Kisah Nyata "Sabar Tanpa Batas"

KisahTerbaik.Com- Stori nyata ini dituliskan oleh Airyi Aprilia dengan judul "Sabar Tanpa Batas". Dalam kisah ini ia membagikan tentang salah seorang yang bisa menjadi teladan bagi segenap pembaca.

Begini, Kisahnya...

Mayoritas penduduk desa mempunyai mata pencaharian sebagai petani, termasuk Pak Umar. Ia adalah salah satu petani yang rajin dan dermawan. Setiap pagi Pak Umar ke sawah bersama istrinya, Bu Jum. Meskipun hidup serba pas–pasan, namun mereka berdua pantang menyerah. Bagi Pak Umar sudah kewajibannya menafkahi keluarganya.

Pak Umar dan Bu Jum dikaruniai empat anak, salah satu diantaranya laki – laki. Anak pertama bernama Sinta, sifatnya yang dewasa membuatnya selalu mengalah dari adik – adiknya. Anak kedua bernama Ajeng, sifatnya cerewet dan suka menang sendiri. Anak ketiga bernama Imron, ia adalah satu–satunya anak laki–laki yang sifatnya rajin berhemat dan penyayang. Terakhir Wida, sifatnya cerdas, cekatan dan pandai memasak.

Latar belakang pendidikan anak – anaknya hanya SMP. Karena waktu itu untuk makan saja susah, apalagi sekolah. Makan enak hanya saat tetangga ada hajatan, dapat ayam goreng satu juga dibagi rata. Lauk hanya tahu tempe, jarang dengan telur. Karena memang ekonomi kelas bawah terlatih menerima apa adanya, yang penting cukup.

Pak Umar memang terkenal pekerja keras dan sabar di lingkungannya. Ia memang dari keluarga kaya raya. Meskipun tinggal di desa, tapi tanahnya luas dimana – mana. Pak Umar adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Sekarang tanah milik orang tuanya habis sudah dibagi rata dengan saudaranya.

Karena penghasilan petani yang tidak menentu, tidak selalu untung saat panen, namun juga rugi dan hanya kembali modal saja. Pak umar tidak bertumpu hanya pada hasil panennya.

Di samping itu, Pak Umar juga jadi buruh tani di sawah orang. Melihat kondisi ekonomi keluarga, anak – anaknya pun tidak tinggal diam. Sinta dan Ajeng mencoba melamar di sebuah pabrik industri Surabaya. Imron melamar di sebuah toko sembako di Sidoarjo.

Sedangkan Wida ingin jadi TKW di luar negri. Beberapa hari kemudian mereka diterima. Kini Pak Umar hanya tinggal bersama istrinya saja. Meskipun anaknya merantau semua, Pak Umar dan istrinya tidak berpangku tangan.

Ia tetap bekerja keras pagi pulang sore. Banyak rintangan yang begitu pahit dilewati, seperti ejekan tetangga. Pak Umar juga pernah ditertawakan tetangganya karena waktu itu ia pulang dari sawah naik sepeda memakai kaos yang penuh tembelan, banyak orang mengira gila. Tapi Pak Umar tetap sabar, malah menjadi dorongan supaya lebih giat lagi dalam bekerja.

Sekian lama merantau akhirnya anak – anaknya sukses. Kini Sinta dan adik – adiknya mempunyai rumah sendiri – sendiri, malah sebagian sudah berkeluarga. Hidup Pak Umar sudah tidak susah seperti dulu.

Hal ini karena Pak Umar tidak pernah menyerah dan selalu berusaha. Ia juga mengajarkan anak – anaknya supaya rajin dalam bekerja dan tawakal. Karena Pak Umar percaya bahwa kesabaran membawanya pada berkah Tuhan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Sabar Tanpa Batas""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel