kalian seorang traveller ataupun orang yang menuju ke arah Jawa saat mudik memakai motor pasti mengerti jalur pantura. Jalan pemudik biasa arah Jawa selain jalan tol, dan sesuai yang pernah aku alami secara pribadi saat pulang kampung ke Cirebon dengan Mamah menggunakan sepeda motor itu membutukan waktu sekitar 4-5 jam, rata-rata kalau menggunakan kecepatan biasa mungkin akan memakan waktu sekitar segitu.

Saat itu bahkan belum tepat tengah malam, tapi mereka sudah memasuki Kota Cirebon. Entah kecepatan berapa yang Abah gunakan, tapi menurut cerita mamah saat itu Mamah merasa seperti akan terbang.

Sulit dibayangkan. Kemudian tidak lama setelah melewati Kota Cirebon, Mamah dan Abah memutuskan berhenti sejenak di masjid untuk beristirahat sebentar dan mencari kopi hitam pengganjal kantuk untuk Abah.

Sedangkan Mamah hanya memesan teh hangat untuk menghangatkan badan. Setelah menghabiskan minuman masing-masing, ditambah dengan pergi ke kamar mandi, mereka pun melanjutkan perjalanan kembali.

Untuk jalur perjalanan awal, mereka menggunakan jalur Alas Roban. Jalur yang memiliki jalanan curam, tikungan tajam, kanan-kiri dipenuhi pohon-pohon lebat serta minim penerangan itu, sudah terkenal sebagai jalur yang memiliki banyak cerita mistis dan banyak terjadi kecelakaan di daerah situ.

Apalagi jika dilalui saat malam hari seperti dilakukan Mamah dan Abah saat itu, tapi Jalur yang berada Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa tengah itu merupakan jalanan tercepat memasuki Jawa Tengah lalu kemudian menuju tujuan akhir mereka, Magelang. Aku tidak terlalu mengerti mengapa Abah memilih jalur ini.

Namun, sepertinya ada dua alasan yang mendasari hal ini. Antara itu merupakan jalur tercepat untuk sampai Magelang atau Abah tidak terlalu mengerti jalur lain selain rute ini. Tapi sepertinya opsi yang pertama lebih masuk akal.

Saat mereka sudah memasuki daerah Jawa Tengah, waktu sudah menunjukkan pukul dini hari bukan lagi tengah malam. Apalagi saat itu adalah bulan Agustus, yang menurut perhitungan BMKG, sudah memasuki musim kemarau.

Namun, pada musim kemarau di tahun 2017 ini sedikit berbeda, karena curah hujannya justru meningkat. Hal ini menyebabkan musim di bulan Agustus dikatakan sebagai musim ‘kemarau basah’. Jadi, tidak heran kalau pada bulan itu di siang hari suhu sangat panas, tapi memasuki waktu sore cuaca berubah mendung kemudian menjadi hujan.

Mungkin ini yang biasa disebut musim pancaroba. Walaupun hanya musim kemarau biasapun suhunya sudah pasti akan lebih tinggi daripada musim penghujan, apalagi saat malam hari. Bisa dibayangkan seperti apa yang mereka rasakan saat sudah mulai melewati jalur Alas Roban, memasuki daerah Jawa Tengah itu.

Pasti amat sangat dingin sekali, angin malam musim kemarau. Saat sudah memasuki waktu subuh mereka kembali memutuskan berhenti lagi untuk solat subuh baru setelah itu melanjutkan perjalanan kembali.

Aku tidak begiu ingat saat itu mereka berhenti dimana dan sudah pemberhentian ke berapa yang mereka lakukan, yang jelas mereka berhenti mencari masjid atau pom bensin beristirahat sebentar lalu kembali melakukan perjalanan. Setelah selesai mengerjakan salah satu kewajiban sebagai seorang muslim ini, mereka makan sebentar. Memakan bekal yang sudah disiapkan dari rumah.

Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan.

Selain mencoba bertahan dari paparan suhu dingin, kini mereka harus berjuang melawan dinginnya tetesan air hujan yang mulai turun. Dari yang semula hanya rintikan, kemudian berubah menjadi butiran-butiran besar yang menyakitkan.

Mamah dan Abah pun sepakat untuk minggir sesaat, mencari tempat perlindungan untuk memakai jas hujan. Tapi apalah daya manusia yang tidak bisa menandingi kecepatan turunnya hujan. Hujannya semakin deras.

Mereka terlanjur basah kuyup, beserta tas yang Mamah pangku. Untunglah tidak jauh dari situ ada tempat berteduh. Mereka pun berhenti sejenak di sana, mengeluarkan jas hujan walaupun sudah terlanjur terguyur hujan, mengantisipasi hujan yang semakin lebat.

Sekaligus melindungi tas yang berisi segala peralatan yang dibutuhkan. Setelah berhasil menerjang hujan yang turun semakin deras serta merasakan udara yang semakin dingin dan baju yang sampai kering dengan sendirinya, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan utama. Kota Magelang.

Lebih tepatnya di daerah sekitar kampus yang akan kutempati kelak. Mamah dan Abah masih harus mencari lagi. Menelusuri daerah-daerah yang menyediakan kamar kos khusus puteri. Dengan informasi singkat dari orang-orang, akhirnya Abah dan Mamah menemukan tempat kos yang cocok. 

Alasan kenapa Mamah dan Abah sampai melakukan ini untukku karena di Magelang ini aku nantinya akan benar-benar sendirian tanpa saudara ataupun teman satu sekolah. Jadilah, mereka benar-benar sangat mengkhawatirkan aku.

Tempat kos itu beradatepat di depan kali, berada di paling ujung jalan dekat Stadion. Tempat kos yang sekarang kutempati. Karena letaknya yang persis berada di depan kali aku dan teman sekosku memberikan nama julukan untuk tempat kos ini, Kos Pinggir Kali.

Setelah bertransaksi singkat mengenai kamar kosan, Abah dan Mamah pun di jamu oleh Bapak kos layaknya seorang tamu. Berbincang-bincang cukup lama sampai tidak terasa waktu sudah memasuki waktu dzuhur.

Abah dan Mamah pun pamit untuk melanjutkan perjalanan kembali. Namun, seperti biasa mereka berhenti di Masjid terlebih dahulu atau pom bensin untuk melaksanakan sholat dzuhur sambil beristirahat sejenak, dan disinilah cobaan berikutnya dimulai. Mamah ditelepon oleh pemilik motornya.

Dikira awalnya bukan apa-apa, tapi ternyata pemilik motor ini menelpon meminta agar motornya dikembalikan saat itu juga. Perjanjian awalnya motor itu di sewa untuk tiga hari kedepan, tapi itu bahkan baru memasuki hari kedua dan motornya sudah ditagih.

Mamah mencoba berbicara pelan-pelan sambil bernegosiasi tentang perjanjian semula, tapi pemilik motor itu tetap kekeuh agar mamah segera kembali dan mengembalikan motornya saat itu juga. Mamah dan Abah pun tidak bisa berbuat banyak, mereka hanya mengiyakan dan memohon diberi kelancaran agar bisa bisa kembali tepat waktu dengan selamat.

Tanpa banyak leha-leha, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan lansung kembali menuju Cikarang. Tanpa tidur selama seharian, apalagi Abah yang menyetir.

Namun, saat sudah mulai memasuki perbatasan Jawa barat dan Jawa Tengah, mereka memutuskan untuk beristirahat kembali. Kali ini tidak hanya untuk solat dan minum kopi, tapi untuk memejamkan mata sesaat, menghilangkan rasa ngantuk.

Dengan beralaskan kardus yang dipanjangkan di samping teras musollah pom bensin. Mereka tidur sejenak secara bergantian. Itu pun tidak lebih dari 2 jam, karena mengejar waktu. Pemilik motor pun tidak henti-hentinya mengirimi sms mengingatkan Mamah dan Abah soal motornya. Bukannya sudah tidak peduli, tapi mereka juga sedang mengusahakan agar bisa sampai tepat waktu dengan selamat. 

Lagipula kalau ditelusuri sepanjang mereka jalan, istirahat untuk tidur ini adalah yang terlama. Itu pun karena sudah kepepet, rasa kantuk tidak bisa lagi ditahan. Akhirnya mereka pun dapat kembali lagi, sedikit telat tapi selamat.

Mamah saman Abah berhasil kembali lagi ke rumah tepat saat sore hari. Berhenti sebentak di rumah untuk menaruh barang-barang kemudian pergi lagi untuk mengembalikkan motor. Benar-benar hal yang sangat butuh kesabaran ekstra. Jika aku yang berada di posisi Abah mungkin aku sudah sangat jengkel dan menyalahkan siapa saja orang yang berada di sekitarku. Oke, jangan dicontoh.

Ini adalah contoh nyata perjuangan orang tua demi dapat melihat anaknya sukses kelak dan jangan sampai merasakan susah-payah yang mereka alami. Aku tidak tahu lagi apa yang musti aku lakukan selain belajar dengan sungguh-sungguh agar apa yang aku cita-citakan dan impikan dapat terwujud. 

Ini adalah bukti nyata kalau seorang ayah yang sesungguhnya pasti akan melakukan apapun demi melihat anak putrinya cukup berjalan di jalan yang lurus saja, tanpa perlu merasakan luka terlebih dahulu. Meskipun beliau bukanlah ayah kandungku.

Cerita ini kubuat sebagai ucapan terimakasih untuk Abah dan Mamah, yang dengan perjuangan kalian aku bisa merasakan tempat kos nyaman ini beserta teman-teman baik yang ada di dalamnya. Terimakasih Abah, Mamah.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Kos Pinggir Kali""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel