Kisah Nyata "Tak Akan Ku Biarkan Nyawa Seseorang Melayang Lagi"

KisahTerbaik.Com- Namaku Ronald. Umur ku 20 tahun. Aku sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Berikut aku akan berbagi kisah mengenai pengalaman ku menjalankan tugas sebagai seorang relawan. Namun mohon maaf, aku tidak bisa menjelaskan secara rinci asal dan beberapa nama tempat serta nama orang-orang yang aku ceritakan dalam kisah ini. 

Berikut ini kisahku...

Menjadi seorang relawan di bidang kemanusiaan adalah sesuatu yang membanggakan. Membantu
sesama manusia yang sedang ditimpa bencana dan turut andil dalam meringankan penderitaan mereka.

Tidak ada tarif ataupun kenaikan pangkat yang diberikan atas jasa para relawan, cukup dengan ucapan rasa terimakasih dan senyuman bahagia dari para korban bencana sudah menjadi imbalan yang sangat berarti di hati bagi para relawan.

Menjadi orang yang bermanfaat terhadap orang lain, sesuatu itulah yang membanggakan bagi seorang relawan. Untuk itulah aku tergerak untuk bisa menjadi salah satunya, dan bergabung dalam anggota relawan di PMI (Palang Merah Indonesia).

Namun, bagiku tidak selamanya menjadi relawan adalah sesuatu hal yang selamanya selalu membanggakan ketika mampu menolong orang. Ya, justru sebaliknya, apa yang akan terjadi jika kita tidak mampu menyelamatkan seseorang tanpa bisa berbuat apa-apa dengan status kita sebagai “penolong” orang lain? Penyesalan dan duka yang sangat mendalam, itu lah yang aku rasakan ketika aku hanya bisa melihat orang lain tergeletak tanpa nadi dan nafas di hadapan ku, sedangkan aku tidak
mampu untuk melakukan apa-apa.

Berikut inilah kisah ku ketika tahun keduaku menjadi relawan dan kala itu sedang bertugas dalam giat pelayanan Ambulans di Kota X.

Hari itu, Hari Rabu, aku pertama kali menjalankan kewajiban KPP (Kegiatan Pasca Pelatihan) setelah selama 70 jam mengikuti pelatihan Spesialisasi Pertolongan Pertama yang diselenggarakan oleh PMI Cabang X. Aku Lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, aku masuk dalam 10 besar peringkat terbaik dalam hasil akhir penilaian, lebih tepatnya mendapatkan peringkat 6 dari 42 peserta.

Dari keseluruhan nilai yang telah direkap tersebut hanya sebatas nilai ujian tulis, praktek dan penilaian sikap, jadi belum termasuk penilaian ketika terjun yang sesungguhnya di Lapangan. Untuk itulah diadakan Kegiatan Pasca Pelatihan tersebut untuk menguji kompetensi kita sebagai relawan yang handal ketika bertugas di Lapangan atau masyarakat.

Aku sudah berada di Posko PMI Cabang X sebelum jam 2 siang. Aku tugas pada shift 2, yaitu mulai jam 2 siang hingga jam 10 malam. Aku mengenakan PDH (Pakaian Dinas Harian) berwarna putih dengan celana biru dongker. Di Posko sudah ada 2 orang yang nantinya bakal menjadi tim ku dalam giat pelayanan Ambulans, sebut saja namanya mas Yo dan mas Yus.

“Siang Mas”, sapa ku dan bersalaman dengan kedua orang tersebut.

Aku duduk di pojok ruangan kecil yang dijadikan sebagai posko untuk menerima informasi masuk dari CC (Command Center) melalui HT (Handy Talkie) perihal kejadian-kejadian yang membutuhkan bantuan PMI. CC adalah pusat penerima dan penyalur informasi dari segala elemen yang bertugas untuk menjaga ketertiban dan kelancaran yang ada di Kawasan S seperti PMI, LINMAS, DAMKAR, DISHUB, DINSOS, DINKES, PLN, SATPOL PP, dan lain-lain.

Semua elemen tersebut saling berkomunikasi melaporkan setiap apapun kejadian yang terjadi di Kota X, seperti kecelakaan, kebakaran, pohon tumbang, penemuan jenazah, dan kejadian-kejadian lainnya. Sistem ini disebut juga SPGDT, Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu. Dalam Sistem ini, PMI bersama dengan DINKES merupakan elemen yang bertugas dalam kejadian yang membutuhkan penanganan medis.

Rig HT terus saja sibuk berbunyi menyampaikan laporan dari berbagai elemen kepada CC, namun masih belum ada panggilan yang menginstruksikan kami untuk berangkat. Jantung ku dag dig dug berdetak dengan irama yang tak beraturan karena tak mampu menghadapi rasa grogi dan ketakutanku menanti adanya panggilan dari CC.

Memang ini bukanlah tugas yang pertama dalam giat pelayanan Ambulans di Posko PMI Cabang X, namun setiap kali mendapatkan tugas ini rasa grogi dan takut masih saja sering mendampingi ku untuk menanti laporan dari CC.

Seakan-akan rasa grogi dan takut ini membuat tugas dalam giat ini berasa seperti momok. Namun tekat kuat untuk bisa berbuat baik dan bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain tidak menyurutkan semangat ku untuk mengemban amanat ini.

“Posko PMI masuk”.

Deeggg….!!! Jantung ku semakin berdetak tidak karuan begitu mendengar panggilan dari CC di hari yang menginjak sore ini diiringi dengan berdirinya aku dari tempat duduk ku untuk bersiap-siap.

“Posko PMI diterima”, ucap mas Yo yang menerima panggilan CC melalui HT.
“Terjadi 33 (kecelakaan) di Jalan “A”, mohon respon 1 Ambulans ke TKP (Tempat Kejadian Perkara)”, jelas CC.
“86 (Siap diterima), 1 Ambulans segera meluncur ke Lokasi”, timpal mas Yo sambil berjalan ke arah
Ambulans yang sudah stand by di depan Posko.
“Ayo jangan lupa peralatan yang dibutuhkan dimasukkan semua ke Ambulans dan jangan sampai ada
yang tertinggal, jangan lupa juga cek dan siapkan tabung oksigen!”, perintah mas Yo sembari masuk
kedalam Ambulans.

Mas Yo adalah ketua tim dalam giat pelayanan Ambulans ini. Dia yang paling senior disini dan jam
terbang nya pun sudah sangat tinggi. Dia juga merupakan staf PMI bagian Pelayanan Sosial. Menurut ku mas Yo adalah orang yang profesional.

Dia tahu kapan waktunya serius untuk bekerja dan juga tahu kapan waktunya untuk bercanda guna melepas penat. Mas Yo juga tidak segan-segan bakal memarahi habis-habisan kepada anak-anak yang tidak benar dalam menjalankan tugas.

Hal tersebut selain sebagai pembelajaran bagi mereka yang salah termasuk untuk melatih mental, juga sebagai acuan untuk menjaga citra PMI agar tetap dinilai baik di mata masyarakat. Tapi itu hanya batas dalam lingkup jika ada kesalahan, tidak dibiarkan berlarut-larut diluar itu. Waktu itu aku belum terlalu akrab dengan mas Yo, jadinya aku agak canggung ketika berada di dekatnya.

“Mohon izin bertanya command center, untuk kronologi kejadian 33 bagaimana ya?”, tanya mas Yo melalui HT.
“Menurut laporan dari LINMAS diketahui korban jatuh dari sepeda, menurut keterangan dari saksi warga sekitar korban sedang menaiki sepeda pancal, lalu sebuah motor menyenggol nya hingga terjatuh, indetitas motor tidak diketahui karena kabur, sedangkan identitas korban seorang lansia pria
dengan umur 50-60 tahun.”, jelas CC dengan tenang dari balik HT.
“Untuk kondisi korban bagaimana ndan?”, tanya mas Yo sambil menerka kronologi bagaimana korban jatuh dan memprediksi luka yang kemungkinan terjadi.
“Menurut laporan korban masih sadar dan korban muntah darah, mohon untuk segera merapat ke lokasi secepatnya barangkali kondisi korban semakin kritis”, ucap CC yang sedikit khawatir.
“Siap siap 86, Ambulans sedang dalam perjalanan menuju ke Lokasi, mohon waktu ndan.”, timpal mas Yo.

Sirene Ambulans berbunyi begitu sangat kencang, membuat para pengendara yang ada di jalan sudah terbiasa memahami bahwa itu adalah mobil Ambulans dan segera untuk memberikan jalan supaya Ambulans bisa lewat.

Waktu itu aku duduk di dekat dragbar (tempat berbaring pasien di Ambulans). Disebelah ku ada mas Yus yang sedang mempersiapkan selang dan nasal kanul pada tabung oksigen. Di depan, ada mas Yo yang sedang fokus memperhatikan jalan sambil membunyikan klakson dan menginstruksikan kepada pengguna jalan untuk memberikan kami jalan supaya Ambulans bisa meluncur dengan mulus. Mobil Ambulans ini dikendarai oleh mas Ri yang berada di sebelah kanan mas Yo dan tampak lihai mengendalikan setir Ambulans tersebut.

Aku merasa sangat gugup sekali, tangan ku tidak bisa berhenti untuk terus bergetar. Apalagi setelah mendengar kalau korban mengalami muntah darah, badan ku terasa seperti masuk angin. Aku tidak takut darah, tapi memang aku adalah orang yang mudah grogi, apalagi melakukan sesuatu yang baru dan dilihat oleh orang banyak.

Akhirnya kami sampai di Lokasi. Disana sudah terdapat banyak warga yang berkerumun yang perlahan mulai agak renggang karena mobil Ambulans kami telah sampai di dekatnya. Beberapa dari kerumunan terdapat beberapa orang yang menggunakan pakaian hitam-hitam dan setelah aku perhatikan ternyata itu adalah orang-orang dari LINMAS.

Semua orang yang di Ambulans pun langsung sigap turun dengan sebelumnya sudah memakai APD (Alat Pelindung Diri), terkecuali aku yang masih merasa gemetaran dibangku ku. 15 detik aku masih terdiam dibangku ku mencoba menguatkan diri untuk membuka pintu Ambulans. Hingga tiba-tiba mas Yo menggebrak pintu belakang Ambulans “Braaakkk!!!”.

“Heh ayo turun jangan diam ae !”, kata mas Yo yang kelihatannya mulai marah.
“ii..iyaa.. mas, ini masih nunggu mobil yang lewat agak sepi biar bisa buka pintu”, timpal ku dari dalam yang mungkin tidak bisa didengar oleh mas Yo yang ada diluar sana. Posisi ambulance memang berada di pinggir jalan raya, disamping ambulans banyak kendaraan yang berlalu-lalang jadi harus berhati-hati ketika hendak membuka pintu.

Ya, itu hanya lah alibi ku untuk menutupi rasa takut ku untuk turun ikut membantu. Akhirnya aku pun
perlahan turun dan mendekat ke arah kerumunan. Perlahan aku melihat lebih dalam terdapat sesosok
pria tua yang tampak lemas sambil duduk dan tampak linglung. Tampak terdapat tumpahan darah di bawah kakinya. Sepertinya benar sesuai laporan dari CC kalau beliau habis muntah darah. Darah juga tampak di bawah bibir dan baju sebelah dadanya.

“Mbah, mbah, yang sakit sebelah mana?”, tanya mas Yo kepada bapak tersebut.

Bapak tersebut menjawab nya dengan suara pelan dan lirih, “sini”, sambil memegangi dada nya. Apa yang aku kerjakan? Ya, aku tidak melakukan apa-apa. Aku bingung dan gugup harus mengerjakan apa, sedangkan mas Yo dan lain sudah profesional apa yang harus dikerjakan. Akhirnya akupun melakukan suatu kegiatan yang paling mudah dalam giat ini, yaitu dokumentasi. Aku memotret dengan kamera HP ku mulai dari penanganan yang dilakukan mas Yo dkk, sampai sepeda yang digunakan oleh korban yang tampaknya hampir tidak ada bagian yang mengalami kerusakan.

Selang tak beberapa lama “ayo langsung kita segera evakuasi saja ke Rumah Sakit, kondisi korban
semakin lemah”, perintah mas Yo.

Mendengar adanya perintah evakuasi aku segera berinisiatif membantu. Aku buka pintu belakang
Ambulans, lalu aku ambil tandu.

“Ngapain kamu ambil itu? Masukkan lagi!”, gertak mas Yo kepada ku.

Setelah aku sadari ternyata aku salah ambil tandu, yang aku ambil adalah tandu spinal. Tandu yang
digunakan untuk mengevakuasi korban yang mengalami cidera spinal. Akhirnya setelah bapak tadi
sudah berada di Ambulans akhirnya kami pun segera meluncur ke Rumah Sakit.

Sirene pun kembali berbunyi memecah kesunyian hari yang sudah Nampak gelap. Di dalam mobil
Ambulans mas Yus sedang melakukan perawatan lanjut pada korban. Nampak mas Yus sedang
memasangkan alat bantu pernafasan pada korban. Aku duduk di sebelah mas Yus. Setelah itu mas Yus meminta ku untuk membantu memeriksa tekanan darah korban.

Aku pun dengan sigap mengambil tensimeter dan stetoskop yang ada di Tas Pertolongan Pertama. Aku cukup paham mengenai cara memeriksa tekanan darah dengan alat-alat ini, karena sebelumnya sudah terbiasa melakukan kegiatan cek kesehatan yang diselenggarakan di kampus. Tekanan darah bapak ini sangat sulit sekali kurasakan.

Ku lakukan beberapa kali lagi untuk memeriksa nya hingga lengan baju ku yang putih sedikit terkena darah bapak.

“Mas Yo, Arrest!”, teriak mas Yus kepada mas Yo setelah memeriksa oxymetry yang dijepitkan di jarinya.
“Segera lakukan RJP! Sini aku bantu juga”, Seru mas Yo yang setelah itu berpindah ke tempat kami
melalui sela-sela tempat duduk yang tak begitu lebar.

Arrest merupakan untuk istilah kondisi dimana detak jantung seseorang berhenti secara tiba-tiba
(Lengkapnya Cardiorespiratory Arrest). Untuk itu harus segera dilakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru) atau istilah umumnya CPR (Cardiopulmonary Resuscitation).

Mendengar korban yang mengalami henti jantung aku langsung kaget, ini pertama kalinya aku melihat orang berhenti jantungnya. Akupun terdiam seakan tak percaya dengan situasi seperti ini. Memang rasa gemetar ku hilang, tapi perasaan sedih dan gundah gulana mulai menyelimuti diriku. Aku melihat bapak itu tidak bergerak samasekali ketika mas Yus melakukan pijat jantung pada tubuhnya.

Mas Yus dan Mas Yo bergantian melakukan RJP pada si Bapak karena memang sangat melelahkan melakukan penanganan tersebut, ditambah dilakukan di dalam mobil yang dalam kondisi bergerak. Tentunya dibutuhkan keseimbangan juga supaya tidak terjatuh. Itulah tugas ku. Melihat ku yang baru pertama kali dalam situasi tersebut mas Yo hanya memberikan ku instruksi untuk memegangi nya supaya dia tidak terjatuh. Sengaja aku tidak disuruh untuk ikut membantu mungkin supaya tidak malah merepotkan mereka.

Padahal secara teori aku sangat memahami cara melakukan RJP tersebut. Bahkan di ujian praktek ketika Pelatihan Spesialisasi Pertolongan Pertama sebelumnya aku mendapatkan nilai yang sangat tinggi untuk materi ini, yaitu 98. Tapi nilai 98 ku seperti tidak ada gunanya ketika aku menjadi seseorang yang tidak berguna samasekali dalam situasi seperti ini. Kembali lagi gejolak timbul dalam hati ku. Sesal, sedih, kecewa hingga marah, itulah yang aku rasakan saat itu.

Akhirnya kami sampai juga di Rumah Sakit. Si Bapak beserta dragbar dikeluarkan dari Ambulans dan segera dibawa masuk ke ruang UGD. Kini si Bapak dalam penanganan oleh petugas Rumah Sakit. Aku beserta rekan-rekan menunggu di depan Rumah Sakit sambil menunggu hasil dari UGD.

Cukup lama kami menunggu hingga akhirnya berita yang tidak diinginkan itu pun disampaikan oleh Dokter. Ya, Bapak itu telah meninggal dunia. Bapak itu pun meninggalkan kehidupan nya pada pukul 9 malam. Aku merasa sangat shock mendengar kabar tersebut. Sungguh aku masih tidak percaya dengan apa yang aku alami saat ini. Aku sangat menyesal sekali karena tidak bisa menyelamatkan nyawa seseorang. Aku merasa menjadi orang yang benar-benar sangat tidak berguna.

Setelah semuanya selesai kami pun kembali ke Posko. Aku membantu membersihkan Ambulans, terutama pada bagian dragbar yang terdapat beberapa noda darah.

“Gimana le ikut giat tadi? Enak kan?”, tanya mas Yo kepada ku yang sedang membersihkan dragbar sambil tersenyum.
“Iya mas, tapi sayang orangnya tadi meninggal”, jawab ku dengan nampak penyesalan dari raut wajah ku.
“Tidak usah dipikirkan masalah itu le, mungkin itu sudah jadi takdir bapak itu, yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu nya. Beda cerita kalau kita membiarkan bapak itu meninggal tanpa melakukan tindakan apa-apa.”, jelas mas Yo yang sedikit menenangkan ku.
“Sering-sering banyak latihan dan di-refresh lagi materi Pertolongan Pertamanya Le. Juga sering-sering perbanyak ikut giat pelayanan Ambulans biar punya pengalaman yang lebih banyak. Semakin banyak pengalaman yang dilalui, akan semakin handal dan lebih mahir dalam melakukan pertolongan.”, Lanjut mas Yo memberikan nasehat.
“Siap mas!”, jawab ku dengan tegas.

Nasehat dari mas Yo sangat mengena sekali. Aku jadi semakin semangat dan termotivasi untuk semakin mahir dalam melakukan pertolongan pertama. Aku tak ingin membiarkan lagi nyawa orang lain melayang begitu saja di depan ku tanpa bisa berbuat apa-apa.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Tak Akan Ku Biarkan Nyawa Seseorang Melayang Lagi""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel