Kisah Nyata "Memungut Asa dalam Do'a"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah nyata ini dituliskan oleh Yunita Miftahul Jannah dengan judul "Memungut Asa dalam Do'a". Dalam stori inilah ia membagikan pengalaman hidup yang bisa dijadikan pelajaran bagi segenap pembaca.

Begini, Kisahnya...

Kecewa itu pasti. Namun, seberapapun kecewanya aku, semua tak berguna, tak akan mengubah apapun, IP ku akan tetap jelek. Tertohok rasanya melihat teman yang selalu mencontoh pekerjaanku mendapatkan IP lebih tinggi dariku.

Bukannya aku sombong karena merasa lebih mampu, namun aku paham betul terhadapnya. Paham betul bagaimana bingungnya dia ketika deadline di depan mata namun belum mendapat kiriman jawaban dari teman.

Aku juga paham betul bagaimana bingungnya dia ketika besok ulangan namun masih belum mendapat bocoran soal. Peristiwa hari ini membuatku sadar bahwa IP bukan satu-satunya tempat untuk menunjukkan kemampuan diri.

Aku tertunduk lesu.

Rasanya aku ingin merobek seluruh kertas pada papan pengumuman berisi deretan angka tanpa makna tersebut sampai tak terbentuk kemudian menginjak-injaknya sekuat tenaga. Namun, peredaran mataku terhenti saat melihat poster yang tergeletak tak jauh dari sepatuku.

Aku mengambilnya, lebih tepatnya memungut phamflet yang terjatuh. Aku membaca dengan seksama dari atas sampai bawah. Ternyata ini adalah phamflet mengenai Lomba Karya Tulis yang diadakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Barat.

Mulutku tersenyum simpul. Mataku membulat. Aku menggenggam erat phamflet tersebut seraya berkata, “Mungkin ini salah satu cara untuk menunjukkan kemampuanku. Melalui lomba ini, akan ku buktikan bahwa aku mampu.”

Aku benar-benar merintis semua dari awal. Aku harus mencari tahu terlebih dahulu mengenai apa itu karya tulis dan seluk beluknya. Tidak dipungkiri bahwa belajar secara otodidak sangatlah sulit. Karena disini aku hanya mengandalkan informasi hasil berselancar di internet yang sangat jauh dari kata lengkap dan akurat.

Aku juga tidak mungkin mencari informasi di perpustakaan kampus karena buku di perpustakaan kampus 3 sama sekali tidak mumpuni. Ya, aku kuliah di prodi PGSD dan ditempatkan di kampus 3 yang letaknya terpaut ratusan kilometer dari kampus utama.

Selain perpustakaan yang tidak mendukung prestasi mahasiswa, kondisi ruangan yang berdebu serta pengap sangat mengusik kenyamanan mahasiswa dalam berkunjung sehingga tidak memungkinkan untuk belajar di dalamnya.

Dikarenakan tidak adanya UKM Penulis (di kampus 3 tidak ada UKM apapun padahal ketika orientasi mahasiswa baru rektor pernah mengatakan bahwa setiap mahasiswa wajib menggugurkan kewajibannya dengan mengikuti salah satu UKM, kenyataannya meskipun mahasiswa di kampus 3 mayoritas tidak mengikuti UKM, namun kami tidak diberi sanksi sampai saat ini padahal kewajiban adalah sesuatu yang harus dipenuhi, bukan?).

Sungguh tidak ada harapan untuk menggali informasi dari teman sejawat yang kiranya mumpuni dan berpengalaman di bidang karya tulis. Akhirnya aku berkonsultasi dengan bu Fatma selaku dosen pembimbingku.

Memilukan, ternyata bu Fatma menjawab tidak ada dosen di kampus 3 yang mumpuni di bidang karya tulis dan memintaku belajar dari temanku yang kuliah di kampus utama beserta mengikuti UKM Penulis.

Hal ini dikarenakan perguruan tinggi negeri tempatku menimba ilmu memang tidak mewajibkan dosen menyusun karya tulis sehingga wajar jika kemampuan dosen dalam keilmiahan perlu dipertanyakan.

Dan sayangnya lagi, kenalanku yang kuliah di kampus utama tidak ada yang mengikuti UKM Penulis.

Akhirnya aku mencoba mencari relasi di UKM Penulis melalui akun instagram. Aku menelusuri foto di akun tersebut dari yang barusaja di upload sampai yang pertama kali di upload dan menyimpulkan bahwa UKM Penulis di perguruan tinggi negeri tempatku menimba ilmu sepertinya lebih berfokus pada kepenulisan sastra populer seperti novel, cerpen, roman dll daripada keilmiahan.

Namun, aku tidak mau membuat kesimpulan sepihak.

Dengan sisa-sisa harapan dan doa yang tak pernah putus terpanjat, aku mengirim pesan kepada salah satu akun instagram yang di-tag akun UKM Penulis pada salah satu foto kegiatan. Lagi-lagi aku menelan kekecewaan karena menurut seseorang yang ku kirimi pesan, di UKM Penulis tidak ada anggotanya yang berkecimpung di bidang karya tulis.

Pening memikirkan semuanya seorang diri, akhirnya aku berencana merekut 2 orang sebagai anggota kelompokku, siapa tahu dengan berdiskusi kita bisa menemukan solusi. Kurangnya sarana prasarana, kurangnya pengawasan dari kampus utama mengakibatkan dosen sering absen, jam perkuliahan berakhir 1 jam lebih cepat dari jadwal, dosen tidak kritis dalam menyampaikan materi, membuat mahasiswa kampus 3 terlena akan kemalasan.

Inilah alasan sulitnya merekut seseorang di kampus 3 yang isinya hanya anak pgsd, menurutku. Aku mencoba memberikan penawaran kepada salah satu teman sekelasku, dia pintar dan public speaking-nya bagus sehingga mampu membuat pendengar seakan-akan percaya dengan setiap kata yang terlontar dari mulutnya.

Namun, ternyata dia tidak berkenan dengan alasan tidak tertarik mengikuti lomba. Dia saja mengerjakan tugas kuliah terpaksa, karenanya menambah pekerjaan dengan menulis karya tulis tentu bukan hal yang dia mau.

Kemudian aku menawari teman sekelasku yang lain. Dia juga pintar, tegas dan selalu mengerjakan tugas di awal waktu. Dia bilang, dia sebenarnya ingin mengikuti kompetisi seperti ini untuk menambah pengalaman.

Namun, dia takut akan disibukkan kegiatan kerja kelompok yang membuatnya jarang pulang ke rumah. Setiap akhir pekan, dia harus pulang karena di rumah dia bisa melakukan banyak hal seperti membantu ibunya memasak, berjualan makanan dan membersihkan rumah akibat ibunya tidak sempat.

Meskipun kesulitan senantiasa melilit, aku tahu mengeluh tidak akan menyelesaikan apapun. Aku harus terus berusaha dan berdoa. Karena Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.

Deadline semakin dekat. Aku memutuskan untuk menyusun karya ilmiah terlebih dahulu karena menurutku lebih mudah merekut anggota yang tinggal ‘numpang nama’ dan membayar iuran biaya pendaftaran daripada anggota yang mau diajak berjuang sejak awal.

Aku semakin gencar tidur dini hari demi menyusun karya tulis. Agar kuat melek sampai pagi, aku rutin mengonsumsi kopi. Aku tahu, aku menderita maag. Jangankan minum, mencium bau kopi saja sudah membuatku mual. Rasanya perutku sakit tak terkira ketika mengonsumsi kopi.

Namun, mau bagaimana lagi. Hidup memang tentang pengorbanan. Karya tulis sudah ku kirim sebulan yang lalu dan akhirnya tibalah hari ini pengumuman 10 finalis yang lolos ke tahap presentasi. Aku membuka e-mail dengan mempersiapkan perasaan lapang bagaimanapun hasilnya.

Alhamdulillah..” Mulutku tak henti-hentinya mengucap syukur. Aku tidak menyangka aku berhasil. Aku benar-benar bersyukur. Namun, ekspresiku berubah masam setelah membaca pedoman finalis yang menyatakan bahwa setiap finalis wajib membayar biaya akomodasi sebesar Rp 500.000. Tuhan, darimana aku mendapat uang sebanyak itu.

Aku menghembuskaan napas berat dan memutuskan untuk menghubungi ayahku, namun justru respon kurang baik yang kudapat. Ayah menuduhku tertipu organisasi berkedok lomba yang berniat meraup keuntungan karena lomba seharusnya membebaskan finalis atas biaya.

Malas berdebat dengan ayah, akhirnya aku berkonsultasi dengan Bu Fatma. Syukurlah, responnya sangat mendukung. Beliau menyarankanku pergi ke kampus utama untuk mengajukan proposal pengajuan dana.

Aku menemui Kasubag Kemahasiswaan di kampus utama dengan wajah sumringah. Namun, keceriaanku memudar ketika bendahara fakultas bernama bu Wahyu mengatakan bahwa yang didanai hanya biaya akomodasi dan perjalanan, untuk prototype (media presentasi) biayanya dibebankan kepada peserta padahal bahan-bahan penyusunnya tidak murah.

Belum lagi, aku harus bolak-balik kampus 3 dan kampus utama demi mengurus proposal tersebut. Namun, aku harus tetap bersyukur. Bagaimanapun ini adalah kesempatan meraih mimpiku, sehingga mustahil menyiakannya begitu saja.

Tahap presentasi tiba, aku mendapat urutan tampil nomor 5. Jujur, aku tertohok melihat penampilan finalis yang tampil sebelumku. Mereka sangat menguasai public speaking. Kedua anggotaku memegang tanganku untuk menunjukkan telapak tangannya yang berkeringat dingin.

Padahal aku sudah membagi bagian untuk presentasi malam sebelumnya, namun kekhawatiran dan rasa gugup membuat hafalan mereka lenyap dalam sekejap. Akhirnya aku mengatakan pada mereka bahwa aku tidak menuntut apapun pada mereka, hanya lakukanlah yang terbaik semampunya.

Presentasi telah usai. Dari sini, aku mendapat pelajaran bahwa pemilihan anggota harus dipertimbangkan sematang mungkin. Jika memilih anggota yang hanya mau iuran saja, maka hasilnya tidak akan jauh dengan situasi yang aku alami, mereka hanya akan menjadi lubang hitam dalam tim.

Tadi saja ketika sesi tanya-jawab hanya aku yang menjawab. Ketika sampai ke tempat duduk, mereka mengatakan tidak bisa membantu dengan alasan tidak menguasai materi karena akulah penyusun utamanya.

Aku juga mendapat pelajaran bahwa untuk kedepannya, aku harus mengajak seseorang yang setidaknya mau bekerja keras memahami materi sehingga perjalanan kita jauh-jauh ke universitas penyelenggara lomba tidak sia-sia.

Tiba saatnya juri mengumumkan juaranya. Hatiku berdebar tak karuan. Aku tak tahu bagaimana penilaian juri terhadap penampilanku, yang pasti aku sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa. Namun, secara tim aku akui memang kami sangat tidak kompak.

Meskipun begitu, aku tetap tak berhenti berharap agar bisa menjadi pemenang. Dan ternyata benar tim ku tidak menang. Tim ku hanya mampu bertengger di posisi ke-8. Rasanya sakit sekali padahal aku sudah memberikan segalanya.

Ingin rasanya aku meluapkan seluruh kekesalanku kepada anggotaku. Sudah mereka tidak membantu dalam penyusunan, payah pula dalam presentasi, yang satu kalau menjelaskan belibet dan satunya lagi suaranya lirih. Namun, aku harus sadar diri bahwa aku tak mungkin sampai disini tanpa nama mereka yang tertera pada lembar biodata dan juga keikhlasan mereka melakukan iuran.

Alhamdulillah. Aku harus tetap bersyukur. Bagaimanapun, aku memperoleh pengalaman dan pembelajaran yang sangat luar biasa dari kompetisi ini. Masih banyak hal yang bisa aku syukuri daripada menyalahkan keadaan. Aku juga mampu membuktikan dan menorehkan sejarah mahasiswa dari kampus 3 dengan keterbatasan fasilitas mampu berkompetisi secara Nasional dengan membawa nama baik almamater.

Mulai sekarang aku akan mencintai dunia kepenulisan dan menggelutinya sebaik mungkin. Aku juga akan berusaha menebar rasa cinta terhadap dunia kepenulisan di kampus 3 untuk membangkitkan iklim kompetitif sehingga kita bisa menunjukkan bahwa meskipun letak kampus 3 terluar namun kita tidak tertinggal. Untung aku tidak menyerah. Jangan pernah menyerah, kita tidak pernah tahu sedekat apa kita dengan mimpi kita. Mari senantiasa berdoa. Semangat!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Memungut Asa dalam Do'a""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel