Kisah Nyata "Sulitnya Meraih PTN"

KisahTerbaik.Com- Stori dari pengalaman hidup yang benar-benar terjadi ini dituliskan oleh Dheana Rahayu dengan judul "Sulitnya Meraih PTN". Dalam cerita ini ia membagikan pesan inspiratif kepada segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisahnya...

Nama saya Dheana. Saat ini saya berkuliah di Politeknik Pos Indonesia, program studi D3-Teknik Informatika, bulan oktober nanti semester 5. Saya sedikit ingin membagi kisah yang terjadi sewaktu di bangku SMA kelas XII.

Tahun 2016, tahun yang menurut saya adalah tahun terberat selama 19 tahun saya hidup. Masalah-masalah bermunculan yang membuat saya hampir putus asa. Duduk di bangku kelas XII adalah saat dimana keadaan menuntut saya untuk memilih jalan demi masa depan yang cerah. Kuliah adalah salah satu impian saya.

Terlahir sebagai anak tunggal membuat saya harus memikul beban yang dibilang lumayan berat. Saya harus bisa membahagiakan dan mewujudkan cita-cita kedua orang tua saya. Jika ditanya apa cita-cita kedua orang tua saya sampai mengharuskan saya berjuang mati-matian untuk bisa mewujudkannya, cita-cita itu adalah memiliki rumah sendiri.

Sederhana tapi menurut saya itu membutuhkan usaha yang keras.

Dari kecil sampai waktu saya menulis kisah ini, kami belum memiliki rumah sendiri. Kami sering tinggal berpindah-pindah. Mulai dari mengontrak, tinggal di rumah nenek atau saudara, dan sekarangpun masih.

Hingga saya beranjak dewasa, saya bertekad untuk bisa punya rumah untuk kami bernaung dari teriknya panas matahari dan derasnya hujan. Itu impian terbesarku. Sebelum ujian nasional, banyak sekali perwakilan dari perguruan tinggi negeri yang mempromosikan PTN-nya masing-masing. Dan sayapun tertarik pada dua universitas negeri yang paling terkenal di Jawa Barat, ITB dan UNPAD.

Saya berpikiran bahwa akan terlihat sangat ‘keren’ bila saya bisa berkuliah di salah satu universitas tersebut. Mungkin saudara atau tetangga akan sering menyebut dan membanggakan saya. Betapa bangganya kedua orang tua saya bila saya bisa kuliah disana.

Akhirnya, sayapun mencoba untuk daftar kesana melalui jalur SNMPTN (jalur raport). Tapi sayang, saya tidak lolos. Saya terpuruk dan menangis ketika sore itu masih dengan seragam abu-abu yang melekat ditubuh membaca pengumuman SNMPTN.

Maaf Kamu Tidak Lolos.

Kalimat yang menghempaskan segala impian dan harapan saya kala itu. saya hancur, sakit, menangis, meraung, dan kecewa. Tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri yang sangat serakah memilih dua perguruan tinggi negeri ‘raksasa’ itu dengan nilai pas-pasan.

Kesempatan keduapun datang. SBMPTN menumbuhkan kembali harapan saya untuk bisa kuliah di perguruan tinggi negeri. Lagi-lagi UNPAD jadi pilihan. Seakan saya tak merasa jera padahal sudah pernah ditolak sebelumnya.

Kali ini UPI jadi pilihan lain.

Saya ingin jadi guru. Hari itu tanggal 31 Mei 2016. Saya kembali bertaruh nasib. Tes dilakukan di Bandung di salah satu SMA di dekat Balai Kota. Dengan diantar kedua orang tua dengan mengendarai mobil pick up hasil sewaan. Juga dengan persiapan yang kurang, saya coba untuk bisa lolos SBMPTN. Tapi sayang, lagi-lagi saya gagal. Memang benar apa kata pepatah. Hasil tidak akan menghianati proses. Jika prosesnya kurang maksimal, hasilnya pun akan sama, kurang maksimal.

Pupus harapan untuk bisa menjadi guru dengan kuliah di perguruan tinggi negeri. Kecewa lagi-lagi saya rasakan. Harus dengan apa lagi saya bisa kuliah? Saya ingin mengenyam pendidikan tinggi. Saya tidak mau kerja diusia 17 tahun.

Saya masih ingin belajar. Hingga teman satu ekskul Pramuka mengajak saya untuk tes tulis di Politeknik Bandung. Akhirnya saya mau walaupun saya kebingungan dengan jurusan apa yang harus saya ambil. Pilihanpun akhirnya jatuh pada D4-Teknik Konservasi Energi dan D4-Teknologi Pembangkit Tenaga Listrik.

Ya, jurusan yang nyerempet IPA. Lagi-lagi tes dan orang tua masih setia menemani.

Dan lagi-lagi saya gagal.

Kecewa untuk yang ketiga kalinya dan rasa sakitnya tetap sama bahkan lebih karena ini kali ketiga saya mengecewakan kedua orang tua saya. Saya mencoba mengintrospeksi diri. Apa yang salah dengan saya? Belajar sudah, berlatih soal-soal sudah sampai-sampai saya harus mengurung diri di dalam rumah untuk belajar dan belajar. Beribadah dan berdoa saya tak pernah melewatkannya, tapi mengapa saya masih gagal? Apakah saya terlalu bodoh? Atau saya pernah melakukan kesalahan di masa lalu atau mengecewakan kedua orang tua hingga saya harus menanggung karamanya saat itu?

Orang tua tak henti-henti memberi semangat dan motivasi. Orang tua selalu bilang bahwa Tuhan sedang merencanakan yang terbaik buat saya di depan sana. Mungkin bukan dengan jalan kuliah di perguruan tinggi negeri. Masih ada jalan lain.

Sampai akhirnya setelah lebaran, kami sekeluarga pergi ke Garut untuk bersilaturahmi dengan keluarga Ayah. Kami bertemu dengan menantu dari Kakak Ayah saya. Disana kami saling bertukar cerita, juga tentang saya yang ingin kuliah.

Beliau menawarkan untuk ikut tes di salah satu Politeknik milik PT.Pos Indonesia, yaitu Politeknik Pos Indonesia atau disebut PoltekPos. Sedikit kurang familiar di telinga begitu mendengar nama Politeknik tersebut.

Wah, pasti Politeknik itu kurang terkenal.

Lagi dan lagi saya masih dengan keinginan berkuliah di perguruan tinggi terkenal. Kebetulan juga Ibu saya punya brosur Politeknik Pos itu. beliau mendapatkannya sewaktu saya tes di POLBAN. Jadi ada sedikit cerita antara menjengkelkan dan sedikit lucu.

Jadi setelah tes, saya ikut dengan teman baru yang bertemu di sana. Saya ikut dengannya duduk di halte depan kampus sambil menunggu orang tua menjemput karena saya pikir mereka pulang ke rumah Om saya yang ada di Jl.Pajajaran tapi ternyata mereka masih menunggu di parkiran.

Teman sayapun akhirnya pulang lebih dulu karena saudaranya sudah datang menjemput, menyisakan saya yang duduk sambil tengok kanan kiri mencari kedua orang tua saya. Sampai akhirnya Ibu saya menelfon dengan nada kesal karena tak kunjung menemukan keberadaan saya di tengah lautan manusia.

Disitu saya dimarahi oleh kedua orang tua. Saya tahu, mereka panik bukan main. Saya hilang di tempat yang belum pernah saya kunjungi. Singkatnya, saya akhirnya mau tes tentunya ditemani lagi oleh kedua orang tua dan Om dari keluarga Ibu (tapi sayang, beliau sudah meninggal pada bulan mei 2018).

Dengan semangat saya mengikuti tes lagi. Matematika dan Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran yang diujikan. Alhamdulilah, soal-soal yang diberikan tak terlalu sulit dijawab.

Ada sedikit hal konyol sewaktu tes. Jadi sebelum tes, saya mendaftar terlebih dahulu tepat di batas hari penutupan tes gelombang 2. Lagi, saya kebingungan memilih jurusan karena tak ada mata kuliah yang berbau IPA.

Pilihan jatuh di D3-Teknik Informatika sebagai pilihan pertama dan 2 jurusan lain sebagai pilihan ke-2 dan ke-3. Begitu tes, saya diminta menulis 3 prodi yang dipilih. Di situ saya bingung luar biasa. Saya hanya mengingat Teknik Informatika yang menjadi pilihan pertama dan 2 prodi lainnya tak berhasil saya ingat.

Sayapun bertanya kepada pengawas perihal saya yang lupa dengan prodi yang saya pilih dan hanya mengingat pilihan pertama. Pengawas tersebut bilang tak apa, yang penting pilihan pertamanya sama dengan yang ditulis saat mendaftar.

Tak lama pengumuman itu pun datang. Akhirnya saya lolos. Saya bisa kuliah. D3-Teknik Informatika. Yeah!!! Akhirnya saya bisa melihat binar bahagia yang terpancar dari kedua mata orang tua saya.

Akhirnya inilah saat yang ditunggu-tunggu. Saya bisa membahagiakan orang tua saya. Saya bisa kuliah.

Dari kisah dua tahun silam, merubah saya menjadi pribadi yang lebih dewasa. Banyak hikmah yang dapat saya petik. Bahwa dimanapun tempatmu menimba ilmu, sekalipun perguruan tinggi itu tak banyak orang tahu, tapi lewat perguruan itulah Tuhan sudah menyiapkan masa depan cerah untukmu.

Saya jadi berpikir apa jadinya saya jika saat itu saya lolos di perguruan tinggi negeri. Mungkin saya akan menjadi sosok yang sombong, merasa paling hebat. Tapi, sekarang saya tak pernah berhenti untuk bersyukur karena Tuhan sudah memilihkan jalan terbaik untuk saya.

Di Politeknik Pos, alhamdulillah-nya orang tua mampu membiayai. Mungkin jika di perguruan tinggi lain belum tentu orang tua sanggup membiayai kuliah saya dan belum tentu juga saya bisa kuliah jika saya tak lolos di Politeknik Pos. Dengan kuliah D3, saya bisa cepat bekerja dan bisa cepat mewujudkan cita-cita kedua orang tua. 

Memiliki rumah sendiri. Jadi, jangan pernah menyerah untuk meraih impian kalian. Berdoa dan berusaha merupakan kunci paling ampuh. Mintalah selalu pada Tuhan dan orang tua. Saya pernah membuktikannya, bahwa doa orang tua sangat ampuh. Karena, ridho orang tua ridho Tuhan juga.

Sesuatu yang ingin kita dapatkan haruslah ada perjuangan dan pengorbanan. Jika kau terjatuh berkali-kali, jangan lupa untuk bangkit lagi. Tuhan tak akan menguji umat-Nya melebihi batas kemampuan umat tersebut. Yakinlah Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untukmu, sekalipun jalan itu tak pernah engkau duga sebelumnya. Rencana Tuhan itu indah.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Sulitnya Meraih PTN""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel