Kisah Nyata "Terombang-Ambing di Laut"

KisahTerbaik.Com- Stori yang berlatar belakang dari pengalaman nyata ini dituliskan oleh Mawariani dengan judul "Terombang-Ambing di Laut". Dalam cerita ini ia menuliskan sejumlah pengalaman yang sangat menarik untuk segenap pembaca sekalian.

Begini, Kisahnya...

Seminggu sampai sebulan belakangan banyak tragedi kapal yang terjadi mulai dari kapal tenggelam, karam hingga kebakaran kapal di bali. Hal ini mengingatkanku pada peristiwa tiga puluh tahun silam, perjalanan pertamaku ke Lombok dengan nenek menggunakan kapal.

Hari itu pertengahan bulan April 1988 diumurku yang ke delapan tahun aku dan nenek melakukan perjalanan ke Lombok yang merupakan kampung halamanku, aku sendiri merupakan anak trasmigrasi di daerah mangkutana Sulawesi-Selatan, perjalanan normal jika ditempuh dengan kapal memakan waktu dua hari itu harus kami tempuh selama sebulan.


Pagi yang cerah mengawali hari dengan penuh syukur dan rasa gembira menantikan perjalanan pertamaku, nenek sudah mengepak barang yang akan dibawa sebagai oleh-oleh ke kampung halaman, gula merah, pisang, dan beras ketan memenuhi kardus bekas mie instan itu, tak lupa aku berpamitan dengan ibu dan ayahku.

Dermaga pelabuhan Pare-pare sore ini terlihat cukup ramai banyak kapal nelayan yang bersandar, 

nek, kita naik kapal yang mana?” tanyaku penasaran.
sebentar nenek tanyakan” nenek berjalan ke salah satu laki-laki paruh baya yang ada di samping kapal.

Setelah berselang beberapa saat nenek kembali menyuruhku mengambil barang untuk kemudian dibawa ke kapal.

Kapal yang kami naiki bukanlah kapal besar seperti bayanganku hanya kapal pencari ikan kecil biasa, bau ikan yang tidak sedap dan ombak laut yang semakn kencang membuatku ketakutan. Pada tengah malam ada salah satu orang di kapal yang teriak bahwa sang pengemudi kapal meloncat kelaut meninggalkan kami, dikapal ini ada beberapa orang teman sekampungku ada pak Samat dan tuak Rahman.

Kapal terombang ambng dilaut tanpa pegemudi kepanikan melanda kami aku yang tidak bisa berenang ketakutan dan terus menangis, nenek berusaha untuk menenangkanku, ditambah air yang masuk ke beberapa bagian kapal membuat kapal ini semakin tenggelam, beberapa laki-laki yang ada di kapal mencoba untuk berenang mencari bantuan ke pelabuhan dan sebagian lagi mengikatkan tali di kapal yang kemudian ditarik menuju pelabuhan.

Malam yang sangat menegangkan, ternyata nelaya pengemudi kapal itu pergi untuk mencari bantuan karena kapalnya memang tidak bisa membawa kami ke Lombok. Setelah berbincang beberapa lama nenek menyuruhku berpindah ke salah satu kapal yang ada, tak ubahnya kapal yang sebelumnya kapal ini juga mestinnya tak layank untuk menangkut orang dengan jumlah sepuluh orang.

Perjalanan kami lanjutkan ombak selat Sulawesi yang ganas serta angin laut yang kencang membuatku mabuk laut, antara hidup dan mati kami  mempertaruhkan nyawa dalam perjalanan ini, tapi tak sampai di situ kapal yang kami tumpangi ini juga mengalami kebocoran hingga pada siang hari kapal nyaris tenggelam sang nahkoda kapal dan beberapa orang laki-kali menarik kapal menuju pulau terdekat.

Di pulau tanpa penghuni ini kami bertahan hidup dipagi hari akau membantu nenek untuk mencari kerang sebagai persediaan makanan, gula merah, pisang dan ketan yang kami bawa hancur oleh ombak laut yang ganas, disiang hari udara di pulau ini sangat panas dan dimalam hari sangat dingin hembusan angin dari laut menusuk hingga ke tulang hampir seminggu kami habiskan waktu di pulau ini sampai salah satu kapal besar melintas tidak jauh dari pulau.

Asap yang mengepul tinggi membuat kapal mendekat, setelah menjelaskan kondisi yang kami alami kapal itu akhirnya mau memberi kami tumpangan menuju Lombok, kapal ini besar banyak dek-dek kapal yang ditutupi dengan terpal.

Aku diberi tahu agar sembunnyi jika ada pemeriksaan, kapal ini merupakan kapal pengangkut barang yang berlayar hingga ke luar negri, di saat ada pemeriksaan kapal kami para penumpang gelap harus bersembunnyi di dek paling bawah, tak disangka kapal ini merupakan kapal pengangkut hewan dilindungi penyu laut, yang ukurannya sangat besar rencanannya penyu-penyu itu akan dikkirim ke luar daerah untuk dijadikan santapan atau hewan peliharaan.

Disaat kami mersembunyi bersama penyu aku berada di atas punggung penyu yang terus bergerak-gerak, aku suka penyu mereka lucu dan besar. Waktu yang kami lewati di dalam kapal ini tidak lama hanya sekitar tiga hari perjalanan, sesampainya di dermaga kami mengucapkan banyak terima kasih dan bersyukur kami telah tiba dengan selamat sampai tujuan walaupun banyak pengalaman dan peristiwa yang terjadi.

Menurut cerita yang akau dengar dari keluarga dan orang tua kami para penumpang gelap atau para pejuang dikapal ini telah digelarkan tahlilan dan dinyatakan meninggal karena bangkai kapal yang kami naiki sebelumnya hancur oleh ombak tapi siapa yang menyangka dari ini semua kami masih diberikan pertolongan oleh Allah SWT dan diberikan keselamatan.

Kisah ini masih sering aku ceritakan kepada anak-anakku hingga mereka tahu bahwa ibu mereka ini pernah dinyatakan meninggal dan dibacakan surat Yasin, hehehehe mungkin ini sebagai pengalaman yang tak terlupakan dalam hidupku, sebelumnya aku ingin memberitahu kalian bahwa namaku adalah Musnah yang berarti hilang, yang dimaksud adalah doa bahwa keburukan dalam diriku akan hilang dan yang tertinggal hanyalah kebaikan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Terombang-Ambing di Laut""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel