Kisah Nyata "Perjuangan Menggapai Mimpi"

KisahTerbaik.Com- Stori yang dituliskan oleh Purwati Anisa Dewi berjudul "Perjuangan Menggapai Mimpi". Dalam kisah ini ia membagikan tentang sejumlah pengalaman dari masuk kuliah sampai menjadi juara dalam sebuah kompetisi. Semoga bisa menginspirasi.

Begini, Kisah Nyatanya...


Namaku adalah Nisa, kisah ini terjadi belasan tahun silam ketika aku melanjutkan pendidikanku S1 di sebuah perguruan favorit di kota Semarang, inilah kisahku.

Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku dan adik laki-lakiku. Ibuku adalah seorang buruh pabrik mie dan bapakku kala itu adalah seorang pengangguran yang baru saja di PHK di tempat bekerjanya karena bangkrut. Kami sekeluarga hidup di rumah nenek yang terbilang luas bersama nenek, bibiku dan anak perempuannya.

Rumah itu sebetulnya terbilang kecil untuk ditempati tujuh anggota keluarga, tetapi apalah daya keluargaku sendiri tidak mampu untuk membeli atau mengontrak rumah sendiri sedangkan bibiku baru saja berpisah dengan suaminya. Jadilah, kami tinggal bersama di rumah nenek.

Kala itu, aku begitu bimbang ingin melanjutkan pendidikan usai SMA atau tidak tidak. Kondisi keluargaku begitu pas-pasan dengan bapak yang baru saja menjadi pengguran dan adikku yang masih SD dan harus sekolah.

Aku bimbang.

Terkadang, aku berpikir buat apa sekolah tinggi-tinggi toh ketika kelak mempunyai suami dan anak pekerjaanku pun akan menjadi ibu rumah tangga. Aku bingung dan bimbang kala itu, jika langsung bekerja aku tidak mempunyai pengalaman apa-apa dan pasti aku akan bekerja seperti ibukku sebgai buruh pabrik yang hanya bisa menampung orang-orang lulusan SMA.

Aku juga tidak menginginkan hal itu, setidaknya aku ingin mengubah nasib keluargaku menjadi lebih baik dengan membuat bangga kedua orangtuaku.

Singkat cerita, akhirnya aku pun mencoba mengikuti ujian SMPTN dengan modal tekad dan dorongan dari ibuku. Ibuku kala itulah yang menjadi penyemangat hidupku untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, sedangkan bapakku saat itu hanya diam dan menyerahkan segala urusannya kepada aku dan ibukku.

Bapak tidak berani mengambil resiko apapun terutama pada masalah biaya. Perjuangan ku meraih mimpi ternyata tidak berhenti sampai itu. Aku tidak lolos seleksi SMPTN, Aku merasa sedih dan kecewa.

Akhirnya, ibukku pun mendapatkan info bahwa ada seleksi masuk mandiri perguruan tinggi. Ibuku pun memberikan motivasi agar aku mengikuti seleksi tersebut. Tetapi aku juga resah, kata kakak kelasku dulu di SMA biaya kuliah ujian mandiri itu sangat mahal dibandingkan biaya reguler.

Aku bingung, tetapi tidak untuk ibukku. Kata beliau, rezeki bisa dicari. Insyaallah pasti aka nada jalan.

Aku pun mengikuti tes seleksi mandiri perguruan tinggi dan dinyatakan lolos. Seluruh keluargaku sangat senang dan bangga kala itu. Aku berjanji akan belajar sungguh-sungguh untuk memberikan yang terbaik kepada ibuku dan orang-orang yang kucintai. Aku igin menjadi mahasiswa terbaik dan berprestasi di kampus perguruan itu.

Ternyata, niat dan keinginan itulah yang mengantarkanku kepada dua orang kakak kelas yang akan memengaruhi seluruh kehidupanku ketika kuliah di kampus, sebut saja mereka adalah Mbak Agustin dan Mas Rangga. Mereka berdua adalah master of campus, mereka berdualah yang kali pertama mengajariku menulis.

Pertemuan kami terjadi dalam sebuah acara jurusan di kampusku. Berawal dari hanya saling menyapa dan terlibat obrolan kecil-kecilan. Akhirnya, Mbak Agustin pun mengajakku untuk bergabung bersama tim-nya mempersiapakan lomba karya tulis.

Aku tidak terlalu paham dengan alasan Mbak Agustin menawariku hingga mengajakku. Padahal aku tidak terlalu mahir menulis apalagi untuk kepentingan lomba. Pengalamanku menulis baru sebatas menulis diary, puisi, ataupun mungkin cerpen kecil-kecilan di kertas coret-coretan setelah itu aku lupa meletakkan dimana.

Saat itu di kampus, tengah digelar lomba karya tulis tingkat fakultas. Aku sendiri tergabung dengan tim nya Mbak Agustin yang akan siap membimbingku. Kami mengambil tema yang begitu fantastis. Sepertinya perjuangan kami membuahkan hasil, tim kami dinyatakan juara 1 tingkat fakultas dan akhirnya lolos ke tingkat universitas.

Aku begitu senang dan bangga, akhirnya aku menyampaikan kabar gembira ini dengan ibu di rumah. Ibu pun terharu demi mendengarnya. Aku juga meminta maaf belum bisa pulang, karena aku sedang sibuk membantu Mbak Agustin dan Mas Rangga mempersiapkan referensi dan data-data tambahan untuk maju ke tinggkat universitas.

Aku pun mempersiapkan diri dengan lebih baik. Aku belajar berpikir kritis dan mulai menulis serta belajar untuk terlibat aktif dalam diskusi dalam mempersiapkan lomba lanjutan yang akan digelar pekan depan.

Sebenaranya ada sebuah pengalaman dan hikmah tersendiri ketika aku membantu mencari data-data. Aku diminta untuk mencari sampel WTS untuk kami wawancarai sebagai penguat data kami. Aku meminta bantuan sepupuku untuk membantu mendampingi mencari sampel wawancara yang dimaksud. Aku pun mulai mendata list pertanyaan yang akan diajukan ke sampel WTS melalui sepupuku.

Ada sesuatu yang membuatku prihatin demi mendapatkan informasi dan jawabannya. Mereka rela menjual tubuhnya sekian demi sekian untuk memuaskan gaya hidupnya ada juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Jawaban pun beragam dari informasinya yang disampaikan ke sepupuku. Hari pelaksanaan lomba pun tiba, aku pun mempersiapkan diriku dengan sebaik mungkin agar dapat memberikan yang terbaik untuk semuanya. Hatiku berdebar saat itu, karena aku termasuk peserta dalam tim yang masih begitu muda.

Hingga undian kami pun tiba. Kami pun maju presentasi, menjawab pertanyaan juri, dengan yakin dan mantap. Seluruh apa yang kami siapkan bukanlah fiktif itu benar-benar terjadinya di sekeliling kita.

Akhirnya, presentasi kami pun ditutup dengan rekaman wawancara sepupuku dengan sampel WTS. Hening. Kuperhatikan juri mulai berdecak kagum puas terhadap jawaban kami.

Aku sadar ini bukanlah mimpi. Pipiku kucubit berkali-kali ternyata masih sakit. Air mataku mulai menguar dalam pupilku sebagai rasa syukur. Aku tidak menyangka kalau Mbak Agustin dan Mas Rangga akan membawaku sejauh ini.

Kami dinyatakan meraih juara 1 tingkat Universitas dan tentunya kamilah yang akan mewakili kampus untuk maju ke tingkat wilayah. Aku segera menelepon ibu untuk mengabarkan berita gembira ini. Kudengar suara isak dan tangis mulai menggema dari nada ibukku. Lantunan puji syukur pun menghias percakapan haru kami.

Persiapan kami tidaklah banyak untuk menguatkan data-data kami. Kali ini kami tidak mencari sampel WTS di pinggir jalan raya ketika tengah malam. Tetapi, kami harus datang sendiri ke tempat lokalisasinya (sekarang sudah dihapus).

Aku tertegun.

Aku merasa seumur hidup belum pernah satu kalipun menjamah tempat seperti itu jika ibukku tahu pasti akan kaget dan cemas. Lokalisasi yang dimaksud adalah sebuah perkampungan dimana para WTS bersama mucikari tinggal.

Kali pertama memasuki gapura jalannya kami sudah mulai disuguhi berbagai umbul-umbul merek alat kontrasepsi yang mulai menjamur di sepanjang jalan dan rumah-rumah. Rumah-rumah masih tertutup rapi di siang hari ini. Tak ada aktivitas yang berarti, kecuali satu atau dua orang yang mulai
berlalu lalang keluar masuk warung.

Aku ngeri dan sekaligus berpikir bukankah alat kontrasepsi tidak menjamin 100% terjadi kehamilan. Bagaimanakah pemerintah akan mengatasi penyakit kelamin yang akan menyebar nantinya.

Aku prihatin. Aku tidak mengerti.

Motor kami mulai melaju untuk mencari tempat LSM yang singgah di sana. Kami pun disambut dengan begitu ramah hingga terlibat pada obrolan kecil disambung dengan wawancara yang dilakukan Mbk Agustin dan Mas Rangga.

Kali ini aku diam menyimak informasi yang kudapatkan. Setelah itu, kami pun disuguhi denah area perkampungan lokalisasi. Informasi yang kudengar dari pembicaraan tersebut adalah tidak semuanya area rumah di tempat ini digunakan sebagai tempat prostitusi.

Hal tersebut dapat dibedakan dengan stiker merek alat kontrasepsi yang tertempel. Jika rumah itu tidak ada stiker merek alat kontrasepsi berarti rumah tersebut adalah rumah warga biasa. Begitu juga dengan gambar botol minuman dalam denah tersebut yang melambangkan area judi dan minum-minuman keras.

Kengerian mulai muncul di wajahku lagi dan pertanyaan mulai menggema. Kemudian, bagaimana dengan kehidupan sosial anak-anak yang tinggal di sana dan masa depan mereka? Nihil! Sepertinya tak ada jawaban. Aku hanya menyimpulkan mereka rela menjual tubuhnya sekian demi sekian hanya demi segepok uang.

Hari yang telah ditentukan tiba, pelaksanaan lomba dilakukan di kampusku karena pada saat itu kampusku yang menjadi tuan rumah. Kupanjatkan rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan begitu banyak kenikmatan dan anugerah di sepanjang hidupku.

Kami tidak diperkenankan tinggal di kos yang mungkin terbilang begitu dekat dengan tempat lomba. Kami tinggal di sebuah hotel mewah bersama peserta lainnya dan dijamu dengan makanan ala restoran yang tentu saja belum pernah kunikmati seumur hidupku.

Kala itu rasanya aku seperti OKB (Orang Kaya Baru) kami diperkenankan memakai fasilitas hotel apapun. Karya tulis ini telah mengajarkanku banyak hal. Tidak hanya membawa tim kami juara 1 tetapi kami mendapat pelajaran hidup yang begitu berarti melalui proses pencarian data dan referensi. 

Banyak sekali pelajaran dan hikmah yang aku ambil. Aku bersyukur berada di dalam lingkungan keluarga yang baik, walau kami hidup kekurangan kami tidak rela menjual kehormatan kami untuk sesuap nasi.

Juri dalam lomba karya tulis kali ini tidak seperti di tingkat universitas. Diantaranya adalah pakar-pakar humaniora di tingkat wilayah dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Profesor Doktor). Keringat dingin mulai menjalar ditengkukku kala itu demi menghadapinya.

Aku seperti mati kutu. Ketika salah satu juri memberikan pertanyaan kepada tim ku. Akhirnya, Mbak Agustin dan Mas Rangga pun memegang kendali pertanyaan dengan memberikan jawaban yang begitu mantap dan meyakinkan.

Juri pun mulai puas dengan jawaban tim kami.

Akhirnya, perjuangan kami selama tiga hari pun tidak sia-sia. Lomba karya tulis ini telah menghatarkan pada perjuangan yang tinggi hingga sampai keujung dimana letak muara lomba ini. Tim kami sekali lagi dinobatkan menjadi juara 1 di tingkat wilayah B.

Hal inilah yang mengantarkan kami menuju PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiwa Nasional) di UMM Malang. Aku terharu. Pupilku pecah berkaca. Rasa syukur sekali lagi menggema di dalam relung hatiku.

Aku tahu.

Aku bukanlah siapa-siapa dan bukan apa-apa ketika aku mencoba menoleh ke belakang. Semangat dan doa ibu -lah kunci dari semua perjuangan ini hingga aku mampu meraih mimpi-mimpiku.

Satu bulan kemudian aku bersama tim menginjakkan kaki di altar PIMNAS. Kami tiba di Kota Malang bertemu dengan orang-orang hebat di seluruh Indonesia. Kami bertemu dengan orang-orang terpilih. Mahasiswa terpilih dari universitas di seluruh Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Satu pekan kami dikarantina digembleng habis-habisan dari pagi hingga malam.

Hingga pada titik nazdir penghabisan. Kami pulang dengan berjuta pengalaman meskipun predikat juara tidak ada di tangan. Kami pulang dengan senyum yang mulai mengembang.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Kisah Nyata "Perjuangan Menggapai Mimpi""

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel