Kisah Nyata Mistis "Ternyata Mereka Ada"

KisahTerbaik.Com- Stori nyata ini dituliskan oleh Putri Nurul Azizah dengan judul "Ternyata Mereka Ada". Dalam cerita tergolong mistis ini ia menggambarkan tentang pengalamannya bertema dengan sosok misteris karena adanya kesombongan yang sebelumnya ia katakan.

Begini, Kisahnya..

Aku Zaara, Zaara Damiyanti. Aku bisa di bilang anak yang sombong dan tidak mendengarkan perkataan orang tua, bukannya aku mau menjadi anak durhaka, tapi sifatku terlalu keras ketika aku merasa diriku terikat pada suatu ketentuan. Aku tidak mempunyai banyak teman seperti anak-anak yang lain seumuranku yang biasanya memiliki banyak sahabat dan teman karib. 

Aku hanya mempunyai 1 orang teman yang memiliki sifat berlawanan denganku, Shalu Savitri namanya. Dia anak yang lembut, penyayang dan patuh terhadap ketentuan yang berlaku, dia selalu mengingatkanku agar aku menjadi anak yang baik dan lembut, bukan anak yang sombong dan kasar. Tapi aku tidak bisa, usaha Shalu selama ini tidak menghasilkan apa-apa malah hubungan kami nyaris terputus karena aku terlalu egois.

Selain lemah lembut, menurutku Shalu mempunyai kepribadian yang sedikit aneh, dia sangat percaya pada hal-hal yang berbau mistis dan gaib, seluruh isi perpustakaan pribadinya hanya berisikan novel horor dan misteri selain buku pelajaran.

Ketika melewati jalan sepi dan tempat-tempat yang di bilang ada hal-hal mistisnya Shalu selalu berdoa sampai dia berhasil melewati tempat itu dengan selamat. Sedangkan aku, aku tidak terlalu percaya pada hal seperti itu dan menganggapnya remeh. Tapi ada satu kejadian yang membuatku berubah menjadi Shalu Savitri. Sebuah kisah nyata.

“Bu, Pak aku pergi dulu ya...” pamitku sedikit kesal setelah dinasehati berkali-kali oleh kedua orang tua agar tidak pergi di senja hari ketika matahari hampir terbenam seluruhnya.
“Kamu mau jadi anak apa, ha? Sudah Bapak bilang berkali-kali jangan pergi disaat seperti ini. Apalagi ini malam Jumat Kliwon, tidak baik. Sebaiknya kamu didalam rumah dan mengaji menyejukkan hati, daripada keluar rumah.” cegah Bapak.
“Pak, aku tidak percaya pada hal-hal mistis tentang Jumat Kliwon. Jadi malam ini aku dan Shalu akan membuktikannya di gudang tua seberang jalan terminal. Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa. Ok? Aku pergi.” aku tetap pergi tanpa mendengar decakan kesal Bapakku.

Aku terus berjalan meski hawa dingin menusuk tulang-tulangku yang kurus. Tidak ada yang kudengar selain suara adzan Maghrib yang menggema di seluruh penjuru. Aku mulai masuk ke gang-gang kecil yang dipenuhi rumah warga berwarna-warni.

Setelah jalan pavingan habis, aku berhenti sejenak untuk melihat jalan tanah berbatu yang dipenuhi bambu dan pohon kelapa. Entah kenapa keberanianku yang semula ada kian menciut di terpa angin.

Aku melangkah menuju rumah kecil di balik pepohonan bambu dan kelapa. Rumah yang sederhana dan hanya di tinggali 4 orang, termasuk Shalu. Aku segera pergi dan menagih janjinya.

Toktoktok!!!

Aku mengetuk pintu kayu rumah Shalu dan keluarlah Shalu dengan jaket tebal dan syal di lehernya.

“Kita ada misi mencari hantu bukan naik ke gunung bersalju,” aku menatap heran Shalu dengan penampilannya yang aneh.
“Aku flu dan sekarangpun udara sangat dingin. Kita tidak usah pergi, kau pulang saja ya,” Shalu ingin menutup pintunya.
“Janji adalah hutang!” seruku membuat Shalu pasrah dan akhirnya ikut denganku.

Aku dan Shalu segera pergi dengan membawa senter. Shalu kerepotan membawa buku mistisnya.

“Sudah kubilang jangan membawa buku. Sini aku bantu,” tawarku sambil membawa beberapa buku.
“Untuk jaga-jaga saja nanti, jika aku lupa mantra pengusir hal gaib kita tinggal baca buku ini,” timpal Shalu.

Kami mulai menyebrang jalan ketika sampai di terminal. Suasana terminal kelihatan sangat sepi, tidak seperti biasanya yang selalu ramai dipenuhi bis dan pedagan asongan yang keluar masuk bis. Setelah kami menyebrang, kami langsung berhadapan dengan bangunan tua yang besar, sebagian gedungnya sudah berlumut, atapnya sudah rusak dan berkarat. Menurut orang sekitar setiap malam Jumat Kliwon selalu terdengar suara seperti aktivitas di dalam gudang itu. Sebab itu, aku ingin membuktikan kebenaran tersebut.

Pintu masuk gudang tersebut menanjak dan membuat orang yang melihatnya dari seberang jalan hanya melihat sebagian gedung dan atap.

Kami mulai masuk kedalam gudang tersebut. Tidak ada suara bising ataupun suara ribut disini, hanya suara tikus dan jangkrik yang saling bersahutan.

Aku dan Shalu mulai mengelilingi gudang ini. Shalu membaca doa-doanya sambil memegang erat tanganku. Aku bisa merasakan Shalu mulai berkeringat dan kepanasan, dia berusaha membuka jaketnya.

Setelah berkeliling, aku tidak melihat atau mendengar ada kejanggalan di gudang ini. Karena aku takut Shalu pingsan disini, akhirnya aku mengajak Shalu pergi dari sini.

Klontang!!!

Ada sesuatu yang jatuh, seperti panci yang di banting dengan sengaja. Tiba-tiba keringat dingin mengalir dari dahiku. Ketakutan yang luar biasa mulai menyerangku. Tanpa aba-aba aku dan Shalu segera melarikan diri dari tempat ini. Shalu membiarkan bukunya jatuh berserakan tanpa mengambilnya satupun.

“Apa itu tadi?” tanya Shalu.
 “Mungkin juga tikus biangnya,” jawabku enteng.

Aku dan Shalu mulai berjalan beberapa langkah dan tanpa kusangka Shalu menarik tanganku dengan erat menuju ke arah semak belukar di sekitar kami.

“Ada apa?” tanyaku kasar.
“Ssssst..... ssssst... duduk duduk cepat duduk,” Shalu berkata dengan sangat pelan. Aku hanya melihat tangannya yang melambai kebawah menyuruhku duduk.

Shalu menunjuk ke arah tadi kami berdiri. Disana ada seseorang berdiri, tapi itu bukan manusia, aku melihat pocong dengan memikul keranda tanpa tutup yang berisi pocong juga. Tapi anehnya yang memikul bukan 4 pocong tapi hanya 1 pocong, makhluk itu masuk ke dalam gudang.

Rasanya aku ingin pingsan sekarang juga dan tidak ingin melihat pemandangan seperti itu. Shalu segera menarik tanganku lagi dan langsung pergi dari sana.

Saat ingin menyebrang, Shalu kembali menarik tanganku dan mengajakku bersembunyi. Aku ingin marah saat itu, tapi lagi-lagi aku melihat makhluk seperti tadi. Yang ini beda, du tengah kegelapan aku tidak melihat dengan jelas, tapi aku yakin makhluk itu tidak memakai baju sehelaipun namun kain putih dia pegang. Dan lagi-lagi makhluk itu masuk ke dalam gudang.

Aku benar-benar ingin hilang dari dunia ini sekarang juga, jika aku bisa. Ketika aku sudah tidak melihat makhluk itu aku segera berlari tunggang langgang.
“Hosh...hosh.... sepertinya gudang itu adalah sarang Mereka. Mereka tidak ada di dalam, tapi gudang itu adalah tempat Mereka berkumpul...hosh...hosh... Aku percaya.... aku percaya kalau Mereka ada....” aku dan Shalu segera berlari lagi setelah berhenti sejenak.

Sejak saat itu kesombonganku dan keangkuhanku hilang seketika. Aku menjadi Shalu yang lemah lembut. Bukan Zaara yang kasar. Sejak saat itu pula aku mulai mendengarkan nasehat orang tuaku. Tapi jangan anggap aku penakut, aku bukan penakut melainkan sekarang aku menghargai hal-hal yang dianggap remeh. Hal yang remeh bukan berarti mudah untuk dilewati. Inilah kisahku, ini bukan kebohongan melainkan Kisah Nyata.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Kisah Nyata Mistis "Ternyata Mereka Ada""

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel