Kisah Nyata "Romantisme PanggilanNya

KisahTerbaik.Com- Rangkain kisah nyata ini dituliskan oleh Annisa Nawangsari dengan judul "Romantisme PanggilanNya". Dalam cerita ini ia membagikan pengalaman hidup yang bisa menjadi cerminan bagi segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisahnya...

Ditemaram senja saat itu sayup sayup menjelang adzan maghrib berkumandang, Gaduh ia merefleksikan diri dari mimpinya. Matanya yang sipit tiba tiba berbinar, ia merintih. Saat itu hanya ada seorang anak kecil yang berkemul takut, tak berani beranjak melihat keadaan kakeknya. Dan seorang belia, mengintip sedikit bergidik namun memberanikan diri kemudian memeluknya, membacakan ayat ayat kahfi. Menyeka peluhnya.

Ini pertamakalinya.
Ia buta.

Ia tak tau apa yang harus diperbuat selain tetap menemani, dan terus menanyakan keadaan kakeknya, melayani makan, menyediakan minum, mengingatkan waktu waktu sholat.

“Mbah kakung ajeng dahar?” (kakek mau makan?)
“Mbah kakung ajeng ngunjuk?” (kakek mau minum?)
“Mbah kakung sampun sholat” (kakek sudah sholat?)

Hanya kata kata itu yg keluar dari mulut belia sambil menatap nanar, sesekali ia mendekap kaki
dingin sang kakek dan menambah tanya

“Pripun mbah?” (ada apa mbah?)

Ia tercengang, ia terdiam. Bulu kuduknya sedikit bergidig. Apa yang kakek katakan? Rupanya ia sedang menyambut malaikat, dan berjalan jalan bersama para malaikat. Sesekali ia ketakutan, dan benar benar memohon agar ia tak masuk kedalamnya. Rupanya malaikat memperlihatkan nyala api yang membara.

“Ampun moloikat, kulo ampun diparingke wonten mriku. Kulo nyuwun saestu” (Saya sangat memohon ampun wahai malaikat, jangan kau tempatkan aku pada tempat itu.)

Keringat dingin nya menetes lagi..

“Suwargo mawon, parengaken kulo wonten suwargo. Nanging yen kulo kudu manut kaputusane
panjengan kulo ridho, ikhlas” (Surga saja, tempatkan aku di surga. Tetapi jika saya harus tetap tunduk pada keputusan Allah, saya Ridho).

Ia sedang terus bernegosiasi, meminta syurga sebagai tempat abadinya. Namun juga dilain sisi ia benar benar sedang pasrah terhadap keputusan malaikat yg diperintahkan Allah.

Anak belia itu sempat tak percaya apa yang ia dengar. Namun karena keimanannya lalu tersadar, mungkin di kosong ruang kamar yang sedang menampilkan romantisme sang kakek bersama cucunya ini, banyak pula malaikat memenuhi sisa ruangnya.

Pengalaman pertama menjaga sang kakek sendiri. Ia langsung disuguhkan hal yang membuat sebuah keimanan semakin bertambah berlipat lipat. Namun ia tetaplah seorang belia tak berilmu.

Panik menyergap tapi ia mampu mengendalikan.

Tenang ia menelfon semua anggota keluarga yang sedang memenuhi undangan di jakarta. Ayah, ibu, budhe, pakdhe, kakak sepupu. Ia mengabarkan kondisi sang kakek, namun ia tak berani menceritakan percakapan sang kakek bersama mungkin malaikat.

Semua jawabannya sama “di kompres saja, sambil ditemani. Sudah biasa mengigau. Jangan lupa sholat dan makannya di ingatkan”. Ah, hanya jawaban budhe yang sedikit menyegarkan

“nanti mas iparmu tak suruh ke rumah, menemani”

Anak belia itu sedikit lega, setidaknya ada waktu istirahat malam itu. Sekitar pukul 10 malam ia bersiap tidur. Tak lupa menawarkan teh hangat dan bantal untuk istirahat kakak ipar. Ia menahan kantuk, namun tetap tak bisa pergi dari kamar kakek sebelum melihat sang kakek tidur. 30 menit berlalu, sang kakek terlihat tenang, menarik selimut menutupi paha yang tersingkap, sesekali tawaran minum dari cucunya diindahkan.

Belia pun memasuki kamar. Belum 5 menit berlalu, belum pula mata terpejam, hanya sedikit merebahkan badan. Tiba tiba pintu kembali di ketuk, belia itu menghampiri daun pintu, membukanya, disambut dengan raut wajah kebingungan dari sang kakak ipar.

Ia berbisik “kenapa mas?”.
Sang ipar menjawab “kok mbah kakung diam aja ya”

Belia itu langsung melihat keadaan sang kakek, memegang keningnya masih terasa hangat, memegang kakinya yang dingin, meletakkan jari jari di hidung sang kakek, hanya ada hembusan nafas berat dari hidung sendiri rupanya, lalu terahir ia mencari nadinya, hanya hening, kemudian
tertunduk mengucap “Innalillahi”
Ia menatap sang ipar “mbah kakung meninggal ini mas”

Iparnya masih belum percaya, ia penuh keraguan, mungkin karena kata kata berat itu terucap dari mulut belia yang tak berilmu.

“aku belum mantep dek” sambil ia mondar mandir menyeterika lantai dengan kakinya.

Deringan telfon dari budhe ia angkat, ia kabarkan bahwa sang kakek belum meninggal, dan masih bisa terkondisikan oleh kita. Mungkin ia terpukul, sehingga belum bisa menerima kenyataan.

Dering telfon ke dua, sang belia yang mengangkat, mantap ia berkabar bahwa kakek sudah tiada. Tapi lagi lagi semua belum bisa percaya.

Sang ipar masih saja terus berkata “dek aku belum mantep dek”.

Ia bingung harus berbuat apa sembari tetap mondar mandir memperhatikan kakek terbujur kaku. Si belia menarik nafas, menahan gelisahnya memberikan solusi terbaik yang membuat sang ipar lantas bergerak mengunjungi rumah tetangga tetangga.

Malam itu, ketika semua menjadi saksi bahwa hak ke 6 seorang muslim bagi muslim lainnya dipenuhi untuk seorang kakek yang selama hidup tak pernah menyimpan dendam, selalu bersabar serta ikhlas dalam urusan urusan keduniawian dan selalu menjadi tetesan embun paling segar bagi cucu cucunya. Barulah semua keluarga percaya bahwa kerinduan Allah lebih besar dibandingkan dengan bakti yang mereka haturkan untuk ayah serta kakek tercinta.

Kota Sukabumi harusnya mampu menghapus lelah perjalanan dari Jakarta, namun tekat menunaikan bakti terahir sang anak menepiskan segala lelah yang ada. Laju mobil melesat diatas rata rata, kantuk kantuk mata dihiraukan, rombongan keluarga menembus jalanan Sukabumi-Magelang dengan dzikir dan tangis.

Rupanya mereka menangiskan dua hal, tangis karena ditinggal ayah tercinta, dan tangis haru kepada si belia yang benar benar mampu tenang membersamai ayah mereka. Setelahnya, malam itu, rumah mereka ramai. Si belia sibuk merebuskan air untuk menyucikan sang kakek, sambil lelah ia menjawab setiap orang yang bertemu malam itu bertanya

“mbak nisa beneran sendiri di rumah jagain kakek?”

Ya, Hanya mereka bertiga. Si adek yang sedari sore takut lantas mengurung diri di kamar kakaknya, sang kakak ipar yang datang bak malaikat di beberapa jam terakhir sebelum kakek meninggal, si belia yang setia membersamai kakek, menawarkan makan, mengambilkan minum, menyeka peluhnya dan senantiasa membesarkan hati agar bisa lebih banyak menampung segala kasih sayang Allah hari itu.

Adakah yg kemudian setia menemani sang kakek di hari hari berikutnya?

Hanyalah amalan amalan baik menjadi pelita, juga doa doa dzurriyah yang menjadi teman setia dalam kegelapan kubur sampai hari akhir nanti. Lalu aku teringat, bukankah sungguh bahagia ketika Ia memanggil dengan ucapan“Yaa ayyatuhan nafshul muthmainnah, irji’i ilaa rabbiki rafhiyatan mardhiyyah, fadhuli fii ‘ibaadi wadhuli jannati” (Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu. dan masuklah ke dalam surgaKu).

Sungguh, bukankah itu panggilan romantis dan benar benar sangat dirindukan setiap orang yang memiliki iman di dalam hatinya?

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Romantisme PanggilanNya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel