Kisah Nyata "Secercah Asa Sang Penjuang"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian kisah nyata ini dituliskan oleh Desy Anita dengan judul "Secercah Asa Sang Penjuang". Dalam storinya ia membagikan pengalaman hidup tentang keadaan yang ia alami ketika orangtuanya meninggal dunia.

Begini, Kisahnya...

Aku tidak pernah mengerti apa arti kematian sesungguhnya. Bagiku, kematian hanya berarti lenyap dari dunia ini. Hingga akhirnya, konsep kematian itu sendiri memberikan efek yang begitu besar pada kehidupanku.

Kehilangan seseorang karena kematian membuat hidupku berubah total. Bukan hanya tentang kerinduan namun juga tentang betapa sulitnya menjadi sendirian. Layaknya seorang putri yang kehilangan ratu dan rajanya dan tak pernah tahu dimana pangerannya berada.

Di umurku yang enam tahun aku sudah ditinggal oleh Ayahku dan di waktu aku menuntaskan pendidikan SMA ibuku menyusul ayah. Aku seorang gadis yang berasal dari keluraga kurang mampu dan mempunyai seorang kakak laki-laki yang cacat mental.

Sewaktu ibu masih hidup, ibuku adalah seorang perempuan yang pekerja keras, bijaksana, lembut, dan penyabar. Setiap pukul 03.00 wib ibu pergi ke pasar untuk berbelanja dan menjualnya kembali di warung kami.

Beliau tidak mau kami ikut campur dalam pekerjaannya, dia melakukannya sendiri, karena yang ibu harapkan supaya kami rajin belajar dan bisa meraih cita-cita kami agar tidak hidup seperti Dia lagi. Segala kesusahan pernah ibu alami.

Mulai dari meminjam uang ke orang lain dengan bunga yang cukup besar hanya untuk membiayain sekolah kami, hinaan dari tetangga tentang rumah dan warung kami yang tidak layak dihuni, ejekkan yang pernah dilontarkan tetangga tentang penglihatan ibu yang hampir sudah tidak bisa melihat lagi tetapi Dia tidak pernah melawan sedikit pun kepada mereka. Ya, memang rumah kami begitu kumuh, atap yang bocor, tidak memiliki tempat tidur, serta perabotan-perabotan lainnya yang sudah tak layak pakai lagi.

Tiap malam kami tidur di ruang tamu dengan beralaskan sebuah tikar. Waupun keadaan kami seperti ini tapi aku bahagia karena masih bisa berkumpul bersama mereka dan ibu juga selalu ada waktu buatku di tengah kesibukannya.

Dia selalu menghadapi masalahnya dengan senyuman tanpa mengeluh tentang kehidupannya, Dia hanya selalu membawa kesusahannya di dalam doanya. Pernah sekali terlihatku beliau menangis berdoa untuk mendoakan kami satu persatu anaknya. Hal ini lah yang membuat aku semakin giat dalam belajar untuk meraih cita-citaku dan ingin merubah kehidupan keluargaku yang sekarang.

Kejadian yang begitu cepat, kejadian yang selalu aku ingat bahkan tidak bisa terlupakan olehku. Kamis, 25 Juni 2015 ibuku masuk rumah sakit, tidak ada penyakit yang di derita beliau selama ini. Pukul 24.00 wib tiba-tiba saja beliau terjatuh di ruang tamu, di samping kami tidur.

Saat itu ibu sedang ingin kekamar mandi. Kami pun tidak tahu harus bagaimana, segala cara kami lakukan. Ibu yang matanya tidak bisa terbuka dan mulutnya mulai miring serta bicara yang tidak begitu jelas.

Kami begitu panik pada saat itu, kami juga baru menyadari ibu terjatuh setengah jam setelah ibu jatuh. Disaat itu, ibuku terus memanggil nama kami satu persatu. Mulai dari anak pertama sampai anak terakhir. Aku terus-menurus berdoa sambil meneteskan air mata dan berharap ini semua hanya mimpi buruk bagiku.

Tiba-tiba saja ada bisikan hati saya untuk membawa beliau kerumah sakit dan saya memanggil tetangga yang mempunyai kendaraan untuk membantu membawa ibu kerumah sakit. Beliau yang langsung di bawa ke ruang UGD segera di pindahkan ke ruang ICU dengan beberapa persyaratan dan biaya yang harus ditanda tangan.

Saya hanya bisa menangis melihat keadaan ibuku yang terbaring. Berharap semua kejadian ini hanya mimpiku saja. Biaya ruangan serta obat-obatan yang mahal dan tidak ada BPJS atau kartu kesehatan lainnya yang kami punya, membuat kami kesusahan tetapi selalu ada jalan yang diberi Tuhan kepada kami.

Sewaktu kakak meminjam uang kepada temannya dan meceritakan segala kejadian, dia pun menyarankan agar kami memakai BPJS tanpa berpikir panjang kakak saya langsung mengurus BPJS tapi semenjak ibu memakai BPJS keadaan ibu semakin memburuk.

Pada saat itu ibu berkata pada si sulung bahwa aku harus kuliah. Ternyata ini merupakan pesan beliau sebelum kembali kepada sang Ilahi.

Jumat, 3 Juli 2015 pukul 21.00 wib nyawa ibu tidak bisa terselamatan. Perasaan hancur, marah, sedih, semuanya seperti tidak adil di dalam kehidupanku. ”Aku yang masih sebentar merasakan kasih sayang seorang ayah, mempunyai kakak yang cacat mental, keluarga yang miskin, aku masih terima!!! Tapi kenapa seorang yang paling berharga dalam kehidupaku kali ini di ambil juga!!! Apa sebenarnya rencanaNya buatku???” Hal ini yang terucap olehku di saat aku mendengar ibuku tidak bisa terselamatankan.

Perasaanku hancur berkeping-keping. Disaat ibuku mau di kuburkan, aku sempat berjanji bahwa aku akan meneruskan warung beliau dan aku juga memutuskan tidak kuliah di tahun ini. Biar pendidikan kakak saya tuntas karena tahun depan kakak saya akan wisuda.

Kenangan yang sangat menyakitkan. Sakit yang tak pernah terobati atas kepergian orangtuaku. Memang benar masaku bersamanya memang telah selesai dan tak akan pernah kembali. Biarlah kuingat kenangan-kenangan manis bersama keduanya.

Aku tak akan menangis karena segalanya telah berakhir tapi aku tersenyum karena semuanya pernah
terjadi.

Tiga hari setelah kematian ibu, aku dan anak sulung pergi kepasar jam 03.00 wib, sebelumnya aku juga pernah kepasar diajak ibu itupun karena aku yang minta kepada ibuku. Udara yang yang dingin membuat aku teringat dengan ibuku dan air mataku pun terjatuh.

Aku sungguh merindukan ibuku. Keesokan harinya kami ke pasar tapi belum selesai kami belanja tiba-tiba rombongan polisi dan satpol PP datang. Ternyata, hari ini ada pengusuran. Aku dan kakak pun cepat-cepat mengambil barang kami. Banyak pedangang yang barangnya di bawa, mereka menangis dan aku teringat kembali kepada ibuku dengan penglihatan yang kurang jelas menghadapi kondisi yang seperti ini.

Setahun berlalu, aku yang setiap harinya menjaga warung sambil mengumpulkan uang buat biaya kuliahku dan selalu meluangkan waktu di sore hari untuk belajar. Di saat ujian SBMPTN aku teringat kembali kepada ibuku karena biasanya beliau selalu mendoakan aku bila mau ujian.

Tapi aku harus kuat menjalani hidupku karena beliau pasti tetap mendoaku dari sana. Selasa, 28 Juni 2016 hari yang kutunggu-tunggu sekaligus hari yang mampu merubah masa depanku, merubah tetesan air mata menjadi senyuman yang bahagia.

Pukul 17.00 wib saya pergi ke warnet untuk melihat pengumuman SBMPTN dan ternyata keluar tulisan “Selamat anda dinyatakan lulus seleksi SBMPTN 2016.” Saya sangat senang, tapi tidak dengan kakak yang sulung ia memikirkan biaya karena saya lulusnya diluar kota.

Tapi beruntungnya saya juga di nyatakan lulus bidikmisi sehingga saya diizinkan untuk kuliah di Universitas Siliwangi. Di sini lah saya berharap agar bisa merubah masa depan saya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan selama kita tetap bersyukur, berusaha dan berdoa kepadaNya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Secercah Asa Sang Penjuang""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel