Kisah Nyata "Satu Langkah Terbitkan Sejuta Berkah"

KisahTerbaik.Com- Rangkain kisah nyata ini dituliskan oleh Bulkis Ahyuddin dengan judul "Satu Langkah Terbitkan Sejuta Berkah". Dalam cerita ini ia membagikan sejumlah pengalaman berharga untuk segenap pembaca.

Begini, Kisahnya..

“Tetaplah terjaga dalam ketidakterjagaanmu
Teruslah berpijak pada bingkai ketetapan-Nya
Terima skenario dari-Nya dengan sejuta berkah di dalamnya”

Kutengok kebelakang terlihat seorang pengembala yang sedang asik memberi makan hewan
ternaknya dan seorang gadis kecil yang nampak riang mengayu laju sepedanya menuju ke pengembala tersebut.

Sawah yang terbentang begitu luas dan pohon-pohon rindang yang berdiri kokoh telah memancarkan warna hijau nan sejuk dipandang mata. Gunung yang tertata rapi dihiasi awan dengan beragam bentuk dengan polesan langit berwarna biru menambah decak kagumku bahwa betapa kuasanya Sang Maha Pencipta.

Sejenak, kualihkan pandanganku ke depan, kulihat begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang dan polusi udara kian mulai terasa. Suara riuh kini terdengar ditelinga terlebih banyaknya orang singgah rehat di warung makan sebelah rumah.

Yah, itulah tempatku yang dapat kukatakan desa bertopeng kota. Aku besar di keluarga sederhana dengan segudang asa dan cita-cita. Setelah tamat di bangku Sekolah Dasar (SD), aku lebih memilih untuk bersekolah agak jauh dari rumah meskipun aku tahu ada sekolah yang lebih dekat dari rumahku.

Angkutan umum berwarna biru telah menjadi temanku. Panasnya terik matahari dan dinginnya udara dikala hujan turun tak mengendorkan langkahku dalam menimba ilmu.

Hari-hari di SMP ku lalui selama tiga tahun dimana aku bertingkah sesuai dengan apa yang aku mau. Aku bebas jalan-jalan ke sana ke mari hingga suatu waktu dimana orang tua telah gelisah menunggu di depan rumah lantaran aku tak kunjung pulang karena keasikan main di rumah teman sementara tak ku sadari matahari perlahan telah beranjak pergi.

Usai lulus SMP, aku pun melanjutkan pendidikan di SMA yang lokasinya tidak begitu jauh dari SMP ku yang dulu. Berbagai kisah pun ku lewati.

Beragam lomba sains aku ikuti meskipun pada akhirnya aku tak pernah pulang membawa gelar juara. Tentunya ada rasa kecewa namun, biarkan pengalaman ini kujadikan pelajaran agar lebih semangat lagi dalam menuntut ilmu.

Sembari menuntut ilmu, ternyata ada sosok yang datang mengganggu. Yah, dia yang datang membawa sebongkah cinta berusaha menerobos pertahanan dinding hatiku. Sebenarnya aku tak pernah mengerti apa itu cinta namun, ketika ada sms darinya entah mengapa aku merasa bahagia. Awalnya, aku mampu mengabaikan sms darinya namun, setan si Sang durjana acap kali membisikkan rayuan padaku.

“Hanya pesan biasa kok, di balas saja” bisik Sang durjana yang menghasut pikiranku. Alhasil, aku termakan bujuk rayuannya dengan membuat jemariku begitu lihai dalam mengetik tombol-tombol huruf yang ada di handphone ku dan membalas pesan si dia tiap kali dia mengirimkan pesan kepadaku. Hal itu, tentu menyita waktuku namun, aku tak sadar dibuatnya.

Kadang aku menunggu pesan darinya entah mengapa hati ini gelisah dan agak marah ketika ia begitu lama membalas pesan dariku aku pun sering menatap handphone sembari berharap dari sekian pesan yang masuk terselip balasan pesan darinya membuatku lupa akan identitasku sebagai seorang Muslim lantaran membiarkan al-qur’an yang terpajang di lemariku berdebu karena jarangnya kubuka dan kubaca karena handphone telah melengserkan posisinya.

Kadang aku menunda permintaan sang Ibunda ketika Ia meminta bantuanku untuk membantunya memasak di dapur. Tanpa kusadari bahwa berkata “ah” saja pada orang tua tidak dibolehkan dalam agamaku apalagi mengucap kata-kata yang memperlakukan lebih kasar daripada itu.

Menolak panggilannya misalnya. Aku lebih memilih membalas pesan si dia ketimbang membantu ibuku di dapur. Tanpa kusadari aku telah membuat hatinya kecewa. Tak terasa, waktu ujian nasional telah tiba hari dimana Siswa(i) sangat cemas dan gugup menghadapinya namun, rasa itu berakhir ketika selang beberapa hari ujian, Alhamdulillah namaku yang dinyatakan lulus terpampang nyata di papan pengumuman.

Aku yang bercita-cita yang katanya dinobatkan sebagai cita-cita sejuta umat ingin melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Akupun mendaftar dibeberapa universitas namun, dari ketiga universitas yang memiliki jurusan yang selaras dengan anganku, tak ada satupun yang bisa menampungku untuk menggapai citaku.

Hal ini sangat membuatku sedih hingga jiwaku memberontak seakan tak terima dengan kenyataan. Akupun semakin terpuruk ketika teman-temanku bertanya di mana kau melanjutkan pendidikanmu? Aku hanya bisa tersenyum kaku sembari berkata belum tahu mau lanjut di mana.

Karena kekecewaan yang mendalam pada diriku aku pun memutuskan kontak dari teman-temanku dan hanya sesekali melihat handphone kalaupun ada pesan yang masuk, aku hanya mengabaikannya aku tak peduli pesan itu berisi apa dan dari siapa yang aku peduli hanyalah masa depanku.

Akupun tersadar akan diriku yang dulu begitu kurang mengingat-Nya. Kini, kuhiasi sepertiga malamku dengan berdoa kepada-Nya berharap kelak aku bisa lulus di Fakultas Kedokteran yang aku cita-citakan selama ini.

Akupun memilih untuk cuti setahun dengan bertekad di tahun berikutnya aku akan mendaftar ulang namun dengan pilihan yang bukan hanya tertuju pada Fakultas Kedokteran saja tetapi juga Fakultas Farmasi dan Fakultas Keperawatan.

Akupun berikhtiar sekuat tenaga meskipun sesekali aku jatuh dalam jurang kemalasan namun semua itu kuhadang dan tak henti-hentinya berdoa kepada-Nya agar dapat lulus di salah satu pilihan tersebut akhirnya dengan doa orang tua yang acap kali kukecewakan dan dengan izin-Nya, aku lulus di Fakultas Farmasi.

Meskipun Aku tidak berkesempatan kuliah di Fakultas Kedokteran namun, aku ikhlas dan menjalani hari-hariku sebagai salah satu Mahasiswi di fakultas tersebut. Banyaknya tugas laporan hingga kadang menumpuk dan persiapan laboratorium yang harus kulewati membuatku terkadang ingin berbalik arah dan lari dari kenyataan namun, di fakultas ini aku bukan sekadar belajar tentang ilmu kefarmasian tetapi ilmu agamapun sangat kubutuhkan untuk membentengi imanku dari hal-hal yang bisa menjerumuskanku ke pelataran dosa.

Yah, inilah langkah yang kupilih yakni kuliah sambil tarbiyah. Tarbiyah salah satu wadah dimana secara perlahan aku bisa menyedot ilmu dikala jiwaku haus lantaran begitu banyak masalah yang mengusik aktivitas baikku.

Saat tarbiyah, ketenangan itu mampu hadir ditengah-tengah kegelisahan yang menghantuiku selama kuliah. Aku bersyukur menginjakkan kaki di Fakultas ini, aku dipertemukan oleh orang-orang sabar yang tak hentinya mengingatkan dan menasihatiku agar selalu menyertakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap langkahku merekalah sahabatku yang kuanggap seperti saudaraku.

Suatu ketika, handphone ku berdering dan kulihat ternyata pesan dari dia yang dulu sempat menyita waktuku kembali hadir dalam hidupku yang menanyakan perihal kabarku namun, sepercik ilmu dari tarbiyah Sang durjana tak mampu lagi mengobrak-abrik dinding pertahanan hatiku dan akupun mulai memahami bahwa cinta begitu sulit dimengerti terlebih pada cinta yang belum pasti.

Ia mampu membutakan orang yang nyatanya memiliki mata untuk melihat ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang adanya larangan mendekati zina namun ia memilih menutup mata hanya karena nafsu cinta belaka. Ia mampu membuat orang yang bertelinga menjadi tuli ketika seseorang menasihati lantas Ia lari dan bersembunyi dibalik nasihat yang dianggapnya dengki dan lebih memilih menafikan orang yang menasihatinya.

Ia mampu membuat orang di sekitarnya terusik, takut dan cemas sembari memikirkan beribu cara bagaimana agar orang yang disayanginya yang terlanjur hanyut dalam jurang cinta semu dapat diselamatkan dan disadarkan lalu membawanya kembali pada cinta yang lebih mulia.

Untuk bayangmu yang sempat menepi dipelupuk mataku
Aku tak menyalahkan dirimu dan diriku
Aku hanya marah pada Sang durjana yang begitu pandai dalam merayu
Tertawa lepas melihat dua insan tanpa ikatan halal dapat menyatu
Untuk bayangmu yang sempat menyambar relung hatiku
Izinkan aku menghapus memori itu
Kenangan indah yang membawaku pada kemudaratan
Mampu menjauhkanku pada ketaatan
Biarkan rasa ini pupus
Meski harus kugenggam kaktus di tanah yang amat tandus
Biarkan kaki ini berpijak pada ketetapan-Nya
Duhai bongkahan batu yang membendung langkahku di jalan-Nya
Izinkan rasa cemas ini tetap ada
Rasa takut ini tetap menyelimuti
Ketakutan akan ketetapan-Nya
Berharap menjelma menjadi kekuatan sejati
Bukannya menjauhi atau bahkan menghindari
Yang ada hanya menjaga
Kujagakan hati ini dari rupa semu yang selalu terbayang
Dari nama yang belum bisa kuterka dan
Dari genggaman yang masih harus kuterjang
Memang tidak mudah bersembunyi dibalik fitrah
Suatu tantangan yang tak layak dijadikan beban
Mungkin caraku sederhana hanya sebuah dialog singkat yang kulangitkan
Kutitipkan rasa yang enggan kuumbar pada makhluk-Nya
Hingga akhirnya ia yang terjaga akan datang pada yang menjaga
Diwaktu yang tepat dan dengan cara dimana hati tetap teguh dalam bingkai aturan-Nya
Itulah cinta suci yang sesungguhnya.

Aku tak pernah menyalahkan cinta karena itu fitrah yang melekat pada setiap insan manusia. Hal itu wajar namun yang tak wajar adalah cara dalam menikmatinya. Cinta pada lawan jenis itu wajar namun apa salahnya ketika cinta terhadap sesama jenis yakni Ibumu dan saudara kandung perempuanmu lebih mulia kau cintai dibanding Ia yang belum pasti.

Cobalah singkirkan batu yang menghadang langkahmu. Sulit? Mungkin. Sedih? Boleh. Namun, haruskah kau berlarut dalam kesedihanmu yang tak pantas kau tangisi? Awalnya memang susah untuk meninggalkan kebiasaan lama yang mungkin telah mengakar di hati. Tapi bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pemilik hati yang mampu membolak-balikkan hati hamba-Nya? Entah apa, dimana dan bagaimanapun caranya hidayah dan taufiq itu akan bertamu pada ia yang mencari serta bersedia menyonsong kedatangannya.

Mintalah pertolongan pada-Nya. Dia tak akan lekang pada hamba-Nya. Yang ada terkadang hanya kita saja yang melupakan-Nya. Mintalah magfirah-Nya karena sesungguhnya kasih sayang-Nya begitu luas pada ia yang menyesali segala perbuatan buruknya. Ya Rabb aku malu. Betapa kelamnya hati ini, ampuni kami yang membiarkan diri ini terperosok ke dalam perangkap setan yakni musuh yang nyata bagi kami.

Ya Allah kumohon, genggam hati ini ketika iman mulai melemah, rapuh dan tiada berdaya. Arahkan diri ini ketika hendak melangkah tak tahu arah lantas salah dalam melangkah. Sesungguhnya diri ini begitu gambling terhayut oleh rayuan setan karenanya kuatkanlah iman kami ya Rabb.

Dengan tarbiyah meskipun ilmu yang masih terbilang begitu fakir namun mampu menyadarkanku bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tak akan pernah salah menempatkan seseorang tiada yang salah pada takdir-Nya. Bila saja aku mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginanku dulu hal itu malah membuatku semakin jauh dari-Nya.

Hal ini pun mengingatku bahwa janganlah berpatok dan berkutat hanya pada satu pilihan karena sejatinya apa yang kita anggap baik dimata kita belum tentu baik dihadapan-Nya. Begitupun sebaliknya apa yang kita anggap buruk belum tentu terlukis buruk pula dihadapan-Nya. Percayalah kawan akan ada banyak kejutan sebagai wujud buah dari kesabaran.

Dengan tarbiyah, hati ini lebih mampu kujaga dari iming-iming setan si Sang durjana. Dengan tarbiyah, satu persatu mimpi yang kutuliskan pada secarik kertas dapat kucentang dengan lantang. Aku berkesempatan terjun dalam beberapa organisasi kemanusiaan yang mengajarkanku bahwa betapa beruntungnya diriku dibanding mereka. Lantas apa yang membuatku sering lupa bersyukur pada-Nya?.

Dengan tarbiyah aku lebih leluasa memandang masa depanku yang lebih cerah dibanding ia yang sempat menepi di pelupuk mataku dan memperbudak pikiranku. Dengan tarbiyah, aku dilibatkan pada suatu kemaslahatan bukan lagi kemudaratan. Kendati demikian, tetap luruskan niat ini bahwa apa yang dilakukan semata-mata hanya untuk mencari Ridho-Nya bukan ingin menuai banyak pujian dari khayalak.

Kesabaran dan ketegaran hati akan menuntun langkah kaki ini pada sejuta berkah skenario yang dirancang oleh-Nya. Itulah akhir dari sepenggal kisah pendidikanku yang diwarnai dengan sebongkah cinta. Saudariku, tetaplah terjaga dalam ketidakterjagaanmu tetaplah bangkit walau kau telah terjatuh pada lubang yang dimurkainya dan ingatlah sehebat apapun kita merancang skenario namum skenario-Nya lah yang lebih indah oleh karena itu, terimalah dengan lapang dada karena ada banyak ibrah dan keberkahan yang telah menanti di dalamnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

3 Responses to "Kisah Nyata "Satu Langkah Terbitkan Sejuta Berkah""

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel