Kisah Nyata "Mencoba Hidup dengan Mind Map"

Its my mind map
KisahTerbaik.Com- Rangkaian stori nyata ini dituliskan oleh Amin Sulistiyani dengan judul "Mencoba Hidup dengan Mind Map". Dalam kisah ini ia menuliskan tentang pengalamannya untuk menuliskan segala mimpi-mimpinya.

Begini, Kisahnya...

Musim kemarau sudah berlangsung 3 bulan. Selama itu pula air hujan tidak membasahi bumi. Aku saat ini sedang duduk di ruang tamu, dekat jendela mnenyamankan diri dari dingin yang mencekam sejak semalam.

Menemani sinar matahari yang masuk lewat jendela pagi ini. Aku teringat kembali , buku yang sudah menemaniku selama 5 tahun. Buku hadiah, buku diary, buku tujuan hidup, buku kenangan….. ahh aku tidak tahu bagaimana memberikan nama buku itu. Akan aku jelaskan sedikit mengenai buku itu. Tapi, saat ini aku belum berbenah rumah. Nanti ibuku tersayang megomel. Aku lanjutkan ceritaku nanti yaa.

Aku mendapatkan buku itu ketika lulus SMP tahun 2013 silam. Hadiah menduduki peringkat dalam Ujian Nasional. Masih terasa jelas begitu berdebar-debar jantungku , saat guruku menyebutkan siapa yang menjadi juara Ujian Nasional tahun ini.

Peringkat pertama sudah diumumkan sebelumnya saat pengumuman kelulusan. Tersisa peringkat dua dan tiga yang belum diberitahu. Pengumuman juara dua dan tiga akan diumumkan saat perpisahan. Ketika juara dua disebutkan dalam acara perpisahan tersebut jantungku lebih berdegub kencang.

Menahan napas. Mulutku berkomat-kamit berdoa, membaca surat pendek terus berulang-ulang. Ternyata yang disebutkan itu bukan namaku. Huuh… aku langsung melepaskan napasku. Mulai menerima bukan aku selanjutnya. Tidak perlu aku lanjutkan panjang lebar siapa selanjutnya yang juara.

Pengumuman itu sekaligus perpisahan sekolah. Dresscode menggunakan pakaian adat Indonesia. Ketika itu, aku menggunakan kebaya warna ungu, rambutku kusanggul kecil dan make up ala kadarnya serta menggunakan high heels.

Meskipun sederhana kurasa aku terlihat elegan dan cantik. Guruku pernah berkata “ kalau bukan diri sendiri yang memuji, mau siapa lagi?” tapi kurasa yang dikatakan itu memang benar, meskipun terdengar menggelitik.

Momen perpisahan SMP itu pula pengalaman pertamaku menggunakan high heels. Merasa gerogi, kuperhatikan setiap langkah kakiku dengan baik agar tidak oleng. Benar saja, ketika namaku dipanggil karena juara 3 itu, jantungku deg-degan, kaki jelas gemetar.

Perjalanan naik panggung untuk menerima hadiah yang ternyata isinya buku itu, high heelsku nyangkut dipijakan yang terbuat dari apa aku tidak tahu, karena diwadahi karung. Karung itu berada disisi kiri panggung terletak di tangga terakhir yang sebenarnya berfungsi agar siswa ketika naik panggung tidak ketinggian.

Beruntung guruku Pak Hari namanya sigap membantu. Jadi, hal tersebut tidak terlihat oleh banyak orang. Kejadian itu sekarang kuanggap menjadi perjuangan mendapatkan buku itu.

Malam ini aku duduk di depan tv yang tidak kuhidupkan. Menceritakan kisah terbaikku. Tanpa ada sajian kopi, camilan ataupun gorengan hangat. Ditemani dinginnya malam. Berdampak pada telapak kakiku yang menjadi dingin.

Aku lihat broadcast yang beredar di grub whatsapp sedang terjadi aphelion yaitu posisi bumi berada jauh dari matahari atau jarak terjauh yang dicapai bumi dalam orbitnya mengelilingi matahari. Langsung aku tahu, ohh alasannya belakangan ini lebih dingin karena aphelion. Sesekali terdengar suara motor lewat. Di perkampungan, memang kalau sudah petang dan ini juga hampir tengah malam suasana semakin sepi.

Hanya suara jangkrik dan kebetulan juga malam ini tetangga desa ada yang menikah. Jadi, lagu dangdut dan campur sari masih sedikit terdengar di rumahku. Di sebelah kiriku, aku sudah siap dengan buku itu, buku agenda 707 tertulis di sampulnya.

Aku siap melihat kembali kisah-kisah terbaikku selama 5 tahun lalu. Aku memulainya dengan bagian kalender. Aku melingkari tanggal-tanggal penting di sana. Memang itu kebiasaanku atau bahkan kebiasaan orang-orang lain juga.

Tanggal ulang tahun teman-temanku, ketika terjadi hujan abu vukanik, jadwal UAS, pengumuman kelululasan ujian, pengumuman SBMPTN dan lain sebagainya, baik dari terpenting maupun sampai yang tidak penting aku lingkari dan tandai. Kisah yang aku tulis dalam buku itu menurutku merupakan kisah terbaik yanga aku miliki.

Aku tertarik untuk menceritakan kisah yang terjadi padaku, tertulis 1 Januari 2016. Teringat kembali keinginan dan cita-citaku untuk kuliah di UNY. Ketika masa kebingungan untuk kuliah dimana dengan keterbatasan yang aku miliki.

Keterbatasan bagi orang yang tidak mampu secara ekonomi. Keinginan kuliah begitu kuat, tapi ketika melihat kondisi orang tua. Rasanya ingin menangis, sekedar untuk melihat mimpi saja terliahat abu-abu bahkan gelap. “ Nek arep kuliah mboten masalah nduk, neng Ibu mboten saged biayayai”. Itu kalimat yang dikeluarkan Ibuku ketika aku ijin minta kuliah. “ kalau mau kuliah tidak masalah, tapi Ibu tidak bisa biayanya”.

Kalimat itu mengharuskan aku untuk tidak kuliah atau kuliah menghasilkan uang. Tertulis dalam buku itu, 100 doa dalam satu tahun. Urutan nomor 5 kuliah di UNY/UIN/UGM. Tertulis begitu saja dalam selembar kertas dalam buku itu.

Aku bertekad untuk kuliah. Soal biaya aku ingin mendapatkan beasisiwa. Tertulis nomor 11 dapat beasiswa bidikmsi. Setidaknya aku berusaha untuk diterima di Universitas Negeri. Aku mengikuti ujian mulai dari SBMPTN maupun jalur mandiri.

Mendaftar jalur SBMPTN dengan memilih kampus UNY, pilihan pertama pendidikan kimia dan dua lainnya aku lupa. Jurusan pendidikan kimia adalah jurusan yang aku damba-dambakan. Mungkin karena aku menyukai pelajaran kimia ketika SMA.

Jadi, aku memilih jurusan yang berbau kimia apalagi pendidikan kimia keinginanku sangat kuat. Kalau bukan jurusan pendidikan kimia aku tidak mau. Mungkin itu juga dirasakan oleh anak- anak yang ingin mendaftar kuliah.

Cerita selanjutnya aku buat singkat karena tujuanku menulis ini bukan tentang perjalananku mencapai bangku kuliah. Tapi, bagaimana caraku bertahan hidup agar mimpi-mimpiku juga hidup. Mengikuti ujian tulis SBMPTN 2016, pengumuman kemudian gagal.

Mengikuti ujian tulis mandiri lagi, pengumuman kemudian gagal lagi. Rasa kecewa, merasa dirinya paling bodoh, merasa dunia tidak adil. Tangis tentu saja tidak bisa tebendung lagi. Menyesal itu sudah pasti. Namun, bagaimana cara bangkit dan rasa keputusasaan itu tidak timbul.

Membuat mind map itu cara yang aku ambil. Bagaimana aku bisa memikirkan cara ini?. Dulu ketika SD saat ujian nasional guru yang mengawasi bukan dari sekolah sendiri melainkan guru dari sekolah lain.

Pak guru dengan warna kulit sedikit hitam rambut pendek ikal dan tidak terlalu tinggi. Ketika ada kesempatan guru ini, aku lupa namanya bercerita dan menunjukkan buku penuh dengan mimp-mimpinya.

Banyak lupa, tapi yang masih kuingat buku itu tertulis keinginan disertai dengan foto atau gambar mimpi itu. beliau menulis tentang mobil beserta gambar mobil disampingnya. Menuliskan target kapan tercapainya.

Kenapa aku sangat tertarik akan hal ini? Pak guru ini bilang selama ini keinginan yang tertulis dalam bukunya tersebut hampir terjadi. Aku ingin mencobanya dengan menulis targetku selama satu tahun disertai mind map.

Aku akhirnya memutusan untuk berhenti setahun. Membuat kerangka bagaimana targetku tercapai. Tertulis dalam buku itu, aku memulainya dengan bekerja setelah aku gagal kuliah. Bagaimana aku mendapatkan kerja. Tentunya mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan.

Aku menulis juga tujuanku bekerja yaitu menabung untuk kuliah. Meruntut kemudian belajar menghadap SBMPTN dan Ujian Mandiri 2017. Singkat cerita aku diterima di salah satu kampus negeri. Ternyata kampus yang kutulis di buku itu adalah kampus di mana saat ini aku kuliah. 

Alhamdulillah juga, aku mendapatkan beasiswa bidikmisi. Hal yang pernah aku tuliskan dalam buku itu pada tahun 2016. Jurusan yang aku jalani juga seperti yang aku inginkan dan tuliskan yaitu Kimia. Padahal aku masih mendaftar pendidikan kimia pilihan utamanya.

Sekali lagi ini juga tertulis dalam buku itu, Minggu, 19 April 2017 urutan nomor 9 “PRODI UTAMA (KIMIA/ PENDIDIKAN KIMIA)”.

Kebiasaan aku membuat mind map salah satu hal yang aku sukai dalam buku ini. Membuat aku mempunyai sebuah target dan rencana. Setidaknya jika aku lupa apa yang aku targetkan, aku bisa membuka buku ini.

Bisa mengenang dan tersenyum sendiri seperti saat ini. Mungkin alasanku menulis mind map tertulis disalah satu halaman buku itu. Aku pernah meringkas kalimat-kalimat dalam novel Man Jadda Wajadda karya Akbar Zainuddin “Berfikirlah masa depan adalah sesuatu yang belum pasti yang kita bisa lakukan adalah merencanakan berbagai strategi dan kemungkinan agar masa depan tersebut lebih diprediksi”.

Kisah terbaikku adalah adalah aku mempunyai buku itu dan menulis mind mapku. Aku tidak tahu mimpiku sebelumnya, terlihat gelap dan abu-abu. Akan tetapi aku melihat semakin jelas ketika aku menulis dan memprediksikannya dengan garis-garis strategi untuk mencapai sebuah target.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

3 Responses to "Kisah Nyata "Mencoba Hidup dengan Mind Map""

  1. Kisahnya bagus, sgt menginspirasi... Dulu jg pernah menuliskan hal yg sama, impian2 yg pengen dicapai dlm sbuah buku, dn trnyata skrg jd kenyataan... 😄

    BalasHapus
  2. Sangat mengharukan. Menambah motivasi bahwa hidup ngga berjalan lurus tp banyak rintangan

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel