Kisah Nyata "Mungkin Dulu Kau Dibully, Suatu Saat Nanti Kau Dipuji"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian stori nyata ini dituliskan oleh Rizka Ayu Damayanti dengan judul "Mungkin Dulu Kau Dibully, Suatu Saat Nanti Kau Dipuji". Penulis dalam hal ini membagikan kisah inspiratifnya yang layak dibaca.

Begini, Kisah Nyatanya...

Aku selalu bingung harus memulai sebuah kata untuk kubicarakan kepada mereka. Selama ini aku hanya berusaha mengimbangi kemampuan otak mereka  dengan mencoba bertanya kepada guru tentang materi pelajaran, tapi justru yang terjadi berkebalikan.

Pertanyaan yang kuajukan seperti terasa konyol bagi mereka. Pertanyaan yang kuajukan seperti pertanyaan yang “kenapa pertanyaan seperti itu masih saja ditanyakan coba? Sudah jelas lah jawabannya seperti ini”.

Selama hatiku masih baik-baik saja, aku masih bisa bertahan di SMP elit tersebut. Namun, semua mulai tidak terkendali ketika aku mulai menyadari beberapa hal yang membuatku berbeda. Beberapa hal kekuranganku yang sering membuat mereka tertawa dengan tatapan sedikit menghina. 

Selamat pagi Nenek... Oh Nenekku...” ucap salah seorang teman kepada teman yang lain.

Aku penasaran mengapa temanku memanggil orang lain dengan sebutan nenek. Dengan pertanyaan yang polos aku menanyakan kepada mereka.

Kok manggil nenek?” 
Itu, keluarga-keluargaan di facebook,” jawab salah seorang dari mereka.
Keluarga? Memang bisa ya? Facebook apaan sih? Aku baru dengar itu,” ujarku dengan mata gemilang dan penasaran setengah mati dengan istilah asing yang baru saja mereka katakan. Saat itu tahun 2009 dan aku tidak tahu facebook itu apa.

Facebook saja tidak tahu?” tukas salah seorang dari mereka dengan tatapan seolah-olah aku adalah manusia yang baru saja keluar dari gua. Salah seorang yang lain hanya diam menatapku kasihan.

Seperti yang kukatakan, aku selalu bingung memulai kata apa yang harus kugunakan bicara dengan mereka. Setiap kata yang kuucapkan selalu saja salah di mata mereka. Aku lebih memilih diam, duduk, mendengarkan penjelasan guru, dan pulang. Hanya itu yang bisa kulakukan tanpa interaksi menyenangkan yang bisa orang lain dapatkan dengan makhluk bernama “teman”.

Aku sangat menyadari bahwa aku tak pandai bercanda untuk membuat mereka tertawa, aku juga tidak pandai bertukar pikiran tentang pelajaran. Aku seperti manusia gua yang keluar ke peradaban tak kukenal. Banyak hal tak kupahami dan banyak hal yang membuatku sulit mencerna perkataan mereka, hingga terkadang membuat mereka kesal harus menjelaskan berulang kali kepadaku. Aku tidak bisa menciptakan kenyamanan seperti yang orang lain lakukan.

Jarak di antara kami semakin terlihat ketika tak ada satu orang pun yang mau duduk bersebelahan denganku. Mungkin ketika aku meminta ijin untuk duduk bersebelahan, mereka mengiyakan tetapi tak berselang lama kemudian secara malu-malu mereka menginginkanku untuk pergi.

Aku ingin sendiri Riz, mungkin kamu bisa duduk di sebelah Isna,” ujarnya sedikit membuatku kecewa, tapi aku sudah merasa hal ini pasti akan terjadi cepat atau lambat. Aku mengiyakan dan meminta ijin untuk duduk di sebelah Isna.

Bagiku, ini adalah kesempatan kedua dan aku harus berubah. Aku berusaha menyeimbangkan topik pembicaraan dengan Isna dan dua sahabatnya yang duduk di depan. Beberapa kali berhasil, tapi selebihnya kita saling diam mencoba menyelami pikiran masing-masing. Saat itu aku merasa betapa sulitnya menemukan orang yang bisa diajak bicara.

Riz, kamu mau pindah gak? Isna ingin duduk sendiri,” kata salah satu sahabat Isna menyampaikan keinginan Isna yang terpendam. Isna tak berani mengatakannya langsung kepadaku. Namun, tetap saja entah dikatakan langsung atau lewat perantara, rasanya sama saja menyakitkan. Aku seperti manusia yang tertolak dan tak ada yang mengharapkanku menjadi temannya. Sejak saat itu aku memutuskan untuk duduk sendiri daripada terus menerus dilempar dari satu orang ke orang yang lain. 

Kesepian, kesendirian atau apapun aku tidak peduli lagi. Bagaimana aku bisa bertahan di SMP dengan saingan yang cukup besar seperti ini saja aku sudah bersyukur. Berpindah sekolah sama saja akan menambah biaya. Hingga semua itu hanya bisa kutahan meskipun beberapa dari mereka sering membicarakanku di belakang.

Jangan sama Rizka... dia itu... lemot,” tepat ketika kata itu diucapkan, aku tengah berjalan sendirian ke arah mereka. Aku mendengarnya dengan jelas dan aku melhat siapa yang mengatakannya. Seketika dia menyadari keberadaanku dan hanya bisa tersenyum merasa bersalah. Aku hanya diam dan berlalu.

Tahan... tahan... dan tahan... hingga puncaknya aku tak bisa menahan air mataku untuk tumpah di kelas. Suatu ketika di acara jalan santai sekolah, di tengah perjalanan kerongkonganku seperti gurun yang merengek kehausan, mencari di mana saja ada seseorang yang membawa air dan bisa kuminta. Hanya satu orang yang kukenal sedang membawa satu gelas air minum saat itu.

Aku minta ya...” pintaku.
Cuma satu gelas. Mana cukup buat banyak orang,” tolaknya dengan halus. Aku mengerti dengan keterbatasan air yang ia miliki, maka lebih baik aku mengurungkan niat dan bertahan dengan kehausan.  Hingga tak berapa lama kemudian, salah seorang teman juga meminta minum dan ia mengiyakan. Hatiku yang saat itu tak terima langsung bertanya.

Kok dia dikasih?” tanyaku kecewa.
Karena dia berbeda denganmu.


Tak ada jawaban yang lebih menyakitkan lagi selain itu yang pernah kudengar. Tanpa menunggu respon berikutnya, aku langsung menyelipnya dan menerobos barisan kelas lain. Berjalan sangat cepat menahan air mata yang sudah menggantung di pelupuk.

Berlari... sebentar lagi... dan akhirnya air mata itu tumpah menemaniku yang tiba lebih awal di kelas seorang diri. Apa tak ada tempat di sini untukku yang berbeda? Aku sudah berusaha, tapi semuanya terasa sia-sia.

Kenapa tak ada yang mau menerimaku seperti mereka menerima orang lain? Sejak saat itu, entah darimana asalnya seperti ada tekad dari kekecewaan yang bangkit begitu saja. Tekad kuat untuk membuktikan kepada mereka semua bahwa suatu saat nanti mereka yang akan membutuhkanku. Bahwa suatu saat nanti Tuhan akan membalikkan keadaan.

Tahun berikutnya, aku seperti dilucuti oleh rasa sakit hati. Tak ada waktu untuk bersantai. Waktuku kuhabiskan untuk belajar dan belajar  hingga sedikit demi sedikit aku bisa membuktikan ucapanku dulu. Ketika teman-temanku disibukkan dengan facebook, aku lebih disibukkan dengan buku.

Ketika temanku hanya membaca buku satu kali, maka aku harus membacanya 5 kali. Ketika teman-temanku disibukkan dengan ketertarikan akan cinta, aku lebih tergila-gila mengejar cita-cita. Hingga di tahun keduaku berada di SMP tersebut, aku sudah bisa menggeser beberapa posisi temanku dan masuk dalam salah satu siswa yang patut diperhitungkan. Mungkin memang benar bahwa lidah adalah pedang yang paling tajam, dan siapa sangka dari perkataan mereka aku bisa berlari ke depan dengan menggenggam rasa sakit. 

Di tahun ketiga, orang-orang yang dulu membicarakanku di belakang mulai menghormatiku seperti mereka menghormati orang lain. Mereka lebih bisa menerimaku dan membuka percakapan yang bersahabat denganku. Orang-orang yang dulu meremehkan kemampuanku, perlahan mulai melihat kemampuanku. Puncaknya adalah ketika aku berhasil menyabet juara 1 dalam perlombaan tingkat nasional.

Saat itu banyak hambatan yang kurasakan untuk mengikuti lomba menulis tingkat nasional tersebut. Aku harus rela menuliskan cerita dengan tulisan tangan di kertas. Mengerjakannya di sela-sela pergantian mata pelajaran, bahkan hingga mengendap-endap mengerjakannya ketika pelajaran tengah berlangsung demi mengejar deadline.

Lantas menyalinnya ke komputer ketika malam minggu di warnet atau menumpang komputer saudara. Mengajak ibu atau ayah untuk menemani dan membacakan hasil tulisanku agar lebih cepat selesai diketik. Membagi waktu antara sekolah dan menulis cerita menjadi dua hal yang cukup berat. 

Hampir saja aku menyerah di tengah jalan, tapi keinginanku untuk memiliki laptop dengan hadiah itu begitu besar hingga membuatku terus bertahan sampai naskah cerita benar-benar dikirimkan ke panitia lomba.

Sudah lama komputer pentium 3 yang dibeli ayah rusak di kelas 1 dan setelah itu aku harus pergi ke warnet atau menumpang komputer saudara untuk mengerjakan tugas. Setiap kali temanku membawa laptop, setiap kali itu juga aku hanya bisa memandangi alat ajaib yang bisa menampilkan segalanya tersebut sembari membayangkan bagaimana rasanya jika menulis cerita hanya tinggal membuka alat itu, memangkunya dan menekan-nekan tuts keyboardnya. 

Sejujurnya aku tidak begitu menaruh harapan dengan hasil lomba tingkat nasional tersebut karena membayangkan jumlah siswa SMP dari Sabang sampai Merauke saja sudah membuatku cukup sadar diri.

Namun, qadarullah, atas izin Allah kabar baik itu datang di tahun ketigaku di SMP. Guru pembimbingku mengatakan bahwa aku berhak berangkat ke Jakarta untuk mengikuti presentasi lomba. 

Aku masih ingat, saat itu bulan puasa dan aku bersama seorang guru pembimbing dan ibuku berangkat ke Jakarta. Seumur-umur, baru kali ini aku merasakan menginap di hotel bintang lima, merasa seperti orang kaya dalam waktu 4 hari, bertemu dengan dewan juri yang merupakan penulis terkenal dan dapat bertukar cerita dengan teman-teman lain dari segala penjuru daerah.

Aku masih ingat bagaimana rasanya berdebar-debar ketika akan mempresentasikan karyaku di depan semua orang. Namun, sekali lagi Allah seperti memberiku anugerah yang tak pernah terkira untukku. Namaku tertulis sebagai juara pertama dalam lomba tersebut. Rasanya mustahil dan tidak percaya, namun Allah penuh dengan keniscayaan-Nya. Aku masih ingat bagaimana momen itu begitu mengharukan bagiku.

Beberapa kelebat bayangan perjuanganku dari kelas 1 tiba-tiba menyeruak saat itu. Bagaimana aku harus bertahan dengan kesendirian tanpa seorang ‘teman’ yang mau dekat denganku. Bagaimana aku berusaha bangkit dan membuktikan kepada mereka bahwa suatu saat nanti mereka akan memintaku menjadi temannya. Bagaimana aku harus menulis cerita dengan segala keterbatasan yang ada. Dan... bagaimana sesuatu yang terlihat mustahil itu bisa terlaksana karena Allah. Allahuakbar. 

Uang hadiah itu lebih dari cukup untuk kugunakan membeli notebook mungil yang kuidam-idamkan sejak dulu. Sisanya disimpan untuk suatu waktu jika ada keperluan. Hanya saja, selekas itu anugerah datang, selekas itu pula sesuatu yang lain datang.

Selang beberapa minggu dari pelaksanaan lomba, kios yang menjadi tempat ibuku berjualan di pasar terlalap api dan ludes tiada bersisa. Pasar kota yang menjadi tempat bekerja hanya tinggal puing-puing bangunan dan entah berapa kerugian yang harus kami tanggung.

Meskipun demikian, aku bersyukur dengan uang hadiah lomba tersebut yang setidaknya dapat menambal sedikit kerugian yang kami tanggung. Qadarullah, tak ada yang tahu kapan anugerah atau musibah yang akan menghampiri, bisa jadi salah satu, bisa jadi saling menyusul atau bisa jadi dua-duanya datang bersamaan.

Aku tidak bisa membayangkan jika Allah tidak meloloskanku lomba ke Jakarta saat itu, mungkin keluargaku akan lebih terpukul dengan peristiwa kebakaran tersebut. Allahuakbar. Aku yakin Allah tak akan membiarkan hamba-Nya terpuruk dalam cobaan. Pertolongan Allah dimana-mana selama kita mau berusaha. 

Pun kalau dipikir ulang kembali, mungkin aku tidak akan bisa seperti ini jika tanpa perkataan-perkataan menyakitkan dari temanku dulu yang menganggapku lemot, tidak berwawasan luas, atau tidak bisa diajak berteman. Justru hinaan seperti itu lah yang membuatku melecutkan semangat untuk berubah. Allah memang tahu apa yang baik bagi hamba-Nya dan Allah memang sebaik-baiknya penyusun cerita yang tak pernah bisa kita duga.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Kisah Nyata "Mungkin Dulu Kau Dibully, Suatu Saat Nanti Kau Dipuji""

  1. Bagus banget ceritanya kakak,menginspirasi sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin semoga dapat memberikan semangat bagi anak-anak yang mengalami hal sama sepertiku hehe. Menjadikan setiap perkataan yg tdk mengenakkan sebagai semangat utk maju.

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel