Kisah Nyata "Yang Baik Menurut Kita Belum Tentu Baik Bagi Tuhan"

KisahTerbaik.Com- Rangkaian stori ini dituliskan oleh Ajeng Illa dengan judul "Yang Baik Menurut Kita Belum Tentu Baik Bagi Tuhan". Dalam cerita ini ia menggunakan nama samaran akan tetapi kisah ini bener-bener terjadi dalam hidupnya.


Begini, Kisah Nyatanya...

Perkenalkan namaku Sarah. Saat ini aku sedang menempuh dunia perkuliahan dan duduk di semester empat. Mungkin jurusan yang aku pilih tidak banyak diminati orang yaitu Pendidikan Bahasa Indonesia.

Orang berpikir kita sudah bisa dan lancar berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Ternyata dugaan itu salah. Bahwa pembelajaran mengenai bahasa kita sehari-hari itu butuh penalaran yang lebih dalam.

Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya mengapa aku memilih Pendidikan Bahasa Indonesia ini? Karena aku tidak mau bertemu kembali dengan matematika atau apapun yang berhubungan dengan perhitungan. Lucu? Iya. Memang lucu karena itu menimbulkan trauma yang mendalam. Trauma yang berasal dari tiga tahun yang lalu.

Latar belakang sekolah putih abu-abuku adalah SMK dengan jurusan Kimia Analis.

Kemudian ketika detik-detik kelulusan, aku meminta restu kepada orangtua untuk melanjutkan di PTN, namun tidak direstui meskipun aku akan mengikuti pendaftaran beasiswa. Pikir mereka aku dengan latar belakang SMK yang semestinya bekerja bukan untuk berkuliah.

Sewaktu itu aku ingin bekerja di pabrik gula yang sudah pasti bagian laboratoriumnya. Sayangnya, pihak pabrik tidak membutuhkan karyawan baru dikarenakan perusahaan sedang dalam kondisi yang kurang baik. Putuslah harapanku untuk bekerja di sana. Dari situlah aku diizinkan untuk menimba ilmu kembali dengan syarat berkuliah di negeri.

Bagaimana dengan nasib pendaftaran PTN? Sudah ditutup. Rasanya hancur bukan kepalang. Ibuku berkata kembali, cari saja perguruan tinggi yang masih terikat dengan pemerintahan atau kedinasan. Saat itu sulit mencari perguruan yang tinggi yang diinginkan orangtua.

Aku pernah ditawari untuk bersekolah di POLBAN, ITN, UII, UNJANI. Aku menolaknya karena permasalahan keuangan yang besar untuk jurusan kimia analis atau teknik kimia. Satu teman yang sama-sama berjuang di SMK bernama Putri menyuruhku untuk segera mendaftarkan diri ke Politekhnik Akademik Kimia Analis Bogor.

Sempat dengar dari beberapa teman dan guru BK itu adalah perguruan tinggi yang masih kedinasan dengan biaya perkuliahan yang termurah di Indoneisa untuk jurusan kimia analis. Aku mendaftarakan diri pada tanggal 6 Mei dengan mempersiapkan berkas-berkasnya serba dadakan yang kemudian langsung dikirimkan ke Bogor. Berkasku diterima pada tanggal 7 Mei dan penutupan pendaftaran pada tanggal 8 Mei.

Dari SMK ku terdapat tiga orang pendaftar. Memang dasar rezeki, temanku yang bernama Nungki sudah mendaftarakan diri sejak bulan Januari namun dia tidak diterima. Tapi aku yang mendaftarkan diri di akhir pendaftaran yang mendapatkannya. Hanya aku seorang dari kabupatenku.

Akhirnya aku pergi ke Bogor dengan segala persiapan. Apa yang kudapat di sana begitu banyak. Kekeluargaan yang sama-sama bernasib sebagai perantau. Lingkungan kampus yang agamis yang membuatku sedikit demi sedikit untuk memperbaiki diri.

Rasanya menyenangkan sekali kuliah di Bogor. Tapi pada akhirnya aku terjurumus di Universitas Majalengka. Salah satu Universitas di kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Aku memutuskan keluar dari Poltek AKA Bogor dikarenakan penyakitku kambuh. Entah kenapa dulu sering sekali aku jatuh pingsan. Banyak diagnosa yang diberikan dokter, ada yang berkata bahwa aku sarafnya terjepit, kekurangan oksigen, anemia, maag dan yang terpenting aku tidak bisa stress. Di sana aku pingsan dan seminggu sekali aku dilarikan ke rumah sakit.

Salah satu dosenku berkata di tengah –tengah pembelajaran bahwa aku tidak pantas untuk berkuliah di Poltek AKA Bogor karena fisikku yang lemah. Sedih rasanya. Kekuranganku dibicarakan di depan semua teman-teman.

Dosen tersebut menyatakan bahwa orangtuaku gila membiarkan anaknya yang penyakitan bersekolah di situ. Rasanya hatiku hancur ketika orangtua kita dikatai gila. Tidak apa-apa jika dosen tersebut mencelaku namun aku tidak terima orangtuaku dikatakan seperti itu. Namun apa yang aku lakukan hanya bisa menangis dan mencoret-coret di bagian belakang buku.

Kala itu teman-temanku mencoba menguatkanku tapi apa daya, aku hanya ingin pulang. Memang ada benarnya juga bahwa aku tidak pantas bersekolah di sana dan aku memutuskan untuk keluar. Banyak pertimbangan yang aku pikirkan.

Aku sudah pernah melihat bahwa di semester tiga jadwal akan semakin padat dengan praktikum yang memakan waktu hingga malam hari. Kemudian aku berpikir bahwa aku tidak terlalu bisa dengan pelajaran kimia. Aku merasa bodoh di antara teman-teman yang lainnya. Dan terakhir, kasihan apabila melihat orangtuaku bolak-balik Majalengka-Bogor dalam waktu sehari demi melihat anaknya yang terbaring di rumah sakit.

Rasanya sakit sekali keluar dari perguruan tinggi yang sudah diimpikan. Melepas cita-cita. Melepas impian yang sudah terencana. Melepas masa depan yang menjanjikan. Melepas segalanya. Aku diyakinkan oleh teman-temanku terutama Dawati bahwa Poltek AKA Bogor adalah perguruan tinggi terbaik di Indonesia untuk bidang kimia anais. Dari 3.000 pendaftar hanya ada 300 yang diterima di perguruan tinggi tersebut, salah satunya aku dan Dawati untuk tahun 2015.

Tapi aku tetap pada pendirianku untuk keluar. Aku pulang ke Majalengka dengan entah apa rasanya. Aku harus memulai membangun kembali mimpi-mimpi baru. Selama satu tahun aku tidak melakukan apa-apa. Tidak berkuliah. Tidak bekerja. Aku pengangguran yang hanya bisa menulis. Kebetulan hobiku adalah menulis puisi yang mencoba menulis novel.

Selama satu tahun itu aku mencoba belajar menulis novel yang dikirimkan pula kepada penerbit ternama. Ya dengan hasil yang selalu ditolak tentunya. Kemudian orangtua menyuruhku kembali untuk berkuliah di Universitas Majalengka dengan apapun jurusannya terserah padaku. Aku memilih Pendidikan Bahasa Indonesia.

Dalam cita-citaku kali ini aku ingin mengabdikan diri sebagai guru namun di daerah-daerah yang tertinggal di Indonesia. Rasamnya menyenangkan bisa membalas jasa negara dengan menjadi guru di daerah terpencil, terluar, tertinggal.

Itu yang aku impikan saat ini. Negara ini sudah berbaik hati menyekolahkanku gratis selama 9 tahun dan saat ini aku yang membalas jasa negera.

Pulau Jawa sudah baik dengan segala fasilitasnya namun pulau-pulau lain masih ada saja anak-anak bersekolah dengan giatnya namun sekolah kekuranganm guru. Semoga saja cita-cita yang tak besar ini dapat terwujud.

Satu hal yang aku inginkan lagi adalah aku ingin menjadi novelis. Bahkan seorang guru yang tidak menulis akan merasa hampa, itu kata salah satu dosen yang aku kagumi. Beliau bernama Aji Septiaji, M.Pd.

Beliau seorang dosen di Universitas Majalengka yang juga sebagai penulis khusus buku bahan ajar seperti buku bahan ajar kurtilas untuk SMA/SMK. Dari hal yang aku lalui selama ini, bahwa apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Tuhan. Tapi apa yang menurut Tuhan baik pasti baiku ntuk hambaNya.

Aku belajar bahwa rezeki kita tidak akan pernah tertukar, mungkin rezekiku akan dibukakan dan dilancarakan ketika aku berkuliah UNMA. Dan aku belajar sabar dan ikhlas untuk menerima keadaan. Aku bersyukur dapat berkuliah di sini, aku dekat dengan semua keluargaku, mendapatkan dosen yang bisa diajak berdiskusi mengenai kepenulisan. Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengajarkan banyak hal.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata "Yang Baik Menurut Kita Belum Tentu Baik Bagi Tuhan""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel