Kisah Nyata "Sejak Awal Hanya Nana"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian tulisan-tulisan cerita nyata yang inspiratif ini adalah karya dari Ani Rosydah dengan judul "Sejak Awal Hanya Nana". Dalam karya ia menceritakan tentang makna cinta yang sebenarnya dan arti kehidupan bagi segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisah Nyatanya...

Ting..” Suara lonceng tanda ada seseorang yang masuk di kedai kopi ini sudah tak asing lagi di telinga gadis manis kelahiran Surabaya ini. Disinilah dia, di kedai kopi langganan dengan tempat yang sama setiap minggunya.

Meja pojok dekat jendela dengan hiasan bunga aster di depannya. Suara sepeda di luar, canda tawa pejalan kaki yang berlalu lalang selalu menemani sorenya, sejak empat tahun yang lalu. Sejak dia tidak lagi bersama orang itu. Sesekali ia tersenyum saat, menghela nafas panjang dan meneguk coffe milkshake andalannya.

********************************************************************************

Flashback on...

Seperti jumat sore biasanya, Nana berlatih di pinggir lapangan basket, berlari kesana- kemari, melompat dan beteriak bersama teman-teman lainnya. Celana olahraga abu-abu melekat ketat di kakinya, dipadu dengan kaos pink dan rambut sebahu yang terkucir satu dengan tidak begitu rapi, mungkin karena dia harus berlari-lari dan melakukan pemanasan lainnya hingga kini kucirnya menjadi longgar.

Tak jauh dari Nana nampak sekumpulan laki-laki di sudut lapangan yang tengah siap memainkan bola basketnya. Sambil melompat Nana tersenyum melihat laki-laki itu, laki-laki tinggi dengan rambut lurus dan tercukur rapi dengan sedikit keringat di dahinya.

Laki-laki itu membalas senyuman Nana dengan lambaian tangannya yang panjang. Ya, Dimas, kekasih Nana sejak 1 tahun yang lalu. Sejak mereka pertama bertemu di lapangan yang sama dengan jam yang sama.

Awal perkenalan mereka saat hari pertama mengikuti ekstrakulikuler. Sudah bisa ditebak mereka adalah pasangan yang serasi di lapangan dimana Dimas sebagai pemain basket dan Nana sebagai
cheerleadernya.

Sepulang berlatih, seperti biasa keduanya pulang bersama. Sebelum itu mereka mampir ke warung mie ayam depan sekolah.

“Biasa ya bu,” tutur Dimas pada Bu Reni, si pemilik warung.
“Kamu mau lanjut kuliah dimana?” tanya Nana membuka pembicaraan sore itu. Dimas terdiam dan nampak berpikir.
“Hmm ntah, dimana aja,”
“Kok gitu? Ditentuin dari sekarang, bentar lagi kita udah harus daftar Universitas loh, harus test dan segala macamnya. Kamu nggak takut?” Nana memperhatikan laki-laki yang sudah tiga tahun ini selalu bersamanya.
“Iyaiya ih, di Bandung,”
“Ooh iya. Hm Dim aku mau ngomong,” ucap Nana pelan.
“Iya kenapa Na?”
“Kamu kan pernah bilang kalau kamu nanti pengen punya istri yang pake jilbab panjang, baik, sholehah?”
“Haha iyalah, kenapa?”

Nana terdiam sejenak dan menjelaskan maksud pertanyaannya. “Aku sebenarnya kepikiran haha, jadi belakangan ini aku sering ikut mama kajian gitu. Terus aku juga suka baca-baca di instagram tentang Islam, dan banyak banget yang aku dapetin. Aku jadi kepikiran mau pake hijab dan berubah buat jadi lebih baik,”
“Serius? Wah bagus Na, aku dukung. Aku seneng banget asli parah,” jawab Dimas semangat.
“Tapi, aku pernah baca kalau sebenarnya pacaran itu dilarang. Hmm bukan gitu sih tapi kita dilarang mendekati zinah dan kata pak ustad pacaran itu udah step menuju kesana, aku takut Dim,”
“Hmm jadi?”
“Maaf,” jawab Nana pelan sambil menunduk.
“Haha iya Na, aku tau maksudnya. Iya nggak papa kalau emang itu yang baik. Kita temenan aja, semoga kedepannya kita bisa jadi lebih baik,” jawab Dimas sambil tersenyum melihat perempuan manis yang sampai sampai satu detik yang lalu adalah kekasihnya.

Dimas terdiam sambil memikirkan keputusan perempuan di depannya ini yang dengan pelan mengucapkan maksud dari kata-katanya. Tentu Dimas menghargai keputusan perempuan baik dan lugu yang sangat dikenalnya ini.

Sakit memang karena Dimas memang sangat menyayanginya. Samar ia melihat mata perempuan di depannya berkaca-kaca. “Oh kumohon jangan menangis,” ucap Dimas dalam hatinya. Ia mencoba tersenyum dan mengobrol dengan gadis di depannya seperti tidak ada apa-apa.

Sejak hari itu, baik Dimas maupun Nana tidak lagi berhubungan, tidak lagi berangkat bersama juga menelpon hanya untuk sekedar bercerita. Keduanya sudah disibukkan dengan aktifitas anak SMA kelas tiga yang hendak mencari tempat kuliah.

Mulai dari bimbingan, hingga bolak-balik keluar kota untuk menjalani test dan mengumpulkan persyaratan yang harus dipenuhinya. Kini keduanya nampak berbeda, Dimas yang mulanya biasa saja sudah memulai sholat malam, berjamaah di masjid dan masih banyak lagi. Begitu pula Nana, tidak lagi dengan celana ketat abu-abu dan rambut dikucir satu, namun dengan balutan gamis dan kerudung yang terjulur panjang menutupi dada.

********************************************************************************

Flashback off...

Tahun demi tahun berlalu, keduanya sudah menjalani kehidupan berbeda di Universitas dan kota masing-masing. Dimas di Bandung dan Nana masih setia di Surabaya, mengetahui kabar hanya dengan melihat beranda facebook yang masih berteman antar keduanya.

Tidak dengan berbalas komentar, like atau pesan namun hanya melihat kiriman dari temannya yang tidak sengaja lewat di Berandanya. “Wah dia sudah wisuda, selamat,” ucap Nana sambil tersenyum menatap layar kotak berwarna putih di depannya.

Apakah Nana sudah wisuda? Hmm belum, Nana masih sibuk mengerjakan skripsinya dengan sesekali menahan rindu yang masih setia melekat padahal sudah beberapa tahun tidak berjumpa, mungkin pula yang disana sudah lupa.

Nana tersenyum karena walau demikian, inilah yang terbaik dan ia bangga menjadi dia yang sekarang, yang senantiasa menjaga dirinya.

“Semangatt revisi, bulan depan wisuda,” desah nana seraya membuka kembali halaman skripsi dan mulai mengerjakannya. “Tingting” tiba-tiba handphone Nana berbunyi, Nana pun melihatnya dan mendapati sebuah pesan diterima dari nomor yang tidak dikenalnya.
“Assalamualaikum Nana, ini Dimas. Kamu apa kabar?” Nana terdiam seraya membaca berulang-ulang isi pesan itu dan memastikan tidak ada kesalahan atau kalimat yang tertinggal saat ia membacanya, ia terdiam sejenak menarik nafas dan membalas pesan tersebut.

“Alhamdulillah baik, ada apa ya?” jawab Nana dalam pesannya.
“Tingting” handphone itu kembali berbunyi dan Nana membukanya dengan hati-hati.
“Begini, aku ingin tanya. Kamu sekarang apa sedang menjalin hubungan dengan seseorang?”

Nana terdiam melihat isi pesan tersebut. “Tidak ada” jawab Nana singkat. Ia pun meletakkan handphone nya dan tidak ada apa-apa lagi, tidak ada pesan yang masuk hingga hari esoknya tiba, hmm mungkin hanya iseng saja, pikir Nana.

Sebenarnya ia juga memikirkan pesan Dimas saat itu dan sedikit memunculkan harapan dalam dirinya, namun kembali lagi bahwa ia harus segera menyelesaikan skripsinya agar wisuda bulan depan dapat terlaksana.

Hari demi hari Nana lewati dengan memperbaiki skripsinya dan tibalah saat yang ditunggu dimana Nana memakai Toga dengan make up tipis menghiasi wajah manisnya.

Semua teman-temannya datang dan memberi bunga, Nana nampak sangat bahagia, sesekali ia menengok ke samping kalau-kalau ada Dimas disana, dan ternyata tidak. Usai dengan prosesi wisuda ia kembali ke rumah dengan membawa gelar sarjana. “Toktok,” suara pintu diketuk terdengar dari luar rumah. Ibu Nana pun bergegas membukanya.

“Wah Dimas, sudah lama ya tidak bertemu. Ayo masuk,” ucap Ibu Nana ramah.

Ternyata Dimas tidak sendirian, ia bersama dengan ayah dan ibunya yang disana bermaksud untuk melamar Nana, tentu saja saat itu Nana kaget sekaligus senang. Ia tidak menyangka bahwa benar-benar Dimas yang berada di rumahnya saat ini, orang yang ia cintai dulu bahkan saat ini.

Disinilah mereka sekarang, Nana nampak cantik dengan busana putih dan Dimas mengenakan setelan hitam. Kini keduanya sudah resmi menjadi sepasang kekasih, kekasih yang seutuhnya, yang sah menurut agama.

Nana mencium tangan Dimas dan Dimas mendekatkan bibir ke telinga Nana seraya berbisik, “Sejak dulu memang Nana, hanya Nana,”. Keduanya nampak tersenyum bahagia.

Beginilah Dimas dan Nana yang membuktikan bahwa apa yang dialami Zulaikha adalah benar adanya. Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, semakin jauh Yusuf darinya. Namun, ketika Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah datangkan Yusuf untuknya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Sejak Awal Hanya Nana""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel